Bila Aku Bukan
Rumahmu, Masihkah Kita Satu Arah?
“Pulang adalah menjadi kata ternyaman setelah
perjalanan panjang.” Ini katamu. Aku mulai paham sekarang. Bahwa aku bukanlah
rumahmu lagi. Mungkin kamu sudah
mendapatkan rumah baru yang lebih nyaman. Ibaratnya aku sekarang adalah rumah
gubuk yang sangat buruk yang kamu tinggalkan ketika kamu sudah berhasil
mendapatkan rumah baru yang begitu mewah.
Kamu meninggalkan rumah gubuk ini seperti kamu tidak
pernah menempati sebelumnya. Ingat dulu jika kamu bersedih, kamu sakit, semua
keluh kesahmu kamu ceritakan di rumah ini yang bisa menerima kekuranganmu
semuanya.
Bila aku ini bukan rumahmu lagi, masihkah kita satu
arah?
Tanpamu rumah ini akan tetap kokoh berdiri walaupun
tidak berpenghuni. Dan suatu hari nanti akan ada orang yang merawatnya kembali.
Dirawat dengan orang yang menyanyanginya sepenuh hati, tulus, dan berjanji
tidak akan meninggalkan dalam keadaan apapun. Rumah ini akan sangat hangat jika
berpenghuni, namun akan sangat dingin jika tidak ada orang didalamnya.
Kamu adalah tuan rumahku. Tetapi kamu memilih pergi.
Aku disini masih mencoba menutup rapat pintu agar tidak ada seorangpun yang
bisa masuk dan menggantikan dirimu. Aku masih menunggu, tetapi jika ada
seseorang yang berhasil masuk ke dalam akupun tidak bisa lagi untuk menahannya. Aku masih bisa menjadi rumahmu sampai
kapanpun kamu mau. Walaupun hanya bersinggah. Pintu rumah ini akan terus
terbuka lebar jika kamu ingin datang. Luapkan semua keluh kesahmu yang mungkin
di rumah barumu tidak lagi membuatmu nyaman.
Walaupun aku sedikit rapuh, aku masih bisa
mendengarkan dan menjadi pundak untukmu bersandar. Aku tidak mengharapkanmu
kembali, aku hanya ingin jika kamu butuh atau kamu sedang dihadapi dalam
kesulitan, akulah orang pertama yang kamu ingat. Aku akan selalu ada, aku yang
akan membantumu. Jika memang rumah barumu itu sangat nyaman, jangan pernah kamu
tinggalkan seperti kamu meninggalkan rumahmu sebelumnya. Atau mungkin rumah
barumu akan bernasib sama sepertiku. Kamu pulang dengan sangat nyaman, mungkin
ini memang kemauanmu,. Tetapi aku disini masih menunggu kehadiranmu untuk
pulang kembali. Banyak hal yang ingin aku ceritakan. Aku hanya ingin meluapkan
semua kepadamu seperti biasanya. Seandainya kamu masih disini, aku masih
menjadi rumahmu untuk pulang. Tapi sayangnya tujuanmu sudah beda, arah kita
sudah tak sama.
Lanjutkanlah hidupmu tanpa aku. Kamu yang
menginginkan melepaskanku. Bahagialah dengan pilihanmu nantinya. Hidup akan
terus berlanjut. Dan aku sudah mengikhlaskan kamu. Aku akan tetap menemukan
jalan baru. Melanjutkan petualang dengan seseorang yang kelak tinggal bersama
dijiwaku, yang tak akan pergi. Jika suatu hari nanti takdir mempertemukan kita
lagi, Belajarlah menerima bahwa kamu tidak lagi seseorang yang ada di hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar