Sabtu, 02 Mei 2020

Mengikhlaskan Yang Lepas

Mengikhlaskan Yang Lepas



Aku pernah berada didalam fase dimana aku malas bergelut dengan sesuatu yang penuh kekangan. Dekat dengan teman dibatasi larangan. Menjalankan suatu hubungan yang bisa dibilang itu toxic relationship. Sampai akhirnya aku menemukan “kamu” yang merubah pola hidup dengan sesaat. Menuntun langkahku yang hampir sesat, memberi bahagia yang biasanya berakhir cepat. 

Tak berbeda setelah kamu membuatku bahagia, membawaku terbang jauh ke angkasa, kamu patahkan sayap yang kamu berikan. Sampai akhirnya aku jatuh dan sayapku tak mampu lagi untuk kukepakkan akibat patah yang sangat sakit dirasakan. 

Kali ini, aku tak bertujuan mengemis perhatian, memohon hangatnya dekapan, ataupun meminta kembali melanjutkan cerita yang kini sudah asing. 

Mungkin karena kamu sangat istimewa, aku memohon izin, mengabadikan kisah kita. Mulai dari tak saling kenal hingga mengenal satu sama lain, dari malu-malu sampai tak tahu malu. Izinkan aku mengabadikan perjalanan kita dalam tiap tulisan. Mulai dari aku dan kamu bukan siapa-siapa, sampai akhirnya menjadi kita, dan kembali pada pengasingan yang begitu menyakitkan. 

Mengikhlaskan yang lepas, merupakan perjalanan aku dan kamu dari pertama bertemu. Mulai dari merasakan indahnya jatuh hati, sakitnya patah hati, dan sulitnya pulih kembali

Minggu, 05 April 2020

Happy Failed Anniversary


Happy Failed Anniversary  


Di hari Minggu yang cerah ini tepatnya tanggal 5 April 2020, semuanya mengingatkan aku kepada kenangan yang pernah terjadi dulu. Ketika berawal kamu datang di kehidupanku semua terasa berubah. Semua sakit yang aku rasakan sebelumnya, aku merasa terobati. 

Waktu itu kamu datang, diwaktu yang sangat tepat. Entah mengapa rasanya sangat sulit untuk aku melupakan tanggal ini, tanggal dimana aku dan kamu saling memiliki, tanggal yang dulu selalu kita peringati dengan kebersamaan setiap kali.   

Mungkin sekarang kamu sudah lupa dengan tanggal ini. Aku tahu tanggal ini sudah tidak ada istimewanya lagi, karena keadaan kita sudah berbeda. Aku hanya ingin mengenang. Tidak salah kan?

Tanggal ini dimana aku dan kamu sama-sama kita membangun hubungan ini, saling mengenal sifat satu sama lain agar saling memahami. Sakit rasanya harus melewati tanggal ini sendirian. Sakit rasanya menahan mulut untuk mengucapkan “Happy Anniversary, Sayang!” aku selalu berandai-andai. 

Jika saja hingga detik ini kita masih bersama, mungkin kamu akan mengajak aku pergi jalan-jalan atau mengajak aku makan ke tempat yang belum pernah kita datangi. 

Sekarang dengan keadaan yang berbeda, aku hanya bisa mengingat. Bukan merayakan!















Selasa, 24 Maret 2020

Rasa Yang Hilang Oleh Waktu


Rasa Yang Hilang Oleh Waktu  

  

Perlahan rasa ini hilang begitu saja beriringan dengan jalannya waktu. Perlahan aku bisa menerima dengan ikhlas  bahwa kepergianmu bukan untuk kembali. Dan mungkin kamu tidak akan pernah kembali lagi. 

Aku sudah bisa merasakan dan menilai bahwa diriku sudah tidak sesakit dulu waktu pertama kali kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan. Mungkin semua perlakuanmu akan terbalas suatu saat nanti. 

Semenjak kamu pergi, memang aku merasa ada yang hilang dari diriku. Aku mencoba untuk mencari apa yang telah hilang dari diriku ini. Dan aku sadar, ternyata aku kehilangan dirimu begitu dalam. Sampai aku merasakan seperti ada yang hilang dari setengah yang ada pada diriku ini. Aku tidak bisa berdiam diri seakan-akan aku menunggumu untuk kembali. Sudah terlalu lama aku menunggumu, tapi nyatanya kamu tidak ada. Aku tidak bosan menunggu sampai kapanpun, hanya saja aku merasakan lelah saat menunggumu terlalu lama, nyatanya kamu sudah tidak ingat jalan untuk pulang.  

Seiring jalannya waktu pun semua hal itu menjadi terbiasa dan rasa sakit ini menjadi biasa saja sekarang. Apakah aku sudah sembuh dari luka yang sudah kamu beri? 

Semenjak dirimu pergi, ada seseorang yang datang walaupun hanya sekedar menyapa lalu memberi perhatian lebih dan sebagainya. Tapi sayangnya dari semua orang itu tidak ada yang sama sepertimu. Ya memang aku tahu, tidak seharusnya aku menyamakan orang lain agar sama sepertimu. Karena aku tahu setiap orang mempunyai sifat dan karakter yang berbeda. 

Disini aku dapat belajar untuk menghargai seseorang yang datang kepadaku. Seseorang yang selalu ada untukku. Karena disaat aku terpuruk atau merasa bahagia, bukan kamu lagi orangnya. Kamu sudah tidak ada lagi disisku. 

Ada seseorang yang membuat aku bahagia dengan caranya sendiri, yang sangat berbeda dari caramu membahagiakan aku dulu. Ini adalah kedua sisi yang berbeda dari kamu dan seseorang itu.

Kamis, 05 Maret 2020

Tetaplah Ada Meski Hanya Untuk Kukenang


Tetaplah Ada Meski Hanya Untuk Kukenang



Merindukanmu sewajarnya, mengingatmu seperlunya, dan merelakanmu seutuhnya. Aku yakin, aku pasti mampu merelakanmu. Tak seharusnya perasaan yang pernah ada untukmu menjadi sebuah penjara yang menjadikanku tidak bebas. Tak seharusnya aku tetap berharap pada hati yang sudah membuatku merasa tak berharga. Dan sudah seharusnya merelakanmu adalah caraku menghargai diriku sendiri. 

Aku tak pernah menyangka bahwa pada akhirnya kamu memilih untuk menjadi seseorang yang salah untukku. Seseorang yang mudah meninggalkan luka, tanpa memberikan sedikitpun aba-aba untuk menerimanya. Dan aku tak pernah membayangkan bahwa pada akhirnya kita akan terpisah dan memisahkan dua hati yang salah satunya ingin tetap bersama. Aku menginginkan kamu tetap tinggal. Aku ingin tetap berjuang mempertahankan meski kamu tetap keras kepala ingin segera berpisah. 

Kamu boleh pergi, tetapi jangan meniadakan perasaanku. Jangan pergi untuk membenci. Perjuanganku belum seharusnya berakhir. Aku masih mampu, meski kutahu waktu itu cintamu sudah tak lagi terasa utuh. Perpisahan tak seharusnya menjadi jawaban untuk perjuangan kita, tak seharusnya menjadi akhir yang banyak menjatuhkan air mata. 

Cinta memang tak selamanya tentang harus selalu bersama. Setia tak selalu tentang tetap saling memiliki. Aku tetap memilih setia, meski kamu yang tak lagi ada. Tak mungkin aku berpindah hati. Kamu memang layak mendapatkan yang lebih baik. Kamu harus bahagia, cukup aku saja yang merasa terluka. Kamu memang layak mendapatkan seseorang yang lebih pantas. Kamu harus bahagia, cukup hatiku yang sakit karena kamu buat patah. 

Perjalanan setelah tak bersamamu, aku yakin takkan pernah mudah. Berusaha tegar bukanlah keahlianku saat menghadapi kesendirian. Berusaha tabah bukan keahlianku saat menghadapi kenyataan. Perasaanmu untukku sudah tak lagi ada. Hancur, harapanku mati terkubur. 

Kamu tetap ada sebagai seseorang yang indah untuk dikenang. Biarlah kesendirian membawaku pada seseorang yang lain setelah kehilanganmu. Seseorang yang kutemukan dan mampu mengalihkan perasaanku yang berlebihan untukmu dulu. Biarlah perasaanku untukmu tetap ada sebagai bukti, bahwa di dunia ini ada manusia yang tetap mencintai meski sudah ditinggalkan pergi. Tak apa jika dianggap menjadi sebuah kesalahan, itu lebih baik karena orang yang membohongi perasaannya sendiri adalah sebuah kebodohan.


Rabu, 04 Maret 2020

Selamat Bertambah Usia


Selamat Bertambah Usia



Selamat bertambah usia. Sedikit gugup aku mengungkapkannya. Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan pada tanggal 4 Maret keduapuluhmu ini. Tiap hurufnya kuambil dari rasaku padamu yang masih tersisa dalam hati. 

Kesatu, kamu harus tahu, tulisan ini kubuat tepat seminggu atau beberapa bulan sebelum hari jadimu. Semata-mata aku hanya ingin menjadi yang pertama mengucap selamat padamu. Meski kutahu bukan lagi hadirku yang kamu tunggu dan kamu rindu. 

Kedua, aku ingin kamu terus sentosa. Menikmati hari-hari indah setelah melepas pelukku. Bersama ia yang telah kamu pilih sebagai rekan bahagia. Aku paham bahwa pada akhirnya cerita nantinya posisiku akan tergantikan. Meski begitu, sampai tulisan ini telah usai dirangkai pun masih berat bagiku untuk mengikhlaskan. Semoga kekasihmu dapat memberi pengertian layaknya diriku ketika kamu keluar dari batasan. 

Terakhir, meski kisah kita telah selesai, kuharap kenangan manis yang tak sengaja pernah kamu torehkan takkan habis terurai. Sampai pada akhirnya masing- masing dari kamu dan aku telah menjelma jadi pecinta yang lihai. Segala tutur manismu yang membuat aku selalu menjadi bogeman yang pukulannya tak pernah selesai. 

Jangan risau, pekat rasaku akan terbaca oleh banyak mata. Biarkan seluruh semesta tahu bahwa aku pernah mencintaimu, sampai saat ini pun aku masih. 

Sekali lagi, selamat bertambah usia.
Titip salam buat ibumu.
Kuharap dimasa mendatang kita dapat berjumpa lagi.

Senin, 02 Maret 2020

Penikmat Kenangan


Penikmat Kenangan


Apa salahnya menjadi penikmat kenangan? Mungkin menurutmu itu tak asik, berlama-lama bermain dengan luka. Tapi bagiku ini justru menyenangkan, karena kenangan lah yang dapat mempertemukanku denganmu disatu ingatan. Dimana hanya ada aku dan kamu, kamu nyata, kamu benar-benar menjadi milikku utuh, tidak ada orang lain atau siapapun yang dapat mengganggu. 

Sungguh, kamu harus mencobanya. Hanya dengan mengingat, lalu kamu akan mendapat semua yang kamu ingin tentangnya. Tapi aku tidak bisa menjamin kamu akan bahagia setelahnya. Sebab yang aku rasakan hanya bahagia sesaat saat mengingat, kemudian aku merasakan sakit yang sangat teramat. 

Aku kehabisan kata-kata untuk mengutarakan luka. Begitu banyak hal-hal yang membuatku kecewa, hingga akhirnya hati tak mampu menampung semua rasa sakit yang ada. Memang, aku yang membuat luka ini sendiri, tanpa ada sedikitpun campur tangan darimu. Sebab ini karena aku yang terlalu ingin memilikimu tapi tak mampu. 

Aku tahu, Tuhan memberikan ini bukan untuk melemahkan, melainkan untuk menguatkanku. Tuhan mengingatkanku untuk beristirahat agar hatiku tak terluka karena terus menerus kecewa. 

Aku sangat benci pernah menjadikanmu orang teristimewa dan memberi tempat yang berbeda di hatiku. Kamu tak pantas ada disana. Ternyata benar, orang yang benar-benar disayangi nyatanya adalah orang yang benar-benar menyakiti.  

Jumat, 28 Februari 2020

Pertemuan Singkat


Pertemuan Singkat
  



Malam itu adalah malam yang membuat aku sedikit bahagia campur dengan rasa menyesal. Kita dipertemukan kembali didalam acara yang sama, tetapi kamu untuk melihatku saja kamu seperti tak ingin. 

Tidak seharusnya aku datang ke acara pagelaran seni di kampus, yang aku tahu kamu pasti akan datang untuk melihat murid-muridmu tampil. Dan ternyata benar, aku melihatmu meski dari kejauhan. Kita bertemu walaupun kita tidak bertegur sapa seperti dulu, kini benar-benar menjadi orang yang sangat asing, dan aku tidak mengenali dirimu lagi. Perasaanku campur aduk saat itu, mataku hanya tertuju padamu sampai acara selesai. 

Entah mengapa kamu tidak sedikitpun melirik ke arahku, padahal kamu tahu, aku juga berada di acara yang sama sepertimu. Kini kamu tak lagi sama. Semua berubah semenjak kamu bersama orang yang baru. 

Aku merasa diriku bodoh karenamu yang masih saja mengharapkan dirimu untuk kembali. Yang jelas-jelas untuk melihatku saja kamu tak ingin. 

Jujur aku ada rasa benci menuliskan kalimat ini. Padahal aku pernah janji dengan diriku sendiri untuk tidak bertemu dengan dirimu lagi, ataupun dalam satu acara yang sama. Sampai aku rela meninggalkan grup Tariku hanya untuk menghindar darimu di acara itu. Tapi nyatanya aku datang, aku datang sebagai penonton. Disitu aku merasa ingkar, aku ingkar bahwa tidak seharusnya aku datang ke acara tersebut. Dan aku lebih merasa ingkar disaat aku melihatmu kembali. Aku pernah berjanji dengan diriku sendiri bahwa pertemuan terakhir kita disaat aku meminta bertemu dan bersua untuk yang terakhir kalinya. Yang ku kira itu adalah pertemuan yang benar-benar terakhir dan mungkin saja aku tidak akan melihatmu lagi. Tapi takdir mempertemukan kita kembali. 

Sungguh aku menyesal telah ingkar dengan diriku sendiri. Disisi lain aku juga bahagia bisa melihatmu lagi. Aku melihatmu dengan sosok yang berbeda. Bukan dirimu yang aku kenal dulu. Tapi aku bisa apa? Aku melihatmu hanya bisa tersenyum dan membuatku sedikit lebih bahagia. 

Ini adalah pertemuan singkat kita, walaupun tidak bertegur sapa, tak apa. Aku melihat dengan kondisimu yang baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup.


Jumat, 31 Januari 2020

Belajar dan Bangkit


Belajar dan Bangkit



Aku bersikap seolah kamu memang pantas dengannya. Aku solah-olah menerimanya dengan lapang dada. Aku memperjuangkan sepenuh hati. Tetapi tidak mampu lebih keras untuk mempertahankanmu. Sebab, kamu jauh lebih keras untuk melepaskanku. 

Sangatlah lelah menghadapi fase ini. Sedih yang berkepanjangan. Pikiran yang berantakan. Luka yang menyayat hati. Merelakan orang yang dicintai. Namun dengan semua proses ini aku bisa bangkit kembalI. Menyadarkan diri untuk bisa belajar lebih baik lagi. 

Aku memang kekanak-kanakan. Sifat ini yang sudah membuatmu menjauh dan memilih seseorang yang menurutmu bisa diandalkan. Membuatku jatuh saat sedang terbang tinggi di atas awan. Tidak ada sedikitpun luka di tubuh yang dirasakan. Namun hati ini yang hancur berantakan. Sementara kamu merasa bahagia disana, dengan seseorang yang menurutmu menyenangkan. 

Aku akan memilih tetap hidup dengan menerima kepergianmu. Aku akan menuruti semua permintaanmu untuk melupakan semua yang telah berlalu. Dan sekarang aku sudah baik-baik saja tanpamu. 

Jika suatu saat pilihanmu membuat luka, belajarlah untuk tetap baik-baik saja. Mungkin kamu akan sedikit mengingatku. Namun tolong, jangan mencariku. Mungkin aku sudah baik-baik saja saat itu, dan sudah melupakanmu. 

Setelah semua ini sudah berlalu, semoga rindu tidak menjadi alasan lagi agar ingin bertemu. Doakan saja disana semoga semua rasa yang kumiliki ini bisa mati. Dan memulai langkah kepada rencana yang baru lagi. Semoga saja setelah kamu tidak denganku, dia bisa selalu ada untukmu. Tidak meninggalkanmu. Semoga dia tidak menjatuhkanmu seperti apa yang aku rasakan. Jika nanti memang itu terjadi, belajarlah untuk tabah. Siapkan dirimu jika hal buruk menimpamu. 

Bangkit dari masa lalu yang menghantui pikiran, dan kenanganku. Fase dimana dari awal aku terpuruk sampai sekarang aku akan belajar bahwa tuhan tidak tidur, dia punya skenario terbaik untukku.

Kamis, 30 Januari 2020

Berdamai Dengan Masa Lalu


Berdamai Dengan Masa Lalu



Perlahan aku sedang mencoba berdamai dengan masa laluku, berdamai dengan diriku yang sedang berontak ini, dan hati yang sedang hancur sehancurnya. Aku berusaha mengumpulkan semua kepingan yang tersisa untuk aku perbaiki kembali. Aku memperbaiki ini semua sendiri, tanpa bantuan siapapun. Hanya diriku sendiri lah yang dapat memulihkannya. 

Aku mencoba berdamai dengan masa lalu dan aku akan memperbaiki diriku untuk kedepannya. Aku lelah menyiksa diriku karena egoku sendiri. Aku lebih mementingkan ego sampai logika dan hatiku tidak berjalan. Ternyata aku sadar, selama ini aku hanya memaksakan begitu cepat untuk aku bisa melupakanmu masa lalu. 

Aku lupa hati ini sedang patah, dia butuh istirahat. Tetapi aku tetap memaksakannya. Perihal memaksa untuk melupa dan mengingatnya kembali. Selama ini aku tidak mengikuti alurnya dengan baik. Aku hanya mengikuti kemauanku sampai aku lupa hatiku tersakiti lagi dan lagi. 

Sekarang saatnya aku bangkit, berdamai dengan masa laluku dan memaafkan diriku sendiri. Kamu tahu, semenjak kepergianmu aku merasa sedang berkelahi dengan diriku sendiri, seperti aku tidak bisa untuk memaafkan diriku sendiri. Ini adalah hal yang tidak baik. Aku harus bisa merubah semuanya. 

Aku harus bisa menerima diri, menerima kenyataan, bahwa kamu memang benar-benar sudah tak jadi milikku. Mulai saat ini aku akan mencoba terbiasa dengan storymu di sosial media, karena aku ingin mencoba biasa saja saat aku melihatnya. 

Seandainya suatu saat nanti hubunganmu baru di publish aku akan terbiasa melihat. Yang pada akhirnya aku memutuskan semuanya untuk berjalan seperti biasa. Tidak ada blokir apapun di sosial media, dan whatsappmu aku save kembali. Tak apa seandainya nanti aku melihat hubungan barumu yang di publish, karena aku juga pernah merasakan diposisi itu. Aku tak mengapa, dan tidak ada masalah. 

Aku akan acuh jika melihat, dan aku pun tidak peduli. Aku ingin berjalan semua sesuai alurnya. Aku tidak ingin memaksakan egoku terus menerus yang membuat diri ini seperti merasa dikurung dalam kesakitan. Mungkin cara ini yang akan membuat aku bisa lebih dewasa, dengan aku merasakan sakit rasanya dikhianati. Semoga ini jalan menuju aku dewasa. Kamu tahu, menjadi dewasa itu tidak mudah.  Setiap kejadian pasti ada pembelajaran didalamnya. Aku akan bangkit dengan caraku sendiri, walaupun kadang menyakitkan tapi tak apa, itu caraku. 

Semoga aku bisa berdamai dengan masa laluku, dan aku bisa memaafkan diriku sendiri. Dan yang terpenting aku bisa memperbaiki hati agar utuh menjadi seperti semula, walaupun tidak sebaik dulu sebelum mengenal yang namanya cinta.






Selasa, 28 Januari 2020

Cukup Aku


Cukup Aku



Awalnya aku yang paling kekeh memintamu pada Tuhan, bahkan dengan rayuan yang sedikit memaksa. Awalnya aku yang paling semangat, mengusahakan kita agar bisa lebih dekat, menjalin cinta yang lebih erat. Awalnya aku yang paling ingin menjadikanmu pendamping, menjadikanmu seseorang yang aku ajak melangkahkan kaki beriring, mencapai kebahagiaan yang kuharapkan dalam impian dan ingin. 

Sekali lagi, awal tak selamanya sama dengan takdir, usaha tak selamanya membuahkan hasil sesuai apa yang diri ingin. Karena Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan dari apa yang kuinginkan. Dan semua ketetapan yang telah Tuhan rencanakan, aku bersyukur atasnya, karena yang melewatiku nyatanya adalah seseorang yang tak pantas untuk kuperjuangkan. 

Meski awalnya aku sempat kecewa, sedih dan meronta atas takdir perpisahan yang harus menghantam kisah cinta kita. Yang kutahu bahwa memang hanya akulah yang berjuang sendirian. Tapi ketahuilah, wanita yang sudah terlanjur percaya dan terlanjur cinta, tak akan pernah main-main dengan perasaan yang dia punya. Dan jika sekali saja kamu menyakiti dan merusak kepercayaannya, maka jangan harapkan hatinya akan kembali utuh seperti sedia kala. 

Dulu memang aku sangat menginginkanmu, berharap kamulah yang akan menjadi pelengkap segala kurangku. Teman yang akan menemani sisa-sisa usiaku. Seorang yang kelak menjadi penuntunku menuju surga milik Tuhanku. Tapi takdir berkata lain, nyatanya kamu hanya seseorang yang sekedar singgah untuk memberiku ujian dan pengalaman dan pelajaran untuk mendewasakan diri. 

Kuharap, cukup aku saja. Cukup aku saja, wanita yang telah kamu buat patah hatinya, kamu buat hancur kepercayaannya, dan kamu buat basah pipinya dengan linangan air mata yang tak berguna. Aku pernah kamu sakiti, dan aku merasakan bagaimana rasanya mencintai lalu dikhianati. Rasanya sakit sekali. Maka sebagai wanita yang pernah kamu buat patah, yang sedang mencoba untuk bangkit dalam tabah. Aku mohon, cukup aku saja. Cukup aku saja wanita yang kamu permainkan semaumu. Wanita yang kamu buat hancur hatinya karena dustamu. Cukup aku saja. 

Semoga dihati berikutnya tempatmu melabuhkan rasa, untuk yang terakhir kali, tolong buat dia jadi milikmu, dan berjanjilah untuk benar-benar menjaga kepercayaannya. Jika kamu mengulang kesalahan yang sama seperti padaku dulu, maka sungguh benar, tunggulah hukum alam datang menghukummu. 

Dulu mungkin aku pernah sangat mencintaimu, bahkan sampai berdoa untuk disandingkan denganmu. Namun kini, aku sudah tak lagi sama. Segores luka dalam dada, sudah cukup menjadi alasannya. Maaf kecewaku telah membuat rasa itu mati dan kuharap cukup aku saja wanita yang pernah kamu sakiti. 

Aku bahagia pernah dilukai olehmu, dengan begitu aku mampu menemukan jati diriku. 



Minggu, 26 Januari 2020

Sang Waktu


Sang Waktu



Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya aku bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupku untuk selamanya. Kemudian satu orang ini akan menjadi bagian terbesar dalam agendaku. Dan hatiku takkan memberikan pilihan apapun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata-kata bahwa resiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa. 

Hidup adalah serangkaian kebetulan. ‘kebetulan’ adalah takdir yang menyamar. Jika kita berjodoh, walaupun hari ini dan di tempat ini tidak bertemu, kita pasti akan tetap dipertemukan dengan cara yang lain. 

Perasaan laksana hujan, tak pernah datang dengan maksud yang jahat. Keadaan dan waktulah yang membuat kita membenci kedatangan. 

Kamu adalah detik dimana aku menyimpan sebuah rasa dalam dekap di dasar hati yang terdalam. Kamu adalah pembohong yang handal yang tak mampu aku ceritakan pada sang menit. Bahwa kamu adalah pembohong yang tak kunjung henti. Merobek semua harapanku. 

Sebelum kamu hadir dalam hidupku, hidupku nyaman-nyaman saja. Tapi setelah kamu hadir di kehidupanku, kamu membawaku dan menjebakku ke dalam duniamu yang membuatku tersakiti setiap detik, menit, dan setiap jam bahkan kamu tak memberiku izin untuk keluar dari hidupmu. Mungkin aku hanya butuh waktu sedetik untuk ku beristirahat dan menguatkan hatiku kembali.  

Aku lelah, bolehkah aku beristirahat sejenak untuk menata hatiku lagi? Lalu katakan pada sang waktu untuk berhenti walau sejenak sampai hatiku kuat dan dan tertata rapih kembali. Aku tak mampu untuk melawan waktu, aku hanya menanti agar sang waktu membawaku ke sebuah perasaan yang bahagia. Setelah sang waktu membawaku ke perasaan kesedihan, maka izinkan aku untuk bahagia tanpamu.




Jumat, 24 Januari 2020

Selepas Kita


Selepas Kita



Aku sudah banyak membunuh harapan-harapan mati, aku sudah sering mengubur janji-janji tak berisi, aku sudah banyak meredam tangis yang tak ingin jatuh di pipi. 

Kamu buat aku meratap setelah kamu berusaha membuat kita begitu dekat, lalu pergi meninggalkan sekat tanpa pamit dan tanpa memberi kejelasan apa yang harus kuperbuat.

Aku pernah amat terluka, setelah kamu campakkan begitu lara. Kamu tancapkan duri pada hati tempat namamu terpatri dengan segala rasa yang telah kususun rapi. Kamu tawarkan manis tapi akhirnya pahitlah yang harus kukecap. Cintamu dusta. 

Aku yang bodoh, karen telah membuka hati untukmu yang tak bisa memberi bukti. Aku yang bodoh, karena telah memberikanmu kesempatan untuk menggores luka lalu pergi meninggalkan. 

Tapi aku takkan pernah menyalahkan takdir untuk kisah yang membuat hidupku semakin getir, karena dengan inilah aku mendewasa, karena dengan inilah aku mengerti arti kata berharga. Jika aku tak pernah merasakan pedih ini sebelumnya, mungkin aku akan terus menerus terjerembab dalam rasa yang percuma. 

Hadirmu yang telah mengajarkanku arti kata cinta lalu mengajarkan aku arti kata melupa, akan tetap kusimpan dalam bilik kenangan. Aku tak akan memusnahkannya bukan karena aku masih cinta, tapi aku ingin terus dibuat mengerti bahwa patah hati tak melulunya soal perkara menangisi yang telah pergi, tapi juga tentang mengerti arti kesadaran diri. 

Sudah banyak jenis rasa yang kusesapi, sudah banyak jenis jalanan kulalui. Siang berganti malam, musim demi musim berganti sepanjang masa. Aku sudah terbiasa menerima luka. 

Takdir tuhan mungkin memang sedikit rumit, meski sulit akan tetap bersabar menjalani nasib. Aku selalu percaya bahwa selepas pergimu akan ada pengganti yang lebih baik. Mungkin waktu akan lebih sering menguji sabarku, tapi biarlah, itu lebih baik daripada hatiku harus terus menerus dirundung pilu oleh luka-luka. Untuk sabar yang panjang, untuk penantian yang tak berkesudahan, aku akan tetap berjalan sendirian dengan keyakinan penuh pada Tuhan.


Kamis, 23 Januari 2020

Sebuah Lagu Yang Sama Seperti Kisahku


Sebuah Lagu Yang Sama Seperti Kisahku



Kamu tahu ada sebuah lagu yang mewakilkan perasaanku, yang lebih tepatnya sama seperti apa yang sedang aku rasakan sekarang. Lagu ini lagu Barat yang wajib kamu dengar. Aku akan menuliskan sepatah lirik dan arti dari lagu yang aku maksud. Aku ingin kamu mendengarkannya, jika kamu suatu saat nanti membaca tulisan ini. 


All I Want – Kodaline

All I want is nothing more
Yang kuingin hanyalah
To hear you knocking at my door
Mendengar kau mengetuk pintuku
Cause if I could see your face one more
Karena jika ku bisa melihat wajahmu sekali lagi
I could die a happy man I’m sure
Ku yakin aku bisa mati bahagia
When you said your last goodbye
Saat kau ucapkan selamat tinggal terakhir kalinya
I died a little bit inside
Dalam jiwaku terasa mati
I lay in tears in bed all night
Aku terbaring di ranjang dengan tangisan sepanjang malam
Alone without you by my side
Sendiri tanpamu disisi
But If you loved me
Namun jika kau cinta padaku
Why’d you leave me?
Mengapa kau tinggalkanku?
Take my body, Take my body
Ambil tubuhku, Ambil tubuhku 

Aku berharap jika kamu sudah membaca tulisanku ini, kamu bisa mendengarkan lagunya. Biasanya aku mendengarkan lagu ini di spotify, cover Alexandra Porat, sumpah ngena banget. Aku ingin kamu mendengar, dan kamu tahu apa yang aku rasakan. 

Kamu ambil jiwaku dan menghilangkannya. Cinta kita kujadikan buku.

Aku Juga Bisa Bahagia


Aku Juga Bisa Bahagia



Aku tahu pada akhirnya kita hanya akan menjadi kisah tak berarti. Tapi perlu kamu ingat juga, bahwa hari-hari yang kamu lalui sebelumnya tak luput dari cerita aku dan kamu yang sama-sama melawan luka. 

Kamu juga pasti tahu bagaimana rasanya hancur saat ditinggalkan kemudian perlahan tak dipedulikan oleh orang yang kamu harapkan. Sakit bukan? 

Aku tak mengharap kepedulianmu, juga kembalimu. Aku tak ingin memaksa sesuatu yang sudah seharusnya pergi menjadi tinggal kembali karena aku yang memaksa keadaan. Seperti yang kamu bilang bahwa aku harus bahagia, aku percaya bahwa aku bisa, bahwa aku akan. Meskipun aku berjalan pelan-pelan, menoleh ke belakang, yang ternyata kamu sudah melangkahkan kaki menuju persimpangan lain. Kita tak lagi sejalan, dan kini aku tahu bahwa langkah yang bersamaan belum tentu berakhir pada satu tujuan. 

Aku masih mencoba menemukan bahagia yang kamu bilang. Tapi diakhir malam selalu saja tak ada. Entah kemana perginya bahagia yang harus kutemukan itu, mungkin ia sembunyi? Karena takut akan aku yang terlalu lemah menghadapi kecewa setelah adanya bahagia? 

Aku juga bisa bahagia. Iya, aku percaya. Tapi bahagia karena apa? Bukankah bahagiaku sederhana, mendengar bahwa kamu baik-baik saja sudah membuatku luka yang semula ada jadi tidak kenapa-kenapa. 

Jika nanti kamu menemukan aku sudah bahagia dengan sebenar-benarnya. Percayalah, bahwa malam-malam yang aku lalui sebelumnya selalu berakhir kecewa. Karena pada siang hari hingga senja perlahan menghilang. Aku hanya berharap bahwa kamu akan kembali membawa tawa. Tapi kamu tak kunjung ada. 

Sesekali kamu hadir dalam mimpi, menegaskan bahwa kamu memang tak pernah benar-benar nyata. Iya, nanti aku bahagia, ya. Seperti yang kamu mau. Tapi aku juga butuh waktu. Tak usah pedulikan seberapa lama aku butuh waktu untuk itu, bukan urusanmu. Tulus dari hati kuucapkan terima kasih. Dulu kukira bahwa perasaan yang tulus meski tak harus memliki itu hanya bualan semata. Tapi ternyata, aku mengalaminya. Kamu juga harus bahagia, meskipun dengan dia, yang diam-diam kudoakan dia mati saja.

Rabu, 22 Januari 2020

Merpati Putih Yang Baik Hati


Merpati Putih Yang Baik Hati



Kamu mungkin tahu yang aku maksud merpati putih ini siapa, jadi tidak perlu kusebutkan namanya ya, aku yakin kamu pasti tahu. Merpati ini adalah temanku, dia sangat baik, dia selalu berada dipihakku. 

Dia selalu menyampaikan kabar tentangmu lewat pesan singkat, bedanya merpati ini tidak mengirimkan surat, tetapi dia menyampaikan sebuah kabar tentangmu hanya lewat pesan singkat saja. 

Sebulan penuh aku belum bisa menerima kepergianmu, karena kamu meninggalkan aku dengan cara sepihak, lalu aku mencari tahu kabarmu lewat merpati putih ini. Dan dengan sabarnya dia mencari tahu tentangmu, yang pada akhirnya kabar tersebut sampai kepadaku. Selebihnya aku menerka-nerka sendiri. 

Tapi aku sedikit kecewa, karena yang ku dapat hanyalah kabar buruk semua tentangmu. Hanya sedikit aku mendapatkan kabar yang baik, yang membuat diriku merasa terambung selebihnya aku merasa jatuh. Tetapi aku tidak bisa menyalahkan merpati putih  ini, karena dia sudah membantuku banyak sekali. Mungkin karena kabar itu memang apa adanya, jadi aku harus menerima dengan lapang dada. 

Merpati putih ini bukanlah Malaikat Jibril, yang kutahu tugas Malaikat Jibril itu menyampaikan wahyu, bukan menyampaikan sebuah kabar tentangmu. 

Sekian lama aku seperti ini, aku merasa lelah. Aku saja lelah, apalagi merpati putih ini yang terus menerus aku suruh mencari tahu kabar tentangmu. Aku memutuskan untuk berhenti mencari tahu tentangmu lewat merpati putih ini, aku mikir semua juga sia-sia, yang ada makin membuatku sakit saja. Aku sudah mengabaikanmu sekarang. Aku tidak ingin mencari tahu tentangmu lagi. 

Dan untuk merpati putihku, terima kasih yang sudah menuruti kemauanku untuk mencari tahu kabar tentangnya. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus dicari tahu. 

Aku biarkan merpati putih ini lepas terbang bebas, sampai dia kembali dengan sendirinya dan membawa kabar tentangmu tanpa aku minta.



Kenyataan Yang Sebenarnya


Kenyataan Yang Sebenarnya



“Lebih baik sadar secepatnya terhadap sesuatu yang nyata, karena bertahan kepada sesuatu yang fana hanya akan memperlama rasa menderita.” 

Aku tidak pernah ragu untuk menerima, meski itu menyakiti yang luar biasa. Aku tidak pernah ragu untuk berhenti, meski kamu masih ingin lari. Aku tidak pernah ragu untuk menghilang, meski aku masih berharap kamu akan berjuang. Aku tidak perlu menunggumu, karena yang ditunggu takkan datang juga. Mungkin menyakitkan jika kukatakan kamu tak cinta, tetapi apa yang terjadi sekarang adalah nyata. 

Aku tidak ingin mendekapmu terus menerus, karena kamu tak berharap tentangku. Kamu mungkin tidak sadar kalau selama ini aku memayungi dan menghangatkanmu. Kutinggalkan kamu biarkan kamu merasakan kelabu yang mendera. Aku tidak boleh kasihan, karena kamu juga tidak memikirkanku. 

Aku kuat, aku bisa tanpamu. Aku hadapi kenyataan sebenarnya, dan terus percaya kepada Tuhan. 

Semangat menghadapi dunia, karena aku yakin aku bisa hidup tanpamu.  Aku masih hidup tanpamu aku baik-baik saja. Perlahan aku sudah tidak menangis saat aku mengingat semua tentangmu. Tapi yang aku lakukan hingga saat ini selama aku masih belum sepenuhnya menghilangkan rasa cinta kepadamu. Aku tak muluk-muluk untuk mencari yang baru, karena belum tentu juga mereka lebih baik dari kamu. Aku perlu memutuskan untuk hidupku sendiri, bagaimana kedepan dan bukan hanya soal perasaan yang semu. 

Hidupku perlu waktu sendiri. Menikmati setiap hal yang ada di bumi, sembari menerka apa yang selanjutnya akan terjadi. Mungkin kamu memang tak cinta, tapi rasa kasihanmu bisa ada. Tapi aku bukanlah orang yang pantas untuk dikasihani. 

Aku akan menemukan cinta sesungguhnya, suatu nanti. Semua sudah direncanakan dengan sempurna. Bisa juga kamu yang meninggalkan akan menyesal dikemudian hari, tidak ada yang tahu. Aku tetap baik, tetap menjadi diriku. 

Seperti senja yang menelan kelabu, hendaknya aku juga bisa menelan masa lalu, karena sesuatu yang bersifat abu-abu hanya menjadi tak menentu.



Selasa, 21 Januari 2020

Sebuah Takdir


Sebuah Takdir



Semua yang ditakdirkan Tuhan untuk datang perlahan  akan merangkak untuk pergi. Perkara sebuah takdir, kita tidak akan mengetahui apalagi mengubahnya. Biarlah takdir melaksanakan tugas yang diberikan oleh Tuhan. Kita hanya bisa menerima dengan lapang dada dan penuh kesabaran. 

Tapi, perihal kepergianmu apakah sesuatu yang ditakdirkan? Bukankah dari awal kita bersama jalani tanpa alasan? 

Entahlah, mungkin pertemuan kita bukan untuk saling membahagiakan, melainkan hanya sebuah perkenalan yang pada akhirnya bermuara pada ketidak jelasan. Aku ingin benar-benar terbebas dari semua ini, melupakan semua kenangan yang kita ukir dan membiarkan kenangan itu habis ditelan waktu lalu tersingkir. 

Tak adakah sebaris alasan untuk kita bersatu dan menjalani bersama seperti waktu itu?  Entahlah, mungkin keputusanmu untuk pergi memang sudah menjadi pilihan. Tentang kembalinya kamu padaku, mungkin hanya angan yang tak tersampaikan. 

Biarkan kepergianmu ini menjadi jawaban atas apa yang tercurah sudah. Tentang dua hati satu janji, yang berakhir pada pernah, bermuara pada kisah. Biarkan diam ini menjadi ungkapan rasa yang tak lagi diwakilkan kata. Tentang hal yang lebih besar dari benci, tapi pada saaat yang sama juga gugup mencintai. 

Sesekali kamu perlu tahu, bagaimana perihnya sayatan pertama. Sampai jumpa di lain hari. Sampai jumpa di lain arti.





Senin, 20 Januari 2020

Aku Mengaku Kalah


Aku Mengaku Kalah



Pada akhirnya, aku harus mengaku kalah. Tuhan lebih memilihnya ketimbang memilih aku untuk mendampingimu. Mungkin ia bisa berbesar hati ketika sikap dan perilakumu sama seperti ke aku dulu. Tidak seperti aku mungkin dia lebih bisa meredam semua perilakumu tidak seperti yang aku mampu. Mungkin ia lebih bisa membuatmu berhenti singgah sebentar lalu pergi lagi. 

Tidak seperti kamu bersamaku dulu, pada akhhirnya aku harus tetap mengaku kalah. Satu-satunya pemenang dari permainan ini adalah doaku yang dikabulkan Tuhan. Doa memintamu bahagia. Doa memintamu sebagai sosok pendamping yang jauh lebih baik dari kata sempurna. 

Walau pada akhirnya aku harus mengaku kalah, karena pada kenyataannya dihadapan Tuhan aku bukanlah orang yang tepat untuk mendampingimu. Ketika kamu berubah menjadi sosok yang dulu sempat aku impikan. Walaupun sekarang aku bertahan dalam kondisi hancur, saat ini aku mengaku, aku kalah juga.  

Tuhan berkata sudah. Tuhan mempertemukan aku dan kamu bukan untuk menjadi kita, tapi tuhan mempertemukan aku dan kamu supaya aku menjagakanmu untuk dia. Kedewasaan adalah ketika aku bisa mengikhlaskan apa yang sebenarnya bukan milikku. Mengikhlaskan dan melepaskanmu bersamanya adalah cara mencintaiku dari sudut pandang lain. Namun aku percaya ini skenario Tuhan yang terbaik. 

Aku mengaku kalah pada diriku sendiri yang telah berjuang mempertahankaan dirimu yang lebih memilih singgah dihati yang lain, yang mungkin lebih membuatmu nyaman. Aku selalu berdoa semoga kamu bahagia. Tetapi aku lupa minta kepada Tuhan bahwa bahagiamu itu bersamaku. Dan kenyataannya Tuhan memilihkan kamu untuk bahagia dengan yang lain. 

Aku tak mengerti arti kalah atau menang saat ini. Entah aku kalah oleh wanita yang kamu pilih, atau aku merasa menang bahwa aku juga pernah memilikimu lebih dulu. 

Menjadi pernah pada akhirnya akan punah, begitulah adanya ketika cinta bukan pada tempatnya.