Desember dan
Lukanya
Bersama ini, tahun akan segera berganti, yang
berlarut-larut akan segera surut. Dan yang menunggu mungkin akan segera
bertemu. Lalu apa kabar dengan luka? Banyak banget yang sudah berubah, dari aku
yang ingin menjadi seseorang sampai seseorang yang ingin menjadi aku.
Terkadang bingung dengan pikiran orang lain, aku
ingin menjadi kamu, tapi seorang kamu juga pasti punya luka. Kita tidak bisa
melihatnya hanya dari sisi nyamannya saja, sejauh ini kita beda. Seorang aku
tadi bukanlah kamu, aku bisa mengambil mimpinya sendiri tanpa harus menjadi
kamu.
Kita memang sedang berlari, namun lintasan kita
berbeda. Kisah dan dongeng kita juga tidak sama. Aku yang sejatinya
berpura-pura tegar juga akan luruh suatu hari nanti. Dengan luka yang ku bangun
sendiri. Diam terus menerus hanya akan memakanku dan waktuku saja. Aku akan
pergi, dan ternyata dunia tidak terlalu buruk yang aku bayangkan. Hanya saja
kadang lelah, rindu, dan rapuh datangnya tidak tepat waktu.
Aku tahu tahun ini semuanya luruh, aku tahu betapa
payahnya diriku tahun ini. Aku tidak begitu tegar ternyata. Aku tidak begitu
konsisten, tapi aku butuh hidup yang layak. Sama seperti hal-hal indah yang
dibayangkan setiap pemimpi. Aku pun punya mimpi, meski kadang mimpinya tidak
beraturan, yang akhirnya malah menyakitkan.
Bodohnya aku, baru mencoba lalu pulang kembali.
Setiap jalan pasti akan ada lubang. Setiap perjuangan pasti akan selalu ada luka bahkan duka. Atau
yang lebih menyakitkan lagi. Mereka yang sudah besar juga pernah memulai dengan
luka yang berdarah-darah. Tidak mudah memang menjadi manusia. Jiwaku besar dan
hariku masih jauh ke depan. Lalu mau sampai disini saja? Desember sudah datang,
sebentar lagi tahun ini akan pergi.
Untuk aku yang mudah mengenang, kini ku lepaskan.
Untuk aku yang mudah menggenang, aku akan menangis. Karena mungkin belum
memberikan yang terbaik. Aku tahu, diriku butuh aku yang abadi. Tidak goyah dan
tidak mudah patah. Yang perannya selalu dinanti manusia esok hari.
Kadang terasa indah jika kita tersenyum, meski luka
belum kering tapi hati akan bilang tenang tidak harus hari ini juga kok. Aku
harus bisa melupakan hal yang menyakitkan. Kasian kalau mereka hanya tahu
dukaku saja. Perlahan harus tenang, agar pulangku akan nyaman. Aku akan mencoba
melupakanmu meski setiap kali kalimat itu kukatakan ada bahagia yang hilang
dari dadaku. Kamu benar-benar bisa membuat semua yang awalnya baik-baik saja
pada akhirnya kamu membuat semuanya hancur remuk tak terkira. Aku tahu bahagia
itu pilihan, meski sebenarnya tak ada yang benar bisa dipilih oleh manusia. Dan
kepergianmu membuatku merasa benar bahwa tak ada yang benar-benar setia di
dunia ini.
Kini kamu diam disana. Ditempat baru yang membuatmu
bahagia. Tetaplah begitu selamanya. Jika memang lukaku pun bukan lagi hal yang
kamu cemaskan. Jalan baru yang kamu pilih akan membenamkan aku dengan rasa
sedih. Dendam dan doaku akan mengejarmu kemanapun kamu pergi.
Terimakasih Desember, begitu banyak rintangan yang
sudah aku lewati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar