Sang Waktu
Pada
sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya aku bertemu dengan
satu orang yang mengubah hidupku untuk selamanya. Kemudian satu orang ini akan
menjadi bagian terbesar dalam agendaku. Dan hatiku takkan memberikan pilihan
apapun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata-kata bahwa resiko dari
jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa.
Hidup
adalah serangkaian kebetulan. ‘kebetulan’ adalah takdir yang menyamar. Jika
kita berjodoh, walaupun hari ini dan di tempat ini tidak bertemu, kita pasti
akan tetap dipertemukan dengan cara yang lain.
Perasaan
laksana hujan, tak pernah datang dengan maksud yang jahat. Keadaan dan waktulah
yang membuat kita membenci kedatangan.
Kamu
adalah detik dimana aku menyimpan sebuah rasa dalam dekap di dasar hati yang
terdalam. Kamu adalah pembohong yang handal yang tak mampu aku ceritakan pada
sang menit. Bahwa kamu adalah pembohong yang tak kunjung henti. Merobek semua
harapanku.
Sebelum
kamu hadir dalam hidupku, hidupku nyaman-nyaman saja. Tapi setelah kamu hadir
di kehidupanku, kamu membawaku dan menjebakku ke dalam duniamu yang membuatku
tersakiti setiap detik, menit, dan setiap jam bahkan kamu tak memberiku izin
untuk keluar dari hidupmu. Mungkin aku hanya butuh waktu sedetik untuk ku
beristirahat dan menguatkan hatiku kembali.
Aku
lelah, bolehkah aku beristirahat sejenak untuk menata hatiku lagi? Lalu
katakan pada sang waktu untuk berhenti walau sejenak sampai hatiku kuat dan
dan tertata rapih kembali. Aku tak mampu untuk melawan waktu, aku hanya menanti
agar sang waktu membawaku ke sebuah perasaan yang bahagia. Setelah sang waktu
membawaku ke perasaan kesedihan, maka izinkan aku untuk bahagia tanpamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar