Senin, 16 Desember 2019

Desember dan Lukanya


Desember dan Lukanya 



Bersama ini, tahun akan segera berganti, yang berlarut-larut akan segera surut. Dan yang menunggu mungkin akan segera bertemu. Lalu apa kabar dengan luka? Banyak banget yang sudah berubah, dari aku yang ingin menjadi seseorang sampai seseorang yang ingin menjadi aku. 

Terkadang bingung dengan pikiran orang lain, aku ingin menjadi kamu, tapi seorang kamu juga pasti punya luka. Kita tidak bisa melihatnya hanya dari sisi nyamannya saja, sejauh ini kita beda. Seorang aku tadi bukanlah kamu, aku bisa mengambil mimpinya sendiri tanpa harus menjadi kamu. 

Kita memang sedang berlari, namun lintasan kita berbeda. Kisah dan dongeng kita juga tidak sama. Aku yang sejatinya berpura-pura tegar juga akan luruh suatu hari nanti. Dengan luka yang ku bangun sendiri. Diam terus menerus hanya akan memakanku dan waktuku saja. Aku akan pergi, dan ternyata dunia tidak terlalu buruk yang aku bayangkan. Hanya saja kadang lelah, rindu, dan rapuh datangnya tidak tepat waktu. 

Aku tahu tahun ini semuanya luruh, aku tahu betapa payahnya diriku tahun ini. Aku tidak begitu tegar ternyata. Aku tidak begitu konsisten, tapi aku butuh hidup yang layak. Sama seperti hal-hal indah yang dibayangkan setiap pemimpi. Aku pun punya mimpi, meski kadang mimpinya tidak beraturan, yang akhirnya malah menyakitkan. 

Bodohnya aku, baru mencoba lalu pulang kembali. Setiap jalan pasti akan ada lubang. Setiap perjuangan  pasti akan selalu ada luka bahkan duka. Atau yang lebih menyakitkan lagi. Mereka yang sudah besar juga pernah memulai dengan luka yang berdarah-darah. Tidak mudah memang menjadi manusia. Jiwaku besar dan hariku masih jauh ke depan. Lalu mau sampai disini saja? Desember sudah datang, sebentar lagi tahun ini akan pergi. 

Untuk aku yang mudah mengenang, kini ku lepaskan. Untuk aku yang mudah menggenang, aku akan menangis. Karena mungkin belum memberikan yang terbaik. Aku tahu, diriku butuh aku yang abadi. Tidak goyah dan tidak mudah patah. Yang perannya selalu dinanti manusia esok hari. 

Kadang terasa indah jika kita tersenyum, meski luka belum kering tapi hati akan bilang tenang tidak harus hari ini juga kok. Aku harus bisa melupakan hal yang menyakitkan. Kasian kalau mereka hanya tahu dukaku saja. Perlahan harus tenang, agar pulangku akan nyaman. Aku akan mencoba melupakanmu meski setiap kali kalimat itu kukatakan ada bahagia yang hilang dari dadaku. Kamu benar-benar bisa membuat semua yang awalnya baik-baik saja pada akhirnya kamu membuat semuanya hancur remuk tak terkira. Aku tahu bahagia itu pilihan, meski sebenarnya tak ada yang benar bisa dipilih oleh manusia. Dan kepergianmu membuatku merasa benar bahwa tak ada yang benar-benar setia di dunia ini. 

Kini kamu diam disana. Ditempat baru yang membuatmu bahagia. Tetaplah begitu selamanya. Jika memang lukaku pun bukan lagi hal yang kamu cemaskan. Jalan baru yang kamu pilih akan membenamkan aku dengan rasa sedih. Dendam dan doaku akan mengejarmu kemanapun kamu pergi.
Terimakasih Desember, begitu banyak rintangan yang sudah aku lewati. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar