Cukup Aku
Awalnya
aku yang paling kekeh memintamu pada Tuhan, bahkan dengan rayuan yang sedikit
memaksa. Awalnya aku yang paling semangat, mengusahakan kita agar bisa lebih
dekat, menjalin cinta yang lebih erat. Awalnya aku yang paling ingin
menjadikanmu pendamping, menjadikanmu seseorang yang aku ajak melangkahkan kaki
beriring, mencapai kebahagiaan yang kuharapkan dalam impian dan ingin.
Sekali
lagi, awal tak selamanya sama dengan takdir, usaha tak selamanya membuahkan
hasil sesuai apa yang diri ingin. Karena Tuhan lebih tahu apa yang kita
butuhkan dari apa yang kuinginkan. Dan semua ketetapan yang telah Tuhan
rencanakan, aku bersyukur atasnya, karena yang melewatiku nyatanya adalah
seseorang yang tak pantas untuk kuperjuangkan.
Meski
awalnya aku sempat kecewa, sedih dan meronta atas takdir perpisahan yang harus
menghantam kisah cinta kita. Yang kutahu bahwa memang hanya akulah yang
berjuang sendirian. Tapi ketahuilah, wanita yang sudah terlanjur percaya dan
terlanjur cinta, tak akan pernah main-main dengan perasaan yang dia punya. Dan
jika sekali saja kamu menyakiti dan merusak kepercayaannya, maka jangan
harapkan hatinya akan kembali utuh seperti sedia kala.
Dulu
memang aku sangat menginginkanmu, berharap kamulah yang akan menjadi pelengkap
segala kurangku. Teman yang akan menemani sisa-sisa usiaku. Seorang yang kelak
menjadi penuntunku menuju surga milik Tuhanku. Tapi takdir berkata lain,
nyatanya kamu hanya seseorang yang sekedar singgah untuk memberiku ujian dan
pengalaman dan pelajaran untuk mendewasakan diri.
Kuharap,
cukup aku saja. Cukup aku saja, wanita yang telah kamu buat patah hatinya, kamu
buat hancur kepercayaannya, dan kamu buat basah pipinya dengan linangan air
mata yang tak berguna. Aku pernah kamu sakiti, dan aku merasakan bagaimana
rasanya mencintai lalu dikhianati. Rasanya sakit sekali. Maka sebagai wanita
yang pernah kamu buat patah, yang sedang mencoba untuk bangkit dalam tabah. Aku
mohon, cukup aku saja. Cukup aku saja wanita yang kamu permainkan semaumu.
Wanita yang kamu buat hancur hatinya karena dustamu. Cukup aku saja.
Semoga
dihati berikutnya tempatmu melabuhkan rasa, untuk yang terakhir kali, tolong
buat dia jadi milikmu, dan berjanjilah untuk benar-benar menjaga
kepercayaannya. Jika kamu mengulang kesalahan yang sama seperti padaku dulu,
maka sungguh benar, tunggulah hukum alam datang menghukummu.
Dulu
mungkin aku pernah sangat mencintaimu, bahkan sampai berdoa untuk disandingkan
denganmu. Namun kini, aku sudah tak lagi sama. Segores luka dalam dada, sudah
cukup menjadi alasannya. Maaf kecewaku telah membuat rasa itu mati dan kuharap
cukup aku saja wanita yang pernah kamu sakiti.
Aku
bahagia pernah dilukai olehmu, dengan begitu aku mampu menemukan jati
diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar