Selasa, 31 Desember 2019

Catatan Akhir Desember


Catatan Akhir Desember



Di penghujung bulan ini, aku ingin mengucapkan selamat tinggal untukmu meski rasanya sangat berat. Untukmu yang sudah meninggalkanku begitu lama sampai pada akhirnya kamu sudah lupa untuk pulang. Aku akan mencoba membuka lembaran baru diawal tahun nanti. Semoga diawal tahun yang baru adalah tahun yang membuatku beruntung. Tahun dimana aku bisa berhasil untuk melupakan semua tentangmu. 

Jika saat itu kita masih bertekad untuk mempertahankan mungkin belum tentu kamu sebahagia sekarang. Jika memang ini adalah yang terbaik maka aku akan lakukan. Dengan adanya perpisahan, kamu pasti akan mendapatkan yang baru. Yang mungkin lebih tepat. Dan mungkin lebih bisa mengerti kamu. 

Hidup nyatanya baik-baik saja tanpa dirimu. Bahkan bisa menjadi lebih baik dari hal-hal yang pernah kujalani di masa lalu. Setelah hari-hari sedihku berlalu, hidup juga adalah perkara tentang merelakan. Merelakan sesuatu yang bukan milik kita lagi. Saat kamu memilih pergi, hampir separuh warasku terbawa lari olehmu. Aku berkali-kali berada di titik terburuk untuk urusan perasaan. 

Aku mengikhlaskannya dengan lapang dada. Kamu tahu, aku sudah melepaskan semua yang kamu inginkan. Aku tanpamu hanyalah manusia dengan impian besar, tetapi rentan patah hati. Biarlah semua berjalan pelan saat ini. Maafkan aku jika saat itu aku tidak bisa menjadi wanita terbaik untukmu. Aku hanya ingin kamu sedikit lebih mengerti. Tetapi kamu sudah menyerah disaat aku masih ingin mempertahankan. Jika kamu benar-benar memahamiku, kamu tidak akan melewatkanku. 

Kamu adalah sesuatu yang kubayangkan tentang bahagia. Tetapi kamu begitu keras. Di setiap moment kita memang tak banyak, waktu kita juga memang tak lama. Tapi tangisanku adalah semua tentangmu. Aku rindu, rindu sekali. Aku hanya bisa memendam. Hatiku yang tidak lagi mampu untuk mengungkapkan dalam kegelisahan yang bisu. 

Terkadang aku berpikir kamu tidak cukup serius waktu dulu untuk merasa diriku sedang diperjuangkan. Apa yang kamu perbuat hanya apa adanya. Seharusnya kamu memperlakukan aku seperti seseorang yang sedang dijaga dengan begitu eratnya. Bukan berarti aku menuntut lebih. 

Mungkin dengan jalan kita yang sekarang kita tidak sedang benar-benar berpisah, hanya saja dijauhkan sebentar. Diperbaiki oleh orang lain, belajar untuk jauh lebih dewasa, lalu dipertemukan lagi untuk memperbaiki apa yang sempat hilang kemarin. 

Aku akan menemukan cara dan kekuatan agar bisikan-bisikan hati yang selama ini gagal untuk aku wujudkan menjadi sebuah keputusan nyata bisa terealisasikan. 

Aku akan menemukan bantuan dan petunjuk untuk mampu membuat pilihan-pilihan yang berbeda dalam hidup, agar tidak mengulang pola-pola lampau yang melelahkan. 

Dan aku akan menemukan diriku berada dala situasi yang lebih baik tanpa dirimu. Kamu tahu ada saat dimana rindu tidak butuh bertemu dan saat dimana saling melepaskan tidak butuh saling mengabarkan. Selamat berjuang, sayang. 


Minggu, 29 Desember 2019

Pertemuan Dalam Mimpi


Pertemuan Dalam Mimpi 



Terkadang aku kembali memikirkanmu, hingga pada akhirnya terbawaku oleh mimpi itu. Dan kita dipertemukan kembali didalam mimpi. Aku tahu mimpi hanyalah bunga tidur, tetapi aku merasakan dari mimpi tersebut seperti kejadian yang nyata. Entah akan benar-benar terjadi atau tidak akupun tidak tahu. 

Setiap kali aku memikirkan tentangmu, hatiku terenyut. Setiap malam, kamu selalu melintas dipikiran yang sangat menggangguku. Tetapi memikirkan itu tidak bisa dipungkiri, hal ini pasti akan selalu terjadi setiap malamnya. Tidak jarang aku bermimpi. Yang awalnya hanya kepikiran tiba-tiba  sampai masuk ke dalam pikiranku begitu jauh. 

Di dalam mimpi itu aku merasakan sangat sedih, namun ketika aku bangun mimpi itu hilang dan aku sadar sedang tidak terjadi sekarang. Tetapi aku masih mengingatnya. 

Apa mungkin mimpi ini akan terjadi suatu hari nanti? Setiap kali aku bermimpi, mimpiku tidak pernah baik tentangmu. Yang akhirnya aku merasakan kepedihan didalam mimpi itu. Terkadang mimpiku juga tidak masuk akal. Dan herannya setiap aku bermimpi kamu pasti selalu bersama dengannya. Mimpiku ini tidak aku ceritakan ke siapapun. Aku kembali memikirkan apa yang sedang aku mimpikan. Aku berpikir keras apa makna dari mimpiku tersebut tetapi aku tidak menemukan jawabannya. 

Anehnya sewaktu kita masih berhubungan dulu aku tidak pernah sampai memikirkanmu hingga terbawa mimpi seperti ini. Semenjak hubungan kita berakhir, semua tentangmu hanyut didalam mimpiku. Aku merasa tidurku tak tenang, aku takut mimpi itu datang kembali. Apa yang harus aku lakukan? 

Aku selalu dihantui bayang-bayang dirimu setiap hari. Disaat aku lelahpun kamu masih tetap mengganggu pikiranku. Aku tidak memaksa untuk bisa melupakanmu begitu cepat, karena dengan memaksa justru akan teringat. Andaikan kamu yang berada diposisiku sekarang, apa yang mungkin bisa kamu lakukan? 

Aku ingin hidup tanpa memikirkan dirimu lagi walaupun hanya sedetik saja. Tapi nyatanya aku tak bisa. Sebenarnya ini sangat menyiksa, karena aku yang merasakan semuanya sendiri. Kamu selalu melintas dipikiranku, mengelilingi semua kegiatanku, dan disaat aku butuh istirahat pun seolah-olah kamu masih mengikutiku. 

Mau kamu apa? Apa mungkin kamu merasakan hal yang sama? Mungkin tidak. Atau aku yang terlalu memikirkanmu sampai terbawa mimpi? Sungguh tidaklah nyaman berada diposisiku sekarang.


Sabtu, 28 Desember 2019

Ingkar


Ingkar


Hari ini aku menyesal, aku pernah berjanji untuk tidak membuka daftar hitam mu di sosial media. Tetapi hari ini aku sudah ingkar, karena rasa ingin tahuku semakin hari semakin kuat dan akupun memutuskan untuk membuka daftar hitam itu. Aku hanya ingin sekedar tahu bagaimana kamu setelah aku pergi apakah baik-baik saja atau mungkin sama apa yang aku rasakan? 

Namun penyesalanku dimulai saat aku melihat postingan terbarumu yang nampaknya bahagia sekali dan baik-baik saja tanpaku. Bahkan kamu tidak seperti sedang kehilangan. Tidak sampai disini sesalku. Aku melihat wanita lain meninggalkan komentar dipostingan terbarumu itu. Dan kamu pun membalasnya. 

Aku tahu wanita yang meninggalkan komentar dipostinganmu itu adalah wanita yang sedang kamu dekati sekarang. 

Aku memutuskan untuk memblokirmu kembali. Semoga ini adalah yang pertama dan terakhir aku masih ingin membuka daftar hitam mu di sosial mediaku. Karena percuma saja, tidak akan merubah segalanya.    

Mungkin kamu tertawa-tawa saat aku memilih untuk memblokirmu, mungkin kamu berpikir ini adalah tindakan yang kekanak-kanakan dan tidak dewasa. Menurutku ini adalah hal yang tepat. Aku mengambil waktuku untuk aku yakin bahwa aku terbiasa tanpa update-anmu lagi. Aku berada ditahap penyembuhan, dan aku merasa aku tidak sedang kalah ataupun childish. 

Responmu pun tidak peduli. Ya wajar kamu tidak peduli, secara kamu sudah ada gantinya. Aku pun belajar untuk tidak peduli denganmu. Karena terlalu peka itu rumit. 


Rabu, 25 Desember 2019

Dan Akhirnya, Aku Mengerti!


Dan Akhirnya, Aku Mengerti! 



Seperti kata yang pernah aku katakan sebelumnya, bahwa kita bisa saja menasehati dan memberi saran kepada orang lain, tetapi belum tentu diri kita sendiri bisa melakukannya. Memberi saran yang sekiranya itu adalah jalan terbaik untuk mereka. Tetapi dari omongannya sendiri itu tidak dilakukan di dalam dirinya. Jatuhnya justru seperti kemakan omongannya sendiri. 

Sebagai contoh, ada yang menasehati seseorang dengan begitu bijak, karena setiap menjalani hubungan pasti akan ada masalah. Tidak selamanya menjalani hubungan itu akan lurus terus menerus, pasti akan ada lika-liku ujiannya. Dan kamu menasehati seseorang bila mempunyai masalah didalam hubungan  maka hal yang harus dilakukannya adalah akhiri permasalahan itu dan bukan mengakhiri hubungannya tersebut. Kamu bisa bilang begitu kepada orang lain. Tetapi tidak dengan dirimu. 

Mengapa kamu tidak bisa menjalankan perkataanmu didalam hubunganmu sendiri? Mengapa kamu harus mengakhiri hubungan dibandingkan kamu mengakhiri masalah yang ada? Perkataan yang telah kamu berikan ke orang lain tetapi tidak kamu tanamkan didalam hidupmu sendiri. 

Aku pun sadar, bahwa lelaki yang jauh umurnya lebih tua tidak menjaminkan lelaki itu akan dewasa. Yang kukira pola pikirmu lebih pintar sedikit dibanding aku yang selalu kamu bilang aku kekanakan, ternyata sama saja. 

Dua minggu sudah berlalu, yang aku kira kamu masih menenangkan dirimu sendiri setelah kita berpisah, memikirkan apa yang sudah terjadi. Tetapi aku salah. Aku salah sudah memikirkan tentangmu seperti itu. Kamu justru dengan cepatnya mencari yang lain dan kamu memakai cara yang sama seperti kamu mendekati aku waktu pertama kali. Atau ini adalah salah satu trik dari permainanmu? Akupun sudah mengetahuinya. Entah kamu mencari yang baru dengan waktu yang sangat cepat hanya untuk pelampiasan semata, atau memang dari dirimu ingin memilikinya benar-benar. Akupun tidak tahu. Aku tidak paham lagi dengan dirimu yang mengapa mudahnya menggantikan aku diposisi hatimu.  

Seketika hati dan pikiranku terbuka, bahwa kamu memang bukanlah yang terbaik. Harapanku pun kini musnah. Hilang seketika setelah aku mengetahui yang sebenarnya. Aku setelah berpisah denganmu mau mencari yang barupun aku tidak ingin. Tidak semudah yang kamu lakukan terhadapku. Kamu dengan mudahnya bisa melakukan itu. Aku tidak menyangka. Tetapi aku tidak mengapa. Itu hakmu. Aku hanya tidak paham apa sebenarnya yang ada dihatimu. Semudah itu melupakan dan semudah itu mengganti. Tidak ada lagi yang perlu aku tangisi, semua rasa sudah cukup. 

Perlahan rasaku semua memudar, dan akupun tidak berharap lagi kepadamu. Aku biarkan dirimu bahagia dengan pilihanmu yang baru. Jika kamu membaca tulisan ini, aku ingin mengatakan janganlah kamu mencari hanya dari fisik luarnya saja. Karena suatu hari nanti semua akan berubah. Cantik itu relatif. Jika kamu selalu melihat dari fisik seseorang, maka tidak akan ada habisnya. 

Seharusnya kamu lebih bersyukur apa yang sudah kamu miliki. Dan sudah seharusnya kamu menjaganya dengan baik. 


Senin, 23 Desember 2019

Terima Kasih

Terima Kasih



Pesan ini khusus untukmu, yang baru saja meninggalkan. Aku masih merasa kehilangan, aku masih merasakan kesedihan. Kamu tidak akan bilang bahwa kamu tahu apa yang aku rasakan. Hanya akulah yang mengalami yang benar-benar tahu seperti apa di hati  saat ini. Tapi walaupun begitu, aku ingin bilang ke kamu tidak ada yang perlu disesalkan. Karena setiap pertemuan adalah rencana Tuhan. Begitu juga dengan setiap perpisahan, ada banyak pembelajaran berharga di hidup ini. Termasuk kamu yang meninggalkanku pergi. 

Mungkin aku merasa sedih, merasa kehilangan, emosi, bahkan mungkin juga aku merasa sakit hati. Tapi menangisi atau menyesali semua juga percuma. Setiap hal di hidup ini ada waktunya. Ketika Tuhan mengizinkan kamu pergi semua yang terjadi memiliki makna dan hikmahnya sendiri. 

Di hidup ini akan ada orang yang datang silih berganti. Ada yang datang memberikan kita kenangan, ada yang datang dan memberikan kita kebahagiaan. Ada juga yang datang yang memberikan kita pembelajaran. Pembelajaran yang begitu berharga. Walaupun harus dibayar dengan air mata. Kadang aku memang harus kehilangan seseorang untuk bisa menemukan diriku yang sesungguhnya. Kepergianmu adalah jalan hidup untuk membuatku lebih dewasa. Dan kadang kepergianmu adalah cara Tuhan untuk membuatku lebih dekat dengan-Nya. 

Untuk aku yang ditinggalkan, aku percaya ada hal baik yang aku dapatkan dari kepergianmu. Aku sadar sering kali orang yang aku inginkan dihidupku belum tentu adalah orang yang tepat. Yang seharusnya ada di hidupku. 

Untuk aku yang saat ini menahan sakit karena ditinggalkan, aku percaya suatu saat nanti akan menemukan orang yang lebih tepat yang akan mengisi kekosongan ini. 

Untuk aku yang saat ini kecewa karena merasa disia-siakan, aku percaya suatu saat nanti aku akan menjadi yang paling berharga untuk kamu yang bisa menghargaiku. 

Tuhan menempatkan seseorang di dalam hidupku karena sebuah alasan. Dan ketika tuhan mengizinkan seseorang itu pergi dari hidupku itu karena ada alasan yang lebih baik. Aku tidak akan kecewa, tetapi aku mencoba ambil hikmahnya. Aku akan berhenti bersedih dan menghapus air mataku. 

Inilah saatnya aku berbenah menjadi lebih baik. Inilah saatnya aku memandang jauh ke depan. Aku akan bersabar, sakit yang aku rasakan ini tidak selamanya. Kepedihan ini hanya sebentar saja. 

Aku boleh terluka. Aku boleh kecewa. Tapi biarlah rasa percaya yang ada di diriku lebih besar daripada rasa kecewa yang aku rasakan. Percaya bahwa Tuhan tahu siapa yang lebih pantas untukku. Percaya bahwa Tuhan akan mempertemukan pasangan hidupku. Yang bisa menerimaku apa adanya. Yang bisa membawaku lebih dekat dengan-nya. Yang tidak hanya mendampingi di saat bahagia. Tapi juga disaat aku paling tidak berdaya. 

Jadi aku membiarkan kamu yang telah melukaiku pergi. Biarlah kamu yang menyakiti hatiku berada jauh dari hidupku. Dan aku akan tersenyum berterima kasih pada hidup ini. Karena inilah saatnya aku menata hati. Inilah saatnya untuk aku menjadi lebih baik lagi.    

Dan aku ingin berterima kasih kepadamu yang pernah berani mengambil keputusan untuk tetap tinggal meskipun pada akhirnya memilih pergi. Kamu pernah membuatku begitu memiliki rasa yakin untuk terpilih meski pada akhirnya terasingkan. Aku pernah merasa bangga memlikimu meskipun pada akhirnya aku menjadi seseorang yang disembunyikan. 

Aku ingin berterima kasih bahwa kamu adalah seseorang yang bisa membuatku tersadar bahwa siapapun bisa berpura-pura menjadi seseorang yang paling menginginkan. Kamu mampu memberi embusan surgawi meskipun pada akhirnya panas neraka yang terasa. 

Aku ingin berterima kasih kepadamu yang pernah memberi ruang meski pada akhirnya aku menjadi seseorang yang merasa terusir. Kamu seseorang yang sudah membuatku merasa jadi diri sendiri meskipun pada akhirnya kamu membuatku kehilangan diriku lagi. 

Aku ingin berterima kasih kepadamu yang pernah membuatku merasa menemukan rumah, meskipun pada akhirnya harus kembali membuatku kehilangan arah. Setiap jengkal langkah yang pernah kita lalui bersama, meskipun pada akhirnya kini aku harus melalui seorang diri. Aku pernah menjadi seseorang yang kamu sayang, meskipun pada akhirnya harus menjadi yang terbuang. 

Aku ingin berterima kasih kepadamu yang sangat dalam ucapan-ucapan baiknya selalu mampu memberi tenang, meskipun pada akhirnya hanya menjadi sesuatu yang senantiasa terbayang. Kamu seseorang dengan sepasang mata yang pernah mempercayai bahwa sebuah tatap tanpa berucap mampu membuatku tenang, meskipun pada akhirnya hanya aku seorang yang harus menatap langkahmu yang kian jauh. 

Aku ingin berterima kasih kepadamu dengan sepasang kaki yang pernah membantuku menuntunku untuk menjadi manusia yang lebih berani, meskipun pada akhirnya kini harus aku sendiri yang mengarungi perjalanan tanpa ditemani. Kamu seseorang yang pernah meyakinkanku bahwa kita akan berakhir selamanya, meskipun pada akhirnya aku harus mencari kebenaran dimana letak hatimu ketika mengucapkannya. 

Aku ingin berterima kasih kepadamu yang pernah membuatku mengerti bahwa makan dipinggiran jalan itu sangat bahagia, meskipun pada akhirnya aku harus menikmatinya lagi tanpa pernah mampu berdua. 

Aku ingin berterima kasih kepadamu karena kebersamaan yang membuatku merasa ditopang, meskipun pada akhirnya harus membuatku akrab dengan rasa timpang. Kamu sudah mampu memberiku segenap rasa memiliki, meskipun pada akhirnya guratan luka harus tercipta oleh sebab langkah kaki yang pergi. 

Sekarang aku ingin berterima kasih kepada semua hal yang pada akhirnya berhasil aku lihat dengana mata kepalaku sendiri. Yang pada akhirnya berhasil aku dengar dengan menggunakan sepasang telingaku. Dan pada akhirnya, bisa membuat semua luruh. Semua hanya perihal bahwa segalanya harus berakhir dengan kenyataan yang terjadi tanpa pernah diduga-duga. 

Tetap mencoba untuk mencari hal baik pada ketidakbaikan yang jelas-jelas sudah ditampakkan, nyatanya membuat diri sendiri menjadi seseorang yang paling bodoh. Yang pada awalnya datang dengan membawa segenggam keyakinan bahwa semua hanya perihal proses yang harus dilewati untuk akhirnya mampu membersamai hidup. Ternyata, semesta yang membuat seseorang lainnya menjadi redup. 

Minggu, 22 Desember 2019

Pergi Adalah Hal Ternyaman Bagimu


Pergi Adalah Hal Ternyaman Bagimu 



“Nyaman”. Kata yang sangat banyak mempunyai arti dan makna. Entah kamu nyaman dengan seseorang, atau kamu nyaman dengan dirimu sendiri. Aku tidak tahu posisi mana yang sedang kamu rasakan sekarang. Aku hanya bisa menerka-nerka  keadaanmu. 

Hatiku berkata mungkin kamu sudah nyaman dengan seseorang, tapi entahlah. Semenjak tidak bersamaku hidupmu penuh bersama teman-temanmu dan pastinya kamu senang. Mungkin itu salah satu cara agar kamu bisa melupakanku. Akan tetapi, pernahkah aku masih melintas dipikiranmu? Semenjak kami memutuskan hubungan, kami menjadi lost contact setelahnya. Dan hanya menjadi sebatas viewers story saja. Sangat menyakitkan. 

Aku sedang mencari kenyamananku tanpa dirimu lagi, aku sedang belajar menerima kenyataan. Aku tidak nyaman dengan posisiku seperti ini. Kamu bahagia tidak apa-apa. Karena kita sudah menjalani hidup masing-masing. Kini kamu tidak lagi menjadi bagian apapun dari diriku. Selain kenangan sedih yang barangkali kutulis jadi buku. Atau kubiarkan berlalu bersama terbunuhnya rindu.  

Aku pernah berpikir, kamu memilih meninggalkanku disini atau karena memang kamu sudah tidak mendapatkan kenyamanan dariku selama kita menjalani hubungan. Yang akhirnya kamu memutuskan untuk pergi dan kamu mencari kenyamanan yang baru. Kamu mencari kenyamanan yang baru dengan orang yang baru juga, yang sebelumnya tidak pernah kamu dapatkan. Jika memang pikiranku itu benar, kenapa kamu tega memilih begitu?  

Kamu sudah mengakhirinya sejak saat itu, kita sudah sepakat untuk tak saling menyapa dan saling melupakan. Seperti itulah yang kamu mau. Dan maaf saat ini aku tak ingin peduli walau dirimu pernah menjadi lelaki yang ku sayang.  Jangan pura-pura lupa dengan apa yang kamu katakan saat itu. Aku hanya menuruti semua perkataan dan permintaan yang kamu mau. Jadi jangan paksa aku suatu hari nanti untuk mengingatnya kembali tentangmu. 
Karena aku bukan lagi tempat ternyaman untukmu.  


Melupakan


Melupakan


Kunci melupakan yaitu dengan niat. Apapun itu alasannya. Tetapi aku merasa sangat sulit untuk melupakan. Ada apa dengan diriku? Atau karena dari lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya masih ada harapan? Mungkin masih bisa balik lagi. Karena harapan itulah yang membuatku susah untuk move on. Aku selalu berharap, berharap, dan terus berharap.  

Tujuannya hanya niat. Karena aku tahu bukan kamu, kalau aku benar-benar melepaskan dan merelakan aku akan berhenti berharap sedikitpun. Karena dengan aku tidak berharap lagi mungkin aku bisa bergerak untuk melupakanmu. 

Aku tidak bisa berdiam diri memikirkan. Aku harus bergerak dan beraktivitas, melakukan hal-hal kebiasaan baru yang tidak ada hubungannya denganmu. Bertemu dengan orang-orang lain, lakukan hal-hal yang positif. Intinya aku harus bergerak yang diawali dengan niat. 

Aku akan mengambil hikmah dari ini semua saat kamu meninggalkan. Aku melihat dari kacamata yang positif. Bahwa tidak ada orang di dunia ini yang mau patah hati, tidak ada orang yang mau terluka. Tapi kadang, ketika aku ditinggal pergi mungkin itu adalah waktu untukku agar bisa mengenal dan mengetahui siapa diriku sebenarnya. Siapa sebenarnya yang aku mau, kriteria seperti apa, karena kadang orang yang kita mau dan kita butuhkan berbeda. Dan kita sendiri tidak tahu orang seperti apa yang kita butuhkan dalam hidup.  

Ketika aku ditinggalkan, mungkin itu juga waktunya untukku agar bisa lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Ketika aku ditinggalkan mungkin disitulah aku akan berproses untuk bisa lebih menghargai orang yang baik datang dalam hidupku. Dan bagaimana aku menyikapinya. 

“Ketika tuhan mengizinkan seseorang itu pergi dari hidupmu, jangan kecewa tapi coba ambil hikmahnya.” Karena sama, ketika tuhan mengizinkan orang tersebut datang dalam hidupmu dengan sebuah alasan, Tuhan juga mengizinkan orang itu pergi dari hidupmu karena juga sebuah alasan.   


Untuk Diriku Yang Kamu Tinggalkan


Untuk Diriku Yang Kamu Tinggalkan


Haruskah yang pergi aku perjuangkan atau justru aku harus merelakannya? Hal ini membuatku menjadi dilema. Dan parahnya ketika sakit hati itu dirasakan. Apa yang seharusnya bisa aku lakukan? Aku sedih, dan aku kecewa. Ini adalah hal yang wajar dialami setiap manusia. Kamu tahu luka secara fisik karena terjatuh atau terkena pisau? Sesuatu yang bisa dilihat, karena itu adalah luka luar yang kita bisa melihat proses penyembuhannya. Yang akan perlahan membaik. 

Di dalam hati jika disakiti luka itu juga ada, dan prosesnya juga sama. Hanya bedanya kalo luka diluar kita bisa melihat penyembuhannya. Kalau di dalam apakah kamu bisa melihat penyembuhannya seperti apa? 

 Cara yang kujalani yang menurutku tepat adalah aku harus mengeluarkan semua hal supaya aku sendiri bisa melihat proses penyembuhannya seperti apa. Salah satu caraku yaitu dengan menulis. Ketika sakit hati aku merasakan semua campur aduk, ada rasa kesal, sedih. Tapi hal yang harus aku lakukan adalah jangan biarkan semua itu bergerumbul didalam, aku mencoba keluarkan lewat tulisan ini. Aku menggambarkan diriku dalam sebuah tulisan. 

Ada hal lain yang bisa aku lakukan, dengan berbaik sangka dan memohon kepada-Nya. Aku harus berbaik sangka walaupun aku dalam keadaan terpuruk. Aku harus berpikir pasti ada hal yang baik dari semua ini. Walaupun tidak mudah, tetapi pasti Tuhan akan mengirimkan yang lebih tepat dari kamu. Walaupun sekarang belum ada, aku akan berbaik sangka terlebih dahulu dan memohon. 

Kamu tahu ketika doa seseorang yang sedang patah hati akan selalu di dengarkan oleh Tuhan. 

Ada seseorang bilang “Ditinggalkan bukan berarti kehilangan. Mungkin saja yang terbaik tengah Tuhan persiapkan.” Dari perkataan itu aku bisa memahami bahwa aku harus berbaik sangka dan terus memohon. Aku harus yakin yang terbaik pasti akan datang lebih baik lagi. 

Apakah aku harus mengkarantina hatiku? Dengan cara blok sosial mediamu, unfollow dan delete contactmu. Mungkin ini cara yang ekstrim, tapi hatiku layak untuk itu. Karena selama aku masih follow sosial mediamu akan ada timeline muncul yang pastinya akan kebaca, kepikiran, dan merasakan akan sesuatu. Aku ingin benar-benar serius untuk melupakanmu. Karantina untuk sementara dan aku mempunyai alasan, karena aku butuh proses penyembuhan. Mungkin berat untuk dilakukan.  



Sabtu, 21 Desember 2019

Bila Aku Bukan Rumahmu, Masihkah Kita Satu Arah?


Bila Aku Bukan Rumahmu, Masihkah Kita Satu Arah? 



“Pulang adalah menjadi kata ternyaman setelah perjalanan panjang.” Ini katamu. Aku mulai paham sekarang. Bahwa aku bukanlah rumahmu lagi.  Mungkin kamu sudah mendapatkan rumah baru yang lebih nyaman. Ibaratnya aku sekarang adalah rumah gubuk yang sangat buruk yang kamu tinggalkan ketika kamu sudah berhasil mendapatkan rumah baru yang begitu mewah. 

Kamu meninggalkan rumah gubuk ini seperti kamu tidak pernah menempati sebelumnya. Ingat dulu jika kamu bersedih, kamu sakit, semua keluh kesahmu kamu ceritakan di rumah ini yang bisa menerima kekuranganmu semuanya.  

Bila aku ini bukan rumahmu lagi, masihkah kita satu arah? 

Tanpamu rumah ini akan tetap kokoh berdiri walaupun tidak berpenghuni. Dan suatu hari nanti akan ada orang yang merawatnya kembali. Dirawat dengan orang yang menyanyanginya sepenuh hati, tulus, dan berjanji tidak akan meninggalkan dalam keadaan apapun. Rumah ini akan sangat hangat jika berpenghuni, namun akan sangat dingin jika tidak ada orang didalamnya. 

Kamu adalah tuan rumahku. Tetapi kamu memilih pergi. Aku disini masih mencoba menutup rapat pintu agar tidak ada seorangpun yang bisa masuk dan menggantikan dirimu. Aku masih menunggu, tetapi jika ada seseorang yang berhasil masuk ke dalam akupun tidak bisa lagi untuk menahannya.  Aku masih bisa menjadi rumahmu sampai kapanpun kamu mau. Walaupun hanya bersinggah. Pintu rumah ini akan terus terbuka lebar jika kamu ingin datang. Luapkan semua keluh kesahmu yang mungkin di rumah barumu tidak lagi membuatmu nyaman. 

Walaupun aku sedikit rapuh, aku masih bisa mendengarkan dan menjadi pundak untukmu bersandar. Aku tidak mengharapkanmu kembali, aku hanya ingin jika kamu butuh atau kamu sedang dihadapi dalam kesulitan, akulah orang pertama yang kamu ingat. Aku akan selalu ada, aku yang akan membantumu. Jika memang rumah barumu itu sangat nyaman, jangan pernah kamu tinggalkan seperti kamu meninggalkan rumahmu sebelumnya. Atau mungkin rumah barumu akan bernasib sama sepertiku. Kamu pulang dengan sangat nyaman, mungkin ini memang kemauanmu,. Tetapi aku disini masih menunggu kehadiranmu untuk pulang kembali. Banyak hal yang ingin aku ceritakan. Aku hanya ingin meluapkan semua kepadamu seperti biasanya. Seandainya kamu masih disini, aku masih menjadi rumahmu untuk pulang. Tapi sayangnya tujuanmu sudah beda, arah kita sudah tak sama. 

Lanjutkanlah hidupmu tanpa aku. Kamu yang menginginkan melepaskanku. Bahagialah dengan pilihanmu nantinya. Hidup akan terus berlanjut. Dan aku sudah mengikhlaskan kamu. Aku akan tetap menemukan jalan baru. Melanjutkan petualang dengan seseorang yang kelak tinggal bersama dijiwaku, yang tak akan pergi. Jika suatu hari nanti takdir mempertemukan kita lagi, Belajarlah menerima bahwa kamu tidak lagi seseorang yang ada di hati.  


Jumat, 20 Desember 2019

Jika Kita Bertemu


Jika Kita Bertemu




Kamu adalah seseorang yang membawa diriku pergi. Semoga kamu bahagia dengan segala hal yang sudah kamu buat luka. Semoga langkah baik selalu menyertaimu. Jika nanti, semesta mempertemukan kita lagi segeralah menghindar, sebab bagiku kamu tidak lagi sesuatu yang menarik meski rindu tak sepenuhnya memudar. 

Jika kita bertemu, berpura-puralah tidak pernah saling melengkapi. Berpura-puralah tidak saling mengenal sebelumnya. Sebab setelah kepergianmu, luka dihatiku masih terasa lengkap. Aku pernah begitu sabar berjuang sepenuh hati. Aku takut kehilangan diriku begitu lama. Aku takut menjadi asing dengan hal-hal yang kupunya. Akulah orang yang sangat rapuh saat kehilanganmu. Mengapa kamu membawa diriku pergi begitu jauh lalu meninggalkanku begitu saja. Kini aku butuh waktu yang lama untuk melupakan dan menyembuhkan. 

Pernahkah kamu belajar memahami? Bahwa melupakanmu adalah jalan berlubang yang harus kutempuh sendiri. Aku harus melangkah pelan-pelan agar tak jatuh dan tetap bisa sampai ke tujuan. Itulah alasanku tidak ingin lagi bertatapan denganmu di hari depan. Aku takut, aku jatuh lagi pada lubang yang sama, dengan luka yang sama. 

Aku butuh waktu untuk pulih, waktu yang panjang untuk kembali. Tetaplah menjauh agar hidupku bisa kujalani dengan seharusnya lagi. 

Aku menyadari satu hal yang bukan untukku, sekeras apapun kupaksakan, tetap saja tidak akan menjadi milikku. Yang kuperjuangkan sekuat usahaku, jika kamu tak memperjuangkan aku sepenuh hati, tetap saja kita akan berlalu. 

Hidup terlalu pendek untuk dihabiskan dengan kesedihan berkepanjangan. Aku belajar menerima diri bahwa aku memang bukan orang yang kamu inginkan. Kelak, suatu hari nanti kamu juga harus belajar menyadari. Bahwa kamu sudah kulupakan dan bukan orang yang penting di kemudian.
Aku pernah bilang, aku tidak ingin melihatmu lagi. Alasanku sudah jelas bukan? Apa kamu mengerti? 

Dan katanya, manusia itu pintar bersandiwara menyembunyikan perasaannya. Lalu sandiwara apa yang kamu buat hingga aku tidak melihat dirimu sedih atau menyesal karena sudah meninggalkan? Kamu terlihat bahagia sekali. Seolah-olah seperti tidak ada beban menyedihkan dan penyesalan dalam hidupmu. Hebat ya, kalau begitu ajarkan aku supaya aku bisa bersandiwara sepertimu. 

Semoga kelak, kamu tidak merasakan hal yang sama sepertiku dikemudian hari. Di setiap langkah pergimu kukirimkan doa agar dibenamkan rindu. Kelak, saat semua terasa sudah biasa. Semoga rindu tidak membuatmu menjadi gila. Cukup merenungkan saja apa yang telah kutinggalkan untuk mengejar sesuatu yang kamu sebut bahagia. 

Tanamlah apa yang ingin kamu tuai nanti. Aku belajar melepasmu pergi dari hari ke hari. Hingga suatu saat nanti, kusadari tidak ada gunanya menyertakan dirimu dihidupku lagi.



Kamis, 19 Desember 2019

Antara Rindu dan Waktu

Antara Rindu dan Waktu



Seiring jalannya waktu, nampaknya aku sudah bisa lupa dan terbiasa tanpa dirinya. Sakit ini mungkin akan segera pulih, tapi aku tidak tahu kapan waktunya. Aku selalu mencari kesibukkan agar diriku tidak mengingatnya lagi, sampai aku benar-benar bisa melupakan. Perlahan aku berhasil tidak begitu rapuh seperti dulu. Lalu apa kabar dengan rindu? Rindu ini kadang datangnya tidak tepat waktu. Sejujurnya aku tidak ingin merindukannya, tapi yang namanya rindu tidak bisa dicegah yang terkadang rasanya tak tertahankan. Datang secara tiba-tiba. 

Jika dulu aku rindu masih bisa bertemu, tapi sekarang? Aku hanya bisa menahannya sendirian. Karena waktu kita sudah beda. Rinduku dulu tidak begitu berat, karena pastinya kita akan segera bertemu. Tapi sekarang? Rindu ini terasa berat karena aku harus menahannya. 

Waktu sudah memisahkan kita hingga pada akhirnya kita sudah tidak memiliki hubungan lagi. Menjalani hidup masing-masing itu sudah menjadi pilihan. Aku tidak pernah menyesal apapun hal yang sudah terjadi. Dari semua ini, dibaliknya pasti ada hikmahnya. 

Melupakan seseorang tidak semudah kita membalikan telapak tangan, semua pasti butuh proses dan waktu yang akan menjawabnya. Mungkin dari mulut kita bisa berkata mudah untuk melupakan, tetapi sebenarnya hati berkata tidak. 

Aku sedih, karena sekarang setiap rinduku tidak bisa tersampaikan, Aku memilih diam, merenung, dan terkadang aku mengingatnya kembali. Aku membayangkan waktu bersamanya dulu, yang mungkin tidak bisa terulang kembali

Senin, 16 Desember 2019

Desember dan Lukanya


Desember dan Lukanya 



Bersama ini, tahun akan segera berganti, yang berlarut-larut akan segera surut. Dan yang menunggu mungkin akan segera bertemu. Lalu apa kabar dengan luka? Banyak banget yang sudah berubah, dari aku yang ingin menjadi seseorang sampai seseorang yang ingin menjadi aku. 

Terkadang bingung dengan pikiran orang lain, aku ingin menjadi kamu, tapi seorang kamu juga pasti punya luka. Kita tidak bisa melihatnya hanya dari sisi nyamannya saja, sejauh ini kita beda. Seorang aku tadi bukanlah kamu, aku bisa mengambil mimpinya sendiri tanpa harus menjadi kamu. 

Kita memang sedang berlari, namun lintasan kita berbeda. Kisah dan dongeng kita juga tidak sama. Aku yang sejatinya berpura-pura tegar juga akan luruh suatu hari nanti. Dengan luka yang ku bangun sendiri. Diam terus menerus hanya akan memakanku dan waktuku saja. Aku akan pergi, dan ternyata dunia tidak terlalu buruk yang aku bayangkan. Hanya saja kadang lelah, rindu, dan rapuh datangnya tidak tepat waktu. 

Aku tahu tahun ini semuanya luruh, aku tahu betapa payahnya diriku tahun ini. Aku tidak begitu tegar ternyata. Aku tidak begitu konsisten, tapi aku butuh hidup yang layak. Sama seperti hal-hal indah yang dibayangkan setiap pemimpi. Aku pun punya mimpi, meski kadang mimpinya tidak beraturan, yang akhirnya malah menyakitkan. 

Bodohnya aku, baru mencoba lalu pulang kembali. Setiap jalan pasti akan ada lubang. Setiap perjuangan  pasti akan selalu ada luka bahkan duka. Atau yang lebih menyakitkan lagi. Mereka yang sudah besar juga pernah memulai dengan luka yang berdarah-darah. Tidak mudah memang menjadi manusia. Jiwaku besar dan hariku masih jauh ke depan. Lalu mau sampai disini saja? Desember sudah datang, sebentar lagi tahun ini akan pergi. 

Untuk aku yang mudah mengenang, kini ku lepaskan. Untuk aku yang mudah menggenang, aku akan menangis. Karena mungkin belum memberikan yang terbaik. Aku tahu, diriku butuh aku yang abadi. Tidak goyah dan tidak mudah patah. Yang perannya selalu dinanti manusia esok hari. 

Kadang terasa indah jika kita tersenyum, meski luka belum kering tapi hati akan bilang tenang tidak harus hari ini juga kok. Aku harus bisa melupakan hal yang menyakitkan. Kasian kalau mereka hanya tahu dukaku saja. Perlahan harus tenang, agar pulangku akan nyaman. Aku akan mencoba melupakanmu meski setiap kali kalimat itu kukatakan ada bahagia yang hilang dari dadaku. Kamu benar-benar bisa membuat semua yang awalnya baik-baik saja pada akhirnya kamu membuat semuanya hancur remuk tak terkira. Aku tahu bahagia itu pilihan, meski sebenarnya tak ada yang benar bisa dipilih oleh manusia. Dan kepergianmu membuatku merasa benar bahwa tak ada yang benar-benar setia di dunia ini. 

Kini kamu diam disana. Ditempat baru yang membuatmu bahagia. Tetaplah begitu selamanya. Jika memang lukaku pun bukan lagi hal yang kamu cemaskan. Jalan baru yang kamu pilih akan membenamkan aku dengan rasa sedih. Dendam dan doaku akan mengejarmu kemanapun kamu pergi.
Terimakasih Desember, begitu banyak rintangan yang sudah aku lewati. 


Minggu, 15 Desember 2019

Akhirnya, Aku Harus Mengerti! Part 2


Akhirnya, Aku Harus Mengerti! Part 2 




Malam itu, setelah Fadli memutuskan hubungannya denganku, aku punya satu permintaan dan Fadli bersedia memenuhinya. Permintaanku tidak macam-macam, aku hanya ingin makan dan bersua dengannya untuk yang terakhir kali. Sederhana, bukan? 

Kemudian kami pergi ketempat pertama kali makan bersama. Aku yang memutuskan untuk mengulang waktu, dan ditempat itu juga sekarang kami harus berpisah. Aku janji itu adalah yang terakhir kalinya. Aku sakit. Bahkan kebersamaan yang hanya sebentar itu rasanya sangat berat. Aku tidak punya keberanian untuk menatap wajahnya lebih lama.  

Aku sadar, waktu itu terbilang nekat. Mata ku sangat sembab karena menangis. Menjadi sebuah alasan pula untuk tidak menghadiri mata kuliah dalam satu hari penuh. Aku sangat lemah. Tapi Fadli selalu bilang bahwa aku ini adalah wanita yang kuat. Saat bersamanya kemarin, aku sempat bertanya, “Ini serius putus?”, lalu Fadli menjawab dengan anteng yang sekaligus membuat jantungku sekali lagi berdenyut, katanya, “Iya serius”. Aku dibungkam kenyataan. Kemudian Fadli ikut bertanya, “Ada hal lain?” tapi tentu aku harus menjawab tidak. Sampai disini sudah cukup. 

Setelah menyelesaikan kegiatan makan dan mengantarkanku pulang pun tidak ada lagi yang Fadli bicarakan. Aku mencoba tegar karena Fadli suka mengingatkan bahwa aku haruslah menjaga diri dengan baik dan tidak melakukan hal-hal aneh. Tapi, aku tetaplah aku yang tidak mendengarkan kata-kata orang. Esok harinya, aku memulai hari baru dimana tanpa kehadirannya belum biasa. Aku tidak tahu kabar Fadli sekarang. Fadli sedang melakukan apa, dimana, dengan siapa aku tidak lagi tahu menahu. Aku tidak berniat mencari. 

Mungkinkah Fadli merasakan hal yang sama? Aku harus terbiasa dengan keadaanku sekarang, aku akan kembali menata diri. Aku ingin mencoba menahan asa, niat ingin menghapus semua tentangnya dan lupa. Tapi Fadli berpesan bahwa dia tidak setuju jika aku benar-benar menekan tombol blokir sosial media dan memutuskan tali persaudaraan. Fadli ingin berteman denganku walau hubungan kami telah berakhir. Ya, aku tahu kami memutuskan hubungan dengan cara yang baik, namun itu buruk bagiku. Aku tidak sedang baik-baik saja. Aku kecewa dengan diriku sendiri. Apa mungkin Fadli muak dengan semua sikapku? Tapi, untuk kesekian kalinya aku tidak bisa menyalahkan diriku sendiri karena menjalankan sebuah hubungan tentu tidak berjuang sendirian. 

Aku sedikit puas setidaknya tak lagi ada yang di khawatirkan setelah ini. Dan sepertinya Fadli sangat takut seandainya aku berbuat hal buruk. Aku bertanya dalam senyap kenapa dia masih saja bisa peduli? Bukannya hubungan itu sudah berakhir? Sesekali Fadli masih berkomentar di media sosialku. Aku hanya membalas sepatah kata, dan terkadang aku hanya membacanya. Aku ingin terlihat biasa saja saat Fadli menghubungiku walau sebenarnya merasa kesepian. Temanku adalah satu-satunya pendengar yang baik ketika ku bilang sangat ingin melupakan semua kisahnya. 

Aku tidak ingin terlihat kacau karena itu akan menjadi boomerang untuk diriku sendiri. Mungkin sesekali saja boleh bersedih. Tuhan lah maha pendengar yang baik. Aku tahu itu. Aku lihat Fadli biasa saja setelah semuanya berakhir, tidak merasa sedih sekalipun, ia justru asik dengan teman-temannya. Mungkin ia juga sudah mendapatkan yang baru. 

Dulu aku akan sangat senang ketika pergi dan harus melewati rumahnya, padahal aku tahu Fadli sedang tidak ada di rumah. Kebetulan rumah kami dekat. Aku sangat suka kucing dan Fadli punya kucing, namun sebenarnya Fadli adalah orang yang takut dan tidak suka menyentuh kucing, aku ingin sekali merawatnya tapi sekarang aku tidak bisa lagi melihat kucing-kucingnya. 

Oh ya, kali pertama aku masuk kuliah aku mengikuti organisasi yang sama dengannya. Itu adalah organisasi seni internal. Aku memilih untuk ikut menari, dulu aku sangat semangat latihan setiap minggunya. Fadli sangat menyemangati aku waktu itu. Tetapi saat Fadli sudah tidak bersamaku aku memutuskan untuk berhenti dari organisasi tersebut. Padahal awal tahun nanti akan diadakan acara, dan aku akan mengisi acara tersebut dengan menari. Semua sudah dipersiapkan secara matang. Tetapi aku memilih berhenti begitu saja. Konyol memang, hanya karena masalah ini, aku mengorbankan kegiatan yang aku sukai. Aku berpikir tidak mengapa aku berhenti dari organisasi tersebut, daripada aku harus bertemu lagi dengannya. 

Aku merasa kasihan dengan mentor tari, karena aku berhenti teman-temanku menjadi kurang anggota. Karena sebelumnya jumlah anggota kami memang sedikit. Teman-temanku dan mentor tariku seolah tidak ingin aku berhenti. Mereka mencoba membujukku agar aku tidak mengundurkan diri. Dan akhirnya mereka pun tidak bisa memaksakanku. Ini semua memang kemauanku, mentor tari ku menanyakan alasan mengapa aku memilih untuk berhenti. Aku tidak bisa menceritakan, aku hanya keukeuh dengan kemauanku. Aku tidak tahu kedepannya lagi seperti apa, aku hanya bisa mengikuti alurnya sekarang. Aku hanya ingin menenangkan diriku sejenak, mencoba bangkit, dan meneruskan tujuanku untuk kuliah. 

Jumat, 13 Desember 2019

Akhirnya, Aku Harus Mengerti!

Akhirnya, Aku Harus Mengerti! 




 Hai, aku Meilyta. Dulu  aku seorang pelajar di salah satu SMA Negeri tepatnya di kota Cantik Palangkaraya. Namun ketika itu pula, aku memulai masa lalu yang buruk tentang menjalin sebuah hubungan percintaan. Dimana akibatnya harus membuatku takut memulai kembali sebuah hubungan dengan orang yang baru.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu perlahan aku dapat memberanikan diri lagi untuk menerima sebuah perasaan, berusaha memberikan respon baik apabila seseorang ingin dekat. Dan pada akhirnya, aku memang kembali dibuat memberi sedikit hati pada seorang pria yang kalau dipikir-pikir cukup baik daripada sebelumnya.
Namanya, Fadli. Kebetulan memang satu kampus denganku nantinya jika aku dinyatakan lulus setelah melewati beberapa test sederhana. Entah sebuah kebetulan atau ini memang takdir, sebelum aku mengenalnya aku memang sudah bertekad untuk bisa lulus dan menjadi mahasiswi di institut itu. Aku telah melewati ujian akhir di sekolah dan terus menunggu tanggal pengumuman  hasil test sampai sebuah kabar datang, alhamdulilah aku benar-benar lulus ujian masuk institut dambaan.
“Kita satu kampus, jadi lebih sering ketemu deh.” pikirku. Disini aku sangat senang melebihi duka ku dulu.
Berawal dari perkenalan di sosial media instagram, kami saling kenal. Awalnya hanya saling follow, komentar instastory kemudian saling tukar nomor whatsapp, lucu ya perkenalan kami. Satu minggu kami berbalas pesan diruang chating pribadi, rasanya semakin  dekat hingga tumbuh perasaan nyaman, rasa ingin memiliki. Aku lupa masa lalu ku yang buruk. Semudah itu jatuh cinta.
Tanpa ku mintai bertemu, keesokkan hari nya Fadli lah yang lebih dulu berinisiatif. Saat itulah moment pertama kami diawali, dihabiskan dengan pembicaraan, menemaninya mencuci motor, keliling kota, sampai lelah dan lapar datang. Makanan yang ku sepakati di pertama kali perjumpaan ini adalah soto. Fadli bilang selain bebek dia sangat suka soto.
Hingga detik itu status kami masih sebagai teman. Aku jadi semakin menyukainya karena Fadli adalah orang yang sederhana, sopan, dan pandai beragama. Perkenalan singkat seperti itu sebenarnya  kuharapkan menjadi pilihan terbaik saat dia bilang ingin hubungan yang lebih dari sekedar teman.
Pada waktu itu, 5 April 2019 kami pun resmi berstatus pacaran. Fadli adalah kakak tingkatku di kampus yang sudah menginjak ke semester  lima, sedangkan aku masih mahasiswa baru dalam tahap ospek. Selama ospek Fadli selalu berbaik hati membantuku, seperti menjawab tugas-tugas yang diberi oleh kakak-kakak panitia. Aku merasa aku adalah mahasiswa baru paling beruntung pada saat itu.
Setelah masa-masa ospek berakhir, jadwal perkulihan dimulai. Ketika memiliki jam kosong kami tidak jarang menghabiskan waktu bersama seperti pergi makan, berbagi pengalaman, seru lah pokoknya. Aku mengalami fase dimana orang bilang bahwa dunia hanya milik berdua, yang lain ngontrak ditengah kasmaran cinta manusia.
Aku bangga, aku bahagia, Fadli pun sama. Waktu berjalan begitu cepat menuju bulan ketiga jalin hubungan dan kami masih sama, tidak ada yang berubah.  Fadli selalu rajin mengingatkan sholat, mengaji, mengerjakan tugas tepat waktu, dan hal kecil lain. Intinya untukku. Fadli selalu mengajarkan ku tentang banyak sekali kebaikan  untuk diriku sendiri agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik walaupun kami masih sama dalam tahap  belajar. Sungguh, pertama kalinya aku mendapatkan pria yang kuanggap memiliki figur seorang Ayah idaman.
Aku menganggapnya seperti itu karena selama ini aku belum pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah yang sebenarnya. Jika ibu tinggal dikota yang sama denganku saat ini, pasti dia juga setuju untuk menyukai Fadli. Aku kagum dengan aktivitas  Fadli yang selalu datang ke majelis pada hari tertentu dan tidak jarang Fadli mengajakku  ke majelis untuk mendengar kajian islam bersama.
Selain itu aku suka Fadli yang juga menjadi seorang guru seni. Dia mengajar di sekolah, di dalam organisasi kampus,  bahkan mengajarkan ilmu seni kepada Ibu-ibu sekalipun dia bersedia. Seperti itu saja aku sudah cukup bahagia ketika tiba-tiba ingat kegigihannya. Aku anggap Fadli sebagai pengganti ayah dalam melindungi dan menemaniku berjuang dalam tahap kehidupan dikota perantauan.
Namun kemudian tidak juga semulus jalan yang kuharapkan. Tiba pada masa dimana kami merasa jenuh. Itu menimbulkan ketidakseimbangan perasaan yang akhirnya membuat satu masalah seperti duri yang siap menancap, menjadi pembatas diantara kami berdua. Aku yakin aku yang akan terluka, aku tahu. Tapi, aku tidak menyadari satu hal pada waktu itu. Yang kukira akan segera berakhir tapi dengan santainya Fadli memilih menjadi pihak yang mengalah. Aku disadarkan olehnya bahwa aku lah si pemilik sikap egois, aku melakukan sesuatu yang pastinya tidak disukai Fadli.
Aku pernah melampiaskan rasa jenuhku dengan video call, chatting dengan laki-laki lain. Fadli tidak tahu saat itu, cara ini memang bukan cara terbaik. Egoisku memang selalu menang. Aku berharap Fadli tidak melakukan hal yang sama. Darisana aku mempelajari bahwa rasa jenuh itu pasti ada dalam setiap hubungan. Wajar ketika mengalaminya, tetapi bukan untuk dijadikan alasan dalam menyelesaikan suatu hubungan.
Memasuki enam bulan hubungan, aku merasa ada yang berbeda. Aku yang selalu punya pemikiran negatif menjadi faktor. Aku rasa Fadli juga semakin mengurangi waktunya untukku. Aku tahu Fadli memiliki banyak kesibukkan yang harus diselesaikan bersama teman-temannya lalu terkadang aku juga merasa iri diwaktu bersamaan karena hal itu. Beberapa minggu berlalu, semakin hari semakin merasa terabaikan. Tapi aku hanya memilih diam, merenung, dan berpikir. Apa aku sudah tak dianggap? Atau apa aku yang terlalu membawa perasaan? Aku memang adalah yang selalu punya pikiran buruk terhadap perilakunya akhir-akhir ini. Aku suka menuduh hal yang tidak mungkin Fadli lakukan. Aku paranoid terhadap hubungan karena masa lalu, perasaan takut itu muncul lagi setelah lama hilang. Apalagi Fadli mempunyai murid dan teman-temannya yang kebanyakan perempuan.
“Aku merasa tersaingi, aku merasa mereka lebih cantik dan menarik dibanding aku”. Kataku dalam hati. Tetapi, dipikir kembali dari sekian banyak perempuan yang Fadli kenal, aku adalah yang memenangkan hatinya. Hal ini membuatku berpikir lebih keras, kenapa Fadli memilihku sedangkan aku tidak tahu kelebihan apa yang ku miliki. Aku hanya terus merasa memiliki banyak kekurangan. Aku senang untuk itu, saat Fadli mengenalkan ku pada semua teman-temannya. Mengakui bahwa aku ini adalah pacarnya. Waktu itu aku pernah diajak pergi ke cafe untuk menemaninya mengerjakan tugas yang katanya aku boleh ikut sambil bersenda gurau bersama teman-temannya. Tetapi ketika sampai ditujuan aku hanya didiamkan. Aku memang tidak mengerti apa yang  mereka bicarakan. Tapi Tuhan memang tidak berpihak pada orang yang salah, aku baru tahu bahwa waktu itu ternyata Fadli hanya berbohong. Fadli tidak sedang mengerjakan tugas. Aku ingin marah tapi akan tidak sopan jika kemarahanku meledak di depan teman-temannya. Aku lelah juga kesal karena berjam-jam didiamkan.
Fadli terlalu sibuk, mengabaikanku seperti boneka pajangan. Aku beribu-ribu kecewa.
Sejauh pertama kali, Fadli tidak pernah menyakitiku. Kami baik-baik saja. Fadli sosok yang tidak pernah mengumbar janji, selagi Fadli bisa melakukan apapun akan dilakukannya untukku. Namun dari semua kebaikannya, aku hanya tidak setuju pada satu hal. Fadli yang selalu bersikap seolah kurang peka, Fadli tidak begitu memahamiku yang memiliki banyak sekali kekhawatiran. Mungkin dia juga lelah tapi terkadang aku hanya ingin dipahami ketika sedang dalam kondisi terpuruk.
Kami berseteru besar karena masalah-masalah terus datang. Pada akhirnya aku retak. Fadli memutuskan hubungan denganku. Aku terkejut namun dengan skakmat tetap berkata ‘ya’. Selisih beberapa jam kemudian notifikasi smartphone-ku berbunyi. Itu dari Fadli, katanya, “sayang, kita enggak jadi putus deh, ralat yang tadi, maaf”.
Aku merasa dipermainkan tapi untuk kali ini aku maafkan, kita tidak jadi putus hubungan. Bodohnya aku saat itu.
Bulan Desember adalah bulan yang menyedihkan untukku. Bagaimana tidak, hubungan kami baru memasuki delapan bulan dan di bulan ini juga kami harus benar-benar berpisah. Aku patah. Fadli memutuskan hubungan untuk kedua kalinya dan aku kembali berkata ‘ya’ dengan perasaan beku. Ini serius, hubungan kami telah berakhir. Mungkin Fadli sudah muak dengan semuanya, akupun merasakan hal yang sama. Aku sudah menyiapkan hati jauh-jauh hari, aku tahu akhir yang akan diberikan padaku olehnya.
Aku akan berterimakasih karena dia pernah menjadi bagian dalam hidupku walau untuk sementara. Delapan bulan tidaklah mudah untuk dijalankan. Semua butuh proses untuk melupakan. Aku sakit hati karena Fadli memutuskan hubungan ini secara sepihak, tetapi apa boleh buat. Aku memilih diam untuk kesekian kali, menyembunyikan semua kesedihanku. Aku ikhlas walaupun akhir kisahnya tidak sesuai dengan harapanku. Mungkin Allah akan menggantikan yang lebih baik, dan mungkin dia bukan yang terbaik untukku. Bahagia dengan jalan dan pilihan sendiri, dan ini semua adalah yang Fadli inginkan. Aku terpuruk sekali, tapi aku tidak bisa menahannya karena cinta tidak perlu dipaksakan. Memang seharusnya hubungan kami berakhir. Aku berdoa semoga Fadli mendapatkan yang lebih baik, cepat lulus dan wisuda. Aku hanya akan menyusul dengan jalanku sendiri. Jangan lelah untuk mencari ilmu. Satu lagi pesanku, jangan kembali disaat aku sudah melupakan. Aku tidak akan menerima, bahkan untuk sekedar melihatmu pun aku tidak ingin lakukan. Maaf atas keegoisanku, sifat kekanak-kanakanku, dan terkadang mengekang. Yang membuatmu risih. Terimakasih masalalu mengalirlah seperti air, dan akan aku ikuti alurnya.

Aku ikhlas, bismillah.