Akhirnya, Aku Harus Mengerti!
Hai, aku Meilyta. Dulu aku seorang pelajar di salah satu SMA Negeri
tepatnya di kota Cantik Palangkaraya. Namun ketika itu pula, aku memulai masa lalu
yang buruk tentang menjalin sebuah hubungan percintaan. Dimana akibatnya harus membuatku
takut memulai kembali sebuah hubungan dengan orang yang baru.
Akan tetapi, seiring berjalannya
waktu perlahan aku dapat memberanikan diri lagi untuk menerima sebuah perasaan,
berusaha memberikan respon baik apabila seseorang ingin dekat. Dan pada
akhirnya, aku memang kembali dibuat memberi sedikit hati pada seorang pria yang
kalau dipikir-pikir cukup baik daripada sebelumnya.
Namanya, Fadli. Kebetulan
memang satu kampus denganku nantinya jika aku dinyatakan lulus setelah melewati
beberapa test sederhana. Entah sebuah kebetulan atau ini memang takdir, sebelum
aku mengenalnya aku memang sudah bertekad untuk bisa lulus dan menjadi
mahasiswi di institut itu. Aku telah melewati ujian akhir di sekolah dan terus menunggu
tanggal pengumuman hasil test sampai
sebuah kabar datang, alhamdulilah aku benar-benar lulus ujian masuk institut
dambaan.
“Kita satu kampus, jadi
lebih sering ketemu deh.” pikirku. Disini aku sangat senang melebihi duka ku
dulu.
Berawal dari perkenalan
di sosial media instagram, kami saling kenal. Awalnya hanya saling follow, komentar
instastory kemudian saling tukar nomor whatsapp, lucu ya perkenalan kami. Satu
minggu kami berbalas pesan diruang chating pribadi, rasanya semakin dekat hingga tumbuh perasaan nyaman, rasa
ingin memiliki. Aku lupa masa lalu ku yang buruk. Semudah itu jatuh cinta.
Tanpa ku mintai
bertemu, keesokkan hari nya Fadli lah yang lebih dulu berinisiatif. Saat itulah
moment pertama kami diawali, dihabiskan dengan pembicaraan, menemaninya mencuci
motor, keliling kota, sampai lelah dan lapar datang. Makanan yang ku sepakati di
pertama kali perjumpaan ini adalah soto. Fadli bilang selain bebek dia sangat
suka soto.
Hingga detik itu status
kami masih sebagai teman. Aku jadi semakin menyukainya karena Fadli adalah
orang yang sederhana, sopan, dan pandai beragama. Perkenalan singkat seperti
itu sebenarnya kuharapkan menjadi pilihan
terbaik saat dia bilang ingin hubungan yang lebih dari sekedar teman.
Pada waktu itu, 5 April
2019 kami pun resmi berstatus pacaran. Fadli adalah kakak tingkatku di kampus yang
sudah menginjak ke semester lima,
sedangkan aku masih mahasiswa baru dalam tahap ospek. Selama ospek Fadli selalu
berbaik hati membantuku, seperti menjawab tugas-tugas yang diberi oleh kakak-kakak
panitia. Aku merasa aku adalah mahasiswa baru paling beruntung pada saat itu.
Setelah masa-masa ospek
berakhir, jadwal perkulihan dimulai. Ketika memiliki jam kosong kami tidak
jarang menghabiskan waktu bersama seperti pergi makan, berbagi pengalaman, seru
lah pokoknya. Aku mengalami fase dimana orang bilang bahwa dunia hanya milik berdua,
yang lain ngontrak ditengah kasmaran cinta manusia.
Aku bangga, aku bahagia,
Fadli pun sama. Waktu berjalan begitu cepat menuju bulan ketiga jalin hubungan
dan kami masih sama, tidak ada yang berubah. Fadli selalu rajin mengingatkan sholat,
mengaji, mengerjakan tugas tepat waktu, dan hal kecil lain. Intinya untukku.
Fadli selalu mengajarkan ku tentang banyak sekali kebaikan untuk diriku sendiri agar dapat menjadi pribadi
yang lebih baik walaupun kami masih sama dalam tahap belajar. Sungguh, pertama kalinya aku
mendapatkan pria yang kuanggap memiliki figur seorang Ayah idaman.
Aku menganggapnya seperti
itu karena selama ini aku belum pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah yang
sebenarnya. Jika ibu tinggal dikota yang sama denganku saat ini, pasti dia juga
setuju untuk menyukai Fadli. Aku kagum dengan aktivitas Fadli yang selalu datang ke majelis pada hari
tertentu dan tidak jarang Fadli mengajakku ke majelis untuk mendengar kajian islam
bersama.
Selain itu aku suka
Fadli yang juga menjadi seorang guru seni. Dia mengajar di sekolah, di dalam
organisasi kampus, bahkan mengajarkan
ilmu seni kepada Ibu-ibu sekalipun dia bersedia. Seperti itu saja aku sudah
cukup bahagia ketika tiba-tiba ingat kegigihannya. Aku anggap Fadli sebagai
pengganti ayah dalam melindungi dan menemaniku berjuang dalam tahap kehidupan
dikota perantauan.
Namun kemudian tidak
juga semulus jalan yang kuharapkan. Tiba pada masa dimana kami merasa jenuh.
Itu menimbulkan ketidakseimbangan perasaan yang akhirnya membuat satu masalah seperti
duri yang siap menancap, menjadi pembatas diantara kami berdua. Aku yakin aku
yang akan terluka, aku tahu. Tapi, aku tidak menyadari satu hal pada waktu itu.
Yang kukira akan segera berakhir tapi dengan santainya Fadli memilih menjadi
pihak yang mengalah. Aku disadarkan olehnya bahwa aku lah si pemilik sikap
egois, aku melakukan sesuatu yang pastinya tidak disukai Fadli.
Aku pernah melampiaskan
rasa jenuhku dengan video call, chatting dengan laki-laki lain. Fadli tidak
tahu saat itu, cara ini memang bukan cara terbaik. Egoisku memang selalu menang.
Aku berharap Fadli tidak melakukan hal yang sama. Darisana aku mempelajari
bahwa rasa jenuh itu pasti ada dalam setiap hubungan. Wajar ketika mengalaminya,
tetapi bukan untuk dijadikan alasan dalam menyelesaikan suatu hubungan.
Memasuki enam bulan
hubungan, aku merasa ada yang berbeda. Aku yang selalu punya pemikiran negatif
menjadi faktor. Aku rasa Fadli juga semakin mengurangi waktunya untukku. Aku
tahu Fadli memiliki banyak kesibukkan yang harus diselesaikan bersama
teman-temannya lalu terkadang aku juga merasa iri diwaktu bersamaan karena hal
itu. Beberapa minggu berlalu, semakin hari semakin merasa terabaikan. Tapi aku hanya
memilih diam, merenung, dan berpikir. Apa aku sudah tak dianggap? Atau apa aku
yang terlalu membawa perasaan? Aku memang adalah yang selalu punya pikiran
buruk terhadap perilakunya akhir-akhir ini. Aku suka menuduh hal yang tidak
mungkin Fadli lakukan. Aku paranoid terhadap hubungan karena masa lalu, perasaan
takut itu muncul lagi setelah lama hilang. Apalagi Fadli mempunyai murid dan
teman-temannya yang kebanyakan perempuan.
“Aku merasa tersaingi,
aku merasa mereka lebih cantik dan menarik dibanding aku”. Kataku dalam hati.
Tetapi, dipikir kembali dari sekian banyak perempuan yang Fadli kenal, aku adalah
yang memenangkan hatinya. Hal ini membuatku berpikir lebih keras, kenapa Fadli
memilihku sedangkan aku tidak tahu kelebihan apa yang ku miliki. Aku hanya
terus merasa memiliki banyak kekurangan. Aku senang untuk itu, saat Fadli
mengenalkan ku pada semua teman-temannya. Mengakui bahwa aku ini adalah
pacarnya. Waktu itu aku pernah diajak pergi ke cafe untuk menemaninya
mengerjakan tugas yang katanya aku boleh ikut sambil bersenda gurau bersama
teman-temannya. Tetapi ketika sampai ditujuan aku hanya didiamkan. Aku memang tidak
mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi
Tuhan memang tidak berpihak pada orang yang salah, aku baru tahu bahwa waktu
itu ternyata Fadli hanya berbohong. Fadli tidak sedang mengerjakan tugas. Aku ingin
marah tapi akan tidak sopan jika kemarahanku meledak di depan teman-temannya.
Aku lelah juga kesal karena berjam-jam didiamkan.
Fadli terlalu sibuk, mengabaikanku
seperti boneka pajangan. Aku beribu-ribu kecewa.
Sejauh pertama kali, Fadli
tidak pernah menyakitiku. Kami baik-baik saja. Fadli sosok yang tidak pernah
mengumbar janji, selagi Fadli bisa melakukan apapun akan dilakukannya untukku. Namun
dari semua kebaikannya, aku hanya tidak setuju pada satu hal. Fadli yang selalu
bersikap seolah kurang peka, Fadli tidak begitu memahamiku yang memiliki banyak
sekali kekhawatiran. Mungkin dia juga lelah tapi terkadang aku hanya ingin
dipahami ketika sedang dalam kondisi terpuruk.
Kami berseteru besar karena
masalah-masalah terus datang. Pada akhirnya aku retak. Fadli memutuskan
hubungan denganku. Aku terkejut namun dengan skakmat tetap berkata ‘ya’.
Selisih beberapa jam kemudian notifikasi smartphone-ku berbunyi. Itu dari Fadli,
katanya, “sayang, kita enggak jadi putus deh, ralat yang tadi, maaf”.
Aku merasa dipermainkan
tapi untuk kali ini aku maafkan, kita tidak jadi putus hubungan. Bodohnya aku
saat itu.
Bulan Desember adalah
bulan yang menyedihkan untukku. Bagaimana tidak, hubungan kami baru memasuki delapan
bulan dan di bulan ini juga kami harus benar-benar berpisah. Aku patah. Fadli memutuskan
hubungan untuk kedua kalinya dan aku kembali berkata ‘ya’ dengan perasaan beku.
Ini serius, hubungan kami telah berakhir. Mungkin Fadli sudah muak dengan semuanya,
akupun merasakan hal yang sama. Aku sudah menyiapkan hati jauh-jauh hari, aku
tahu akhir yang akan diberikan padaku olehnya.
Aku akan berterimakasih
karena dia pernah menjadi bagian dalam hidupku walau untuk sementara. Delapan
bulan tidaklah mudah untuk dijalankan. Semua butuh proses untuk melupakan. Aku
sakit hati karena Fadli memutuskan hubungan ini secara sepihak, tetapi apa
boleh buat. Aku memilih diam untuk kesekian kali, menyembunyikan semua
kesedihanku. Aku ikhlas walaupun akhir kisahnya tidak sesuai dengan harapanku.
Mungkin Allah akan menggantikan yang lebih baik, dan mungkin dia bukan yang
terbaik untukku. Bahagia dengan jalan dan pilihan sendiri, dan ini semua adalah
yang Fadli inginkan. Aku terpuruk sekali, tapi aku tidak bisa menahannya karena
cinta tidak perlu dipaksakan. Memang seharusnya hubungan kami berakhir. Aku
berdoa semoga Fadli mendapatkan yang lebih baik, cepat lulus dan wisuda. Aku
hanya akan menyusul dengan jalanku sendiri. Jangan lelah untuk mencari ilmu.
Satu lagi pesanku, jangan kembali disaat aku sudah melupakan. Aku tidak akan
menerima, bahkan untuk sekedar melihatmu pun aku tidak ingin lakukan. Maaf atas
keegoisanku, sifat kekanak-kanakanku, dan terkadang mengekang. Yang membuatmu
risih. Terimakasih masalalu mengalirlah seperti air, dan akan aku ikuti
alurnya.
Aku ikhlas, bismillah.