Jumat, 13 Desember 2019

Akhirnya, Aku Harus Mengerti!

Akhirnya, Aku Harus Mengerti! 




 Hai, aku Meilyta. Dulu  aku seorang pelajar di salah satu SMA Negeri tepatnya di kota Cantik Palangkaraya. Namun ketika itu pula, aku memulai masa lalu yang buruk tentang menjalin sebuah hubungan percintaan. Dimana akibatnya harus membuatku takut memulai kembali sebuah hubungan dengan orang yang baru.
Akan tetapi, seiring berjalannya waktu perlahan aku dapat memberanikan diri lagi untuk menerima sebuah perasaan, berusaha memberikan respon baik apabila seseorang ingin dekat. Dan pada akhirnya, aku memang kembali dibuat memberi sedikit hati pada seorang pria yang kalau dipikir-pikir cukup baik daripada sebelumnya.
Namanya, Fadli. Kebetulan memang satu kampus denganku nantinya jika aku dinyatakan lulus setelah melewati beberapa test sederhana. Entah sebuah kebetulan atau ini memang takdir, sebelum aku mengenalnya aku memang sudah bertekad untuk bisa lulus dan menjadi mahasiswi di institut itu. Aku telah melewati ujian akhir di sekolah dan terus menunggu tanggal pengumuman  hasil test sampai sebuah kabar datang, alhamdulilah aku benar-benar lulus ujian masuk institut dambaan.
“Kita satu kampus, jadi lebih sering ketemu deh.” pikirku. Disini aku sangat senang melebihi duka ku dulu.
Berawal dari perkenalan di sosial media instagram, kami saling kenal. Awalnya hanya saling follow, komentar instastory kemudian saling tukar nomor whatsapp, lucu ya perkenalan kami. Satu minggu kami berbalas pesan diruang chating pribadi, rasanya semakin  dekat hingga tumbuh perasaan nyaman, rasa ingin memiliki. Aku lupa masa lalu ku yang buruk. Semudah itu jatuh cinta.
Tanpa ku mintai bertemu, keesokkan hari nya Fadli lah yang lebih dulu berinisiatif. Saat itulah moment pertama kami diawali, dihabiskan dengan pembicaraan, menemaninya mencuci motor, keliling kota, sampai lelah dan lapar datang. Makanan yang ku sepakati di pertama kali perjumpaan ini adalah soto. Fadli bilang selain bebek dia sangat suka soto.
Hingga detik itu status kami masih sebagai teman. Aku jadi semakin menyukainya karena Fadli adalah orang yang sederhana, sopan, dan pandai beragama. Perkenalan singkat seperti itu sebenarnya  kuharapkan menjadi pilihan terbaik saat dia bilang ingin hubungan yang lebih dari sekedar teman.
Pada waktu itu, 5 April 2019 kami pun resmi berstatus pacaran. Fadli adalah kakak tingkatku di kampus yang sudah menginjak ke semester  lima, sedangkan aku masih mahasiswa baru dalam tahap ospek. Selama ospek Fadli selalu berbaik hati membantuku, seperti menjawab tugas-tugas yang diberi oleh kakak-kakak panitia. Aku merasa aku adalah mahasiswa baru paling beruntung pada saat itu.
Setelah masa-masa ospek berakhir, jadwal perkulihan dimulai. Ketika memiliki jam kosong kami tidak jarang menghabiskan waktu bersama seperti pergi makan, berbagi pengalaman, seru lah pokoknya. Aku mengalami fase dimana orang bilang bahwa dunia hanya milik berdua, yang lain ngontrak ditengah kasmaran cinta manusia.
Aku bangga, aku bahagia, Fadli pun sama. Waktu berjalan begitu cepat menuju bulan ketiga jalin hubungan dan kami masih sama, tidak ada yang berubah.  Fadli selalu rajin mengingatkan sholat, mengaji, mengerjakan tugas tepat waktu, dan hal kecil lain. Intinya untukku. Fadli selalu mengajarkan ku tentang banyak sekali kebaikan  untuk diriku sendiri agar dapat menjadi pribadi yang lebih baik walaupun kami masih sama dalam tahap  belajar. Sungguh, pertama kalinya aku mendapatkan pria yang kuanggap memiliki figur seorang Ayah idaman.
Aku menganggapnya seperti itu karena selama ini aku belum pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah yang sebenarnya. Jika ibu tinggal dikota yang sama denganku saat ini, pasti dia juga setuju untuk menyukai Fadli. Aku kagum dengan aktivitas  Fadli yang selalu datang ke majelis pada hari tertentu dan tidak jarang Fadli mengajakku  ke majelis untuk mendengar kajian islam bersama.
Selain itu aku suka Fadli yang juga menjadi seorang guru seni. Dia mengajar di sekolah, di dalam organisasi kampus,  bahkan mengajarkan ilmu seni kepada Ibu-ibu sekalipun dia bersedia. Seperti itu saja aku sudah cukup bahagia ketika tiba-tiba ingat kegigihannya. Aku anggap Fadli sebagai pengganti ayah dalam melindungi dan menemaniku berjuang dalam tahap kehidupan dikota perantauan.
Namun kemudian tidak juga semulus jalan yang kuharapkan. Tiba pada masa dimana kami merasa jenuh. Itu menimbulkan ketidakseimbangan perasaan yang akhirnya membuat satu masalah seperti duri yang siap menancap, menjadi pembatas diantara kami berdua. Aku yakin aku yang akan terluka, aku tahu. Tapi, aku tidak menyadari satu hal pada waktu itu. Yang kukira akan segera berakhir tapi dengan santainya Fadli memilih menjadi pihak yang mengalah. Aku disadarkan olehnya bahwa aku lah si pemilik sikap egois, aku melakukan sesuatu yang pastinya tidak disukai Fadli.
Aku pernah melampiaskan rasa jenuhku dengan video call, chatting dengan laki-laki lain. Fadli tidak tahu saat itu, cara ini memang bukan cara terbaik. Egoisku memang selalu menang. Aku berharap Fadli tidak melakukan hal yang sama. Darisana aku mempelajari bahwa rasa jenuh itu pasti ada dalam setiap hubungan. Wajar ketika mengalaminya, tetapi bukan untuk dijadikan alasan dalam menyelesaikan suatu hubungan.
Memasuki enam bulan hubungan, aku merasa ada yang berbeda. Aku yang selalu punya pemikiran negatif menjadi faktor. Aku rasa Fadli juga semakin mengurangi waktunya untukku. Aku tahu Fadli memiliki banyak kesibukkan yang harus diselesaikan bersama teman-temannya lalu terkadang aku juga merasa iri diwaktu bersamaan karena hal itu. Beberapa minggu berlalu, semakin hari semakin merasa terabaikan. Tapi aku hanya memilih diam, merenung, dan berpikir. Apa aku sudah tak dianggap? Atau apa aku yang terlalu membawa perasaan? Aku memang adalah yang selalu punya pikiran buruk terhadap perilakunya akhir-akhir ini. Aku suka menuduh hal yang tidak mungkin Fadli lakukan. Aku paranoid terhadap hubungan karena masa lalu, perasaan takut itu muncul lagi setelah lama hilang. Apalagi Fadli mempunyai murid dan teman-temannya yang kebanyakan perempuan.
“Aku merasa tersaingi, aku merasa mereka lebih cantik dan menarik dibanding aku”. Kataku dalam hati. Tetapi, dipikir kembali dari sekian banyak perempuan yang Fadli kenal, aku adalah yang memenangkan hatinya. Hal ini membuatku berpikir lebih keras, kenapa Fadli memilihku sedangkan aku tidak tahu kelebihan apa yang ku miliki. Aku hanya terus merasa memiliki banyak kekurangan. Aku senang untuk itu, saat Fadli mengenalkan ku pada semua teman-temannya. Mengakui bahwa aku ini adalah pacarnya. Waktu itu aku pernah diajak pergi ke cafe untuk menemaninya mengerjakan tugas yang katanya aku boleh ikut sambil bersenda gurau bersama teman-temannya. Tetapi ketika sampai ditujuan aku hanya didiamkan. Aku memang tidak mengerti apa yang  mereka bicarakan. Tapi Tuhan memang tidak berpihak pada orang yang salah, aku baru tahu bahwa waktu itu ternyata Fadli hanya berbohong. Fadli tidak sedang mengerjakan tugas. Aku ingin marah tapi akan tidak sopan jika kemarahanku meledak di depan teman-temannya. Aku lelah juga kesal karena berjam-jam didiamkan.
Fadli terlalu sibuk, mengabaikanku seperti boneka pajangan. Aku beribu-ribu kecewa.
Sejauh pertama kali, Fadli tidak pernah menyakitiku. Kami baik-baik saja. Fadli sosok yang tidak pernah mengumbar janji, selagi Fadli bisa melakukan apapun akan dilakukannya untukku. Namun dari semua kebaikannya, aku hanya tidak setuju pada satu hal. Fadli yang selalu bersikap seolah kurang peka, Fadli tidak begitu memahamiku yang memiliki banyak sekali kekhawatiran. Mungkin dia juga lelah tapi terkadang aku hanya ingin dipahami ketika sedang dalam kondisi terpuruk.
Kami berseteru besar karena masalah-masalah terus datang. Pada akhirnya aku retak. Fadli memutuskan hubungan denganku. Aku terkejut namun dengan skakmat tetap berkata ‘ya’. Selisih beberapa jam kemudian notifikasi smartphone-ku berbunyi. Itu dari Fadli, katanya, “sayang, kita enggak jadi putus deh, ralat yang tadi, maaf”.
Aku merasa dipermainkan tapi untuk kali ini aku maafkan, kita tidak jadi putus hubungan. Bodohnya aku saat itu.
Bulan Desember adalah bulan yang menyedihkan untukku. Bagaimana tidak, hubungan kami baru memasuki delapan bulan dan di bulan ini juga kami harus benar-benar berpisah. Aku patah. Fadli memutuskan hubungan untuk kedua kalinya dan aku kembali berkata ‘ya’ dengan perasaan beku. Ini serius, hubungan kami telah berakhir. Mungkin Fadli sudah muak dengan semuanya, akupun merasakan hal yang sama. Aku sudah menyiapkan hati jauh-jauh hari, aku tahu akhir yang akan diberikan padaku olehnya.
Aku akan berterimakasih karena dia pernah menjadi bagian dalam hidupku walau untuk sementara. Delapan bulan tidaklah mudah untuk dijalankan. Semua butuh proses untuk melupakan. Aku sakit hati karena Fadli memutuskan hubungan ini secara sepihak, tetapi apa boleh buat. Aku memilih diam untuk kesekian kali, menyembunyikan semua kesedihanku. Aku ikhlas walaupun akhir kisahnya tidak sesuai dengan harapanku. Mungkin Allah akan menggantikan yang lebih baik, dan mungkin dia bukan yang terbaik untukku. Bahagia dengan jalan dan pilihan sendiri, dan ini semua adalah yang Fadli inginkan. Aku terpuruk sekali, tapi aku tidak bisa menahannya karena cinta tidak perlu dipaksakan. Memang seharusnya hubungan kami berakhir. Aku berdoa semoga Fadli mendapatkan yang lebih baik, cepat lulus dan wisuda. Aku hanya akan menyusul dengan jalanku sendiri. Jangan lelah untuk mencari ilmu. Satu lagi pesanku, jangan kembali disaat aku sudah melupakan. Aku tidak akan menerima, bahkan untuk sekedar melihatmu pun aku tidak ingin lakukan. Maaf atas keegoisanku, sifat kekanak-kanakanku, dan terkadang mengekang. Yang membuatmu risih. Terimakasih masalalu mengalirlah seperti air, dan akan aku ikuti alurnya.

Aku ikhlas, bismillah. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar