Akhirnya, Aku Harus Mengerti! Part
2
Malam itu, setelah Fadli memutuskan hubungannya
denganku, aku punya satu permintaan dan Fadli bersedia memenuhinya.
Permintaanku tidak macam-macam, aku hanya ingin makan dan bersua dengannya
untuk yang terakhir kali. Sederhana, bukan?
Kemudian kami pergi ketempat pertama kali makan
bersama. Aku yang memutuskan untuk mengulang waktu, dan ditempat itu juga
sekarang kami harus berpisah. Aku janji itu adalah yang terakhir kalinya. Aku
sakit. Bahkan kebersamaan yang hanya sebentar itu rasanya sangat berat. Aku
tidak punya keberanian untuk menatap wajahnya lebih lama.
Aku sadar,
waktu itu terbilang nekat. Mata ku sangat sembab karena menangis. Menjadi
sebuah alasan pula untuk tidak menghadiri mata kuliah dalam satu hari penuh.
Aku sangat lemah. Tapi Fadli selalu bilang bahwa aku ini adalah wanita yang
kuat. Saat bersamanya kemarin, aku sempat bertanya, “Ini serius putus?”, lalu
Fadli menjawab dengan anteng yang sekaligus membuat jantungku sekali lagi
berdenyut, katanya, “Iya serius”. Aku dibungkam kenyataan. Kemudian Fadli ikut
bertanya, “Ada hal lain?” tapi tentu aku harus menjawab tidak. Sampai disini sudah
cukup.
Setelah menyelesaikan kegiatan makan dan mengantarkanku
pulang pun tidak ada lagi yang Fadli bicarakan. Aku mencoba tegar karena Fadli
suka mengingatkan bahwa aku haruslah menjaga diri dengan baik dan tidak
melakukan hal-hal aneh. Tapi, aku tetaplah aku yang tidak mendengarkan
kata-kata orang. Esok harinya, aku memulai hari baru dimana tanpa kehadirannya
belum biasa. Aku tidak tahu kabar Fadli sekarang. Fadli sedang melakukan apa,
dimana, dengan siapa aku tidak lagi tahu menahu. Aku tidak berniat mencari.
Mungkinkah Fadli merasakan hal yang sama? Aku harus
terbiasa dengan keadaanku sekarang, aku akan kembali menata diri. Aku ingin
mencoba menahan asa, niat ingin menghapus semua tentangnya dan lupa. Tapi Fadli
berpesan bahwa dia tidak setuju jika aku benar-benar menekan tombol blokir
sosial media dan memutuskan tali persaudaraan. Fadli ingin berteman denganku
walau hubungan kami telah berakhir. Ya, aku tahu kami memutuskan hubungan
dengan cara yang baik, namun itu buruk bagiku. Aku tidak sedang baik-baik saja.
Aku kecewa dengan diriku sendiri. Apa mungkin Fadli muak dengan semua sikapku?
Tapi, untuk kesekian kalinya aku tidak bisa menyalahkan diriku sendiri karena
menjalankan sebuah hubungan tentu tidak berjuang sendirian.
Aku sedikit puas setidaknya tak lagi ada yang di
khawatirkan setelah ini. Dan sepertinya Fadli sangat takut seandainya aku
berbuat hal buruk. Aku bertanya dalam senyap kenapa dia masih saja bisa peduli?
Bukannya hubungan itu sudah berakhir? Sesekali Fadli masih berkomentar di media
sosialku. Aku hanya membalas sepatah kata, dan terkadang aku hanya membacanya. Aku
ingin terlihat biasa saja saat Fadli menghubungiku walau sebenarnya merasa
kesepian. Temanku adalah satu-satunya pendengar yang baik ketika ku bilang
sangat ingin melupakan semua kisahnya.
Aku tidak ingin terlihat kacau karena itu akan
menjadi boomerang untuk diriku sendiri. Mungkin sesekali saja boleh bersedih.
Tuhan lah maha pendengar yang baik. Aku tahu itu. Aku lihat Fadli biasa saja
setelah semuanya berakhir, tidak merasa sedih sekalipun, ia justru asik dengan
teman-temannya. Mungkin ia juga sudah mendapatkan yang baru.
Dulu aku akan sangat senang ketika pergi dan harus
melewati rumahnya, padahal aku tahu Fadli sedang tidak ada di rumah. Kebetulan
rumah kami dekat. Aku sangat suka kucing dan Fadli punya kucing, namun
sebenarnya Fadli adalah orang yang takut dan tidak suka menyentuh kucing, aku
ingin sekali merawatnya tapi sekarang aku tidak bisa lagi melihat
kucing-kucingnya.
Oh ya, kali pertama aku masuk kuliah aku mengikuti
organisasi yang sama dengannya. Itu adalah organisasi seni internal. Aku
memilih untuk ikut menari, dulu aku sangat semangat latihan setiap minggunya.
Fadli sangat menyemangati aku waktu itu. Tetapi saat Fadli sudah tidak
bersamaku aku memutuskan untuk berhenti dari organisasi tersebut. Padahal awal
tahun nanti akan diadakan acara, dan aku akan mengisi acara tersebut dengan
menari. Semua sudah dipersiapkan secara matang. Tetapi aku memilih berhenti
begitu saja. Konyol memang, hanya karena masalah ini, aku mengorbankan kegiatan
yang aku sukai. Aku berpikir tidak mengapa aku berhenti dari organisasi
tersebut, daripada aku harus bertemu lagi dengannya.
Aku merasa kasihan dengan
mentor tari, karena aku berhenti teman-temanku menjadi kurang anggota. Karena
sebelumnya jumlah anggota kami memang sedikit. Teman-temanku dan mentor tariku
seolah tidak ingin aku berhenti. Mereka mencoba membujukku agar aku tidak
mengundurkan diri. Dan akhirnya mereka pun tidak bisa memaksakanku. Ini semua
memang kemauanku, mentor tari ku menanyakan alasan mengapa aku memilih untuk
berhenti. Aku tidak bisa menceritakan, aku hanya keukeuh dengan kemauanku. Aku
tidak tahu kedepannya lagi seperti apa, aku hanya bisa mengikuti alurnya
sekarang. Aku hanya ingin menenangkan diriku sejenak, mencoba bangkit, dan
meneruskan tujuanku untuk kuliah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar