Jumat, 20 Desember 2019

Jika Kita Bertemu


Jika Kita Bertemu




Kamu adalah seseorang yang membawa diriku pergi. Semoga kamu bahagia dengan segala hal yang sudah kamu buat luka. Semoga langkah baik selalu menyertaimu. Jika nanti, semesta mempertemukan kita lagi segeralah menghindar, sebab bagiku kamu tidak lagi sesuatu yang menarik meski rindu tak sepenuhnya memudar. 

Jika kita bertemu, berpura-puralah tidak pernah saling melengkapi. Berpura-puralah tidak saling mengenal sebelumnya. Sebab setelah kepergianmu, luka dihatiku masih terasa lengkap. Aku pernah begitu sabar berjuang sepenuh hati. Aku takut kehilangan diriku begitu lama. Aku takut menjadi asing dengan hal-hal yang kupunya. Akulah orang yang sangat rapuh saat kehilanganmu. Mengapa kamu membawa diriku pergi begitu jauh lalu meninggalkanku begitu saja. Kini aku butuh waktu yang lama untuk melupakan dan menyembuhkan. 

Pernahkah kamu belajar memahami? Bahwa melupakanmu adalah jalan berlubang yang harus kutempuh sendiri. Aku harus melangkah pelan-pelan agar tak jatuh dan tetap bisa sampai ke tujuan. Itulah alasanku tidak ingin lagi bertatapan denganmu di hari depan. Aku takut, aku jatuh lagi pada lubang yang sama, dengan luka yang sama. 

Aku butuh waktu untuk pulih, waktu yang panjang untuk kembali. Tetaplah menjauh agar hidupku bisa kujalani dengan seharusnya lagi. 

Aku menyadari satu hal yang bukan untukku, sekeras apapun kupaksakan, tetap saja tidak akan menjadi milikku. Yang kuperjuangkan sekuat usahaku, jika kamu tak memperjuangkan aku sepenuh hati, tetap saja kita akan berlalu. 

Hidup terlalu pendek untuk dihabiskan dengan kesedihan berkepanjangan. Aku belajar menerima diri bahwa aku memang bukan orang yang kamu inginkan. Kelak, suatu hari nanti kamu juga harus belajar menyadari. Bahwa kamu sudah kulupakan dan bukan orang yang penting di kemudian.
Aku pernah bilang, aku tidak ingin melihatmu lagi. Alasanku sudah jelas bukan? Apa kamu mengerti? 

Dan katanya, manusia itu pintar bersandiwara menyembunyikan perasaannya. Lalu sandiwara apa yang kamu buat hingga aku tidak melihat dirimu sedih atau menyesal karena sudah meninggalkan? Kamu terlihat bahagia sekali. Seolah-olah seperti tidak ada beban menyedihkan dan penyesalan dalam hidupmu. Hebat ya, kalau begitu ajarkan aku supaya aku bisa bersandiwara sepertimu. 

Semoga kelak, kamu tidak merasakan hal yang sama sepertiku dikemudian hari. Di setiap langkah pergimu kukirimkan doa agar dibenamkan rindu. Kelak, saat semua terasa sudah biasa. Semoga rindu tidak membuatmu menjadi gila. Cukup merenungkan saja apa yang telah kutinggalkan untuk mengejar sesuatu yang kamu sebut bahagia. 

Tanamlah apa yang ingin kamu tuai nanti. Aku belajar melepasmu pergi dari hari ke hari. Hingga suatu saat nanti, kusadari tidak ada gunanya menyertakan dirimu dihidupku lagi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar