Minggu, 15 Desember 2019

Akhirnya, Aku Harus Mengerti! Part 2


Akhirnya, Aku Harus Mengerti! Part 2 




Malam itu, setelah Fadli memutuskan hubungannya denganku, aku punya satu permintaan dan Fadli bersedia memenuhinya. Permintaanku tidak macam-macam, aku hanya ingin makan dan bersua dengannya untuk yang terakhir kali. Sederhana, bukan? 

Kemudian kami pergi ketempat pertama kali makan bersama. Aku yang memutuskan untuk mengulang waktu, dan ditempat itu juga sekarang kami harus berpisah. Aku janji itu adalah yang terakhir kalinya. Aku sakit. Bahkan kebersamaan yang hanya sebentar itu rasanya sangat berat. Aku tidak punya keberanian untuk menatap wajahnya lebih lama.  

Aku sadar, waktu itu terbilang nekat. Mata ku sangat sembab karena menangis. Menjadi sebuah alasan pula untuk tidak menghadiri mata kuliah dalam satu hari penuh. Aku sangat lemah. Tapi Fadli selalu bilang bahwa aku ini adalah wanita yang kuat. Saat bersamanya kemarin, aku sempat bertanya, “Ini serius putus?”, lalu Fadli menjawab dengan anteng yang sekaligus membuat jantungku sekali lagi berdenyut, katanya, “Iya serius”. Aku dibungkam kenyataan. Kemudian Fadli ikut bertanya, “Ada hal lain?” tapi tentu aku harus menjawab tidak. Sampai disini sudah cukup. 

Setelah menyelesaikan kegiatan makan dan mengantarkanku pulang pun tidak ada lagi yang Fadli bicarakan. Aku mencoba tegar karena Fadli suka mengingatkan bahwa aku haruslah menjaga diri dengan baik dan tidak melakukan hal-hal aneh. Tapi, aku tetaplah aku yang tidak mendengarkan kata-kata orang. Esok harinya, aku memulai hari baru dimana tanpa kehadirannya belum biasa. Aku tidak tahu kabar Fadli sekarang. Fadli sedang melakukan apa, dimana, dengan siapa aku tidak lagi tahu menahu. Aku tidak berniat mencari. 

Mungkinkah Fadli merasakan hal yang sama? Aku harus terbiasa dengan keadaanku sekarang, aku akan kembali menata diri. Aku ingin mencoba menahan asa, niat ingin menghapus semua tentangnya dan lupa. Tapi Fadli berpesan bahwa dia tidak setuju jika aku benar-benar menekan tombol blokir sosial media dan memutuskan tali persaudaraan. Fadli ingin berteman denganku walau hubungan kami telah berakhir. Ya, aku tahu kami memutuskan hubungan dengan cara yang baik, namun itu buruk bagiku. Aku tidak sedang baik-baik saja. Aku kecewa dengan diriku sendiri. Apa mungkin Fadli muak dengan semua sikapku? Tapi, untuk kesekian kalinya aku tidak bisa menyalahkan diriku sendiri karena menjalankan sebuah hubungan tentu tidak berjuang sendirian. 

Aku sedikit puas setidaknya tak lagi ada yang di khawatirkan setelah ini. Dan sepertinya Fadli sangat takut seandainya aku berbuat hal buruk. Aku bertanya dalam senyap kenapa dia masih saja bisa peduli? Bukannya hubungan itu sudah berakhir? Sesekali Fadli masih berkomentar di media sosialku. Aku hanya membalas sepatah kata, dan terkadang aku hanya membacanya. Aku ingin terlihat biasa saja saat Fadli menghubungiku walau sebenarnya merasa kesepian. Temanku adalah satu-satunya pendengar yang baik ketika ku bilang sangat ingin melupakan semua kisahnya. 

Aku tidak ingin terlihat kacau karena itu akan menjadi boomerang untuk diriku sendiri. Mungkin sesekali saja boleh bersedih. Tuhan lah maha pendengar yang baik. Aku tahu itu. Aku lihat Fadli biasa saja setelah semuanya berakhir, tidak merasa sedih sekalipun, ia justru asik dengan teman-temannya. Mungkin ia juga sudah mendapatkan yang baru. 

Dulu aku akan sangat senang ketika pergi dan harus melewati rumahnya, padahal aku tahu Fadli sedang tidak ada di rumah. Kebetulan rumah kami dekat. Aku sangat suka kucing dan Fadli punya kucing, namun sebenarnya Fadli adalah orang yang takut dan tidak suka menyentuh kucing, aku ingin sekali merawatnya tapi sekarang aku tidak bisa lagi melihat kucing-kucingnya. 

Oh ya, kali pertama aku masuk kuliah aku mengikuti organisasi yang sama dengannya. Itu adalah organisasi seni internal. Aku memilih untuk ikut menari, dulu aku sangat semangat latihan setiap minggunya. Fadli sangat menyemangati aku waktu itu. Tetapi saat Fadli sudah tidak bersamaku aku memutuskan untuk berhenti dari organisasi tersebut. Padahal awal tahun nanti akan diadakan acara, dan aku akan mengisi acara tersebut dengan menari. Semua sudah dipersiapkan secara matang. Tetapi aku memilih berhenti begitu saja. Konyol memang, hanya karena masalah ini, aku mengorbankan kegiatan yang aku sukai. Aku berpikir tidak mengapa aku berhenti dari organisasi tersebut, daripada aku harus bertemu lagi dengannya. 

Aku merasa kasihan dengan mentor tari, karena aku berhenti teman-temanku menjadi kurang anggota. Karena sebelumnya jumlah anggota kami memang sedikit. Teman-temanku dan mentor tariku seolah tidak ingin aku berhenti. Mereka mencoba membujukku agar aku tidak mengundurkan diri. Dan akhirnya mereka pun tidak bisa memaksakanku. Ini semua memang kemauanku, mentor tari ku menanyakan alasan mengapa aku memilih untuk berhenti. Aku tidak bisa menceritakan, aku hanya keukeuh dengan kemauanku. Aku tidak tahu kedepannya lagi seperti apa, aku hanya bisa mengikuti alurnya sekarang. Aku hanya ingin menenangkan diriku sejenak, mencoba bangkit, dan meneruskan tujuanku untuk kuliah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar