Sabtu, 21 Desember 2019

Bila Aku Bukan Rumahmu, Masihkah Kita Satu Arah?


Bila Aku Bukan Rumahmu, Masihkah Kita Satu Arah? 



“Pulang adalah menjadi kata ternyaman setelah perjalanan panjang.” Ini katamu. Aku mulai paham sekarang. Bahwa aku bukanlah rumahmu lagi.  Mungkin kamu sudah mendapatkan rumah baru yang lebih nyaman. Ibaratnya aku sekarang adalah rumah gubuk yang sangat buruk yang kamu tinggalkan ketika kamu sudah berhasil mendapatkan rumah baru yang begitu mewah. 

Kamu meninggalkan rumah gubuk ini seperti kamu tidak pernah menempati sebelumnya. Ingat dulu jika kamu bersedih, kamu sakit, semua keluh kesahmu kamu ceritakan di rumah ini yang bisa menerima kekuranganmu semuanya.  

Bila aku ini bukan rumahmu lagi, masihkah kita satu arah? 

Tanpamu rumah ini akan tetap kokoh berdiri walaupun tidak berpenghuni. Dan suatu hari nanti akan ada orang yang merawatnya kembali. Dirawat dengan orang yang menyanyanginya sepenuh hati, tulus, dan berjanji tidak akan meninggalkan dalam keadaan apapun. Rumah ini akan sangat hangat jika berpenghuni, namun akan sangat dingin jika tidak ada orang didalamnya. 

Kamu adalah tuan rumahku. Tetapi kamu memilih pergi. Aku disini masih mencoba menutup rapat pintu agar tidak ada seorangpun yang bisa masuk dan menggantikan dirimu. Aku masih menunggu, tetapi jika ada seseorang yang berhasil masuk ke dalam akupun tidak bisa lagi untuk menahannya.  Aku masih bisa menjadi rumahmu sampai kapanpun kamu mau. Walaupun hanya bersinggah. Pintu rumah ini akan terus terbuka lebar jika kamu ingin datang. Luapkan semua keluh kesahmu yang mungkin di rumah barumu tidak lagi membuatmu nyaman. 

Walaupun aku sedikit rapuh, aku masih bisa mendengarkan dan menjadi pundak untukmu bersandar. Aku tidak mengharapkanmu kembali, aku hanya ingin jika kamu butuh atau kamu sedang dihadapi dalam kesulitan, akulah orang pertama yang kamu ingat. Aku akan selalu ada, aku yang akan membantumu. Jika memang rumah barumu itu sangat nyaman, jangan pernah kamu tinggalkan seperti kamu meninggalkan rumahmu sebelumnya. Atau mungkin rumah barumu akan bernasib sama sepertiku. Kamu pulang dengan sangat nyaman, mungkin ini memang kemauanmu,. Tetapi aku disini masih menunggu kehadiranmu untuk pulang kembali. Banyak hal yang ingin aku ceritakan. Aku hanya ingin meluapkan semua kepadamu seperti biasanya. Seandainya kamu masih disini, aku masih menjadi rumahmu untuk pulang. Tapi sayangnya tujuanmu sudah beda, arah kita sudah tak sama. 

Lanjutkanlah hidupmu tanpa aku. Kamu yang menginginkan melepaskanku. Bahagialah dengan pilihanmu nantinya. Hidup akan terus berlanjut. Dan aku sudah mengikhlaskan kamu. Aku akan tetap menemukan jalan baru. Melanjutkan petualang dengan seseorang yang kelak tinggal bersama dijiwaku, yang tak akan pergi. Jika suatu hari nanti takdir mempertemukan kita lagi, Belajarlah menerima bahwa kamu tidak lagi seseorang yang ada di hati.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar