Antara Rindu dan
Waktu
Seiring jalannya waktu, nampaknya aku sudah bisa
lupa dan terbiasa tanpa dirinya. Sakit ini mungkin akan segera pulih, tapi aku
tidak tahu kapan waktunya. Aku selalu mencari kesibukkan agar diriku tidak
mengingatnya lagi, sampai aku benar-benar bisa melupakan. Perlahan aku berhasil
tidak begitu rapuh seperti dulu. Lalu apa kabar dengan rindu? Rindu ini kadang
datangnya tidak tepat waktu. Sejujurnya aku tidak ingin merindukannya, tapi
yang namanya rindu tidak bisa dicegah yang terkadang rasanya tak tertahankan.
Datang secara tiba-tiba.
Jika dulu aku rindu masih bisa bertemu, tapi
sekarang? Aku hanya bisa menahannya sendirian. Karena waktu kita sudah beda.
Rinduku dulu tidak begitu berat, karena pastinya kita akan segera bertemu. Tapi
sekarang? Rindu ini terasa berat karena aku harus menahannya.
Waktu sudah memisahkan kita hingga pada akhirnya
kita sudah tidak memiliki hubungan lagi. Menjalani hidup masing-masing itu
sudah menjadi pilihan. Aku tidak pernah menyesal apapun hal yang sudah terjadi.
Dari semua ini, dibaliknya pasti ada hikmahnya.
Melupakan seseorang tidak semudah kita membalikan
telapak tangan, semua pasti butuh proses dan waktu yang akan menjawabnya.
Mungkin dari mulut kita bisa berkata mudah untuk melupakan, tetapi sebenarnya
hati berkata tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar