Minggu, 26 Januari 2020

Sang Waktu


Sang Waktu



Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya aku bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupku untuk selamanya. Kemudian satu orang ini akan menjadi bagian terbesar dalam agendaku. Dan hatiku takkan memberikan pilihan apapun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata-kata bahwa resiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa. 

Hidup adalah serangkaian kebetulan. ‘kebetulan’ adalah takdir yang menyamar. Jika kita berjodoh, walaupun hari ini dan di tempat ini tidak bertemu, kita pasti akan tetap dipertemukan dengan cara yang lain. 

Perasaan laksana hujan, tak pernah datang dengan maksud yang jahat. Keadaan dan waktulah yang membuat kita membenci kedatangan. 

Kamu adalah detik dimana aku menyimpan sebuah rasa dalam dekap di dasar hati yang terdalam. Kamu adalah pembohong yang handal yang tak mampu aku ceritakan pada sang menit. Bahwa kamu adalah pembohong yang tak kunjung henti. Merobek semua harapanku. 

Sebelum kamu hadir dalam hidupku, hidupku nyaman-nyaman saja. Tapi setelah kamu hadir di kehidupanku, kamu membawaku dan menjebakku ke dalam duniamu yang membuatku tersakiti setiap detik, menit, dan setiap jam bahkan kamu tak memberiku izin untuk keluar dari hidupmu. Mungkin aku hanya butuh waktu sedetik untuk ku beristirahat dan menguatkan hatiku kembali.  

Aku lelah, bolehkah aku beristirahat sejenak untuk menata hatiku lagi? Lalu katakan pada sang waktu untuk berhenti walau sejenak sampai hatiku kuat dan dan tertata rapih kembali. Aku tak mampu untuk melawan waktu, aku hanya menanti agar sang waktu membawaku ke sebuah perasaan yang bahagia. Setelah sang waktu membawaku ke perasaan kesedihan, maka izinkan aku untuk bahagia tanpamu.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar