Selasa, 21 Januari 2020

Sebuah Takdir


Sebuah Takdir



Semua yang ditakdirkan Tuhan untuk datang perlahan  akan merangkak untuk pergi. Perkara sebuah takdir, kita tidak akan mengetahui apalagi mengubahnya. Biarlah takdir melaksanakan tugas yang diberikan oleh Tuhan. Kita hanya bisa menerima dengan lapang dada dan penuh kesabaran. 

Tapi, perihal kepergianmu apakah sesuatu yang ditakdirkan? Bukankah dari awal kita bersama jalani tanpa alasan? 

Entahlah, mungkin pertemuan kita bukan untuk saling membahagiakan, melainkan hanya sebuah perkenalan yang pada akhirnya bermuara pada ketidak jelasan. Aku ingin benar-benar terbebas dari semua ini, melupakan semua kenangan yang kita ukir dan membiarkan kenangan itu habis ditelan waktu lalu tersingkir. 

Tak adakah sebaris alasan untuk kita bersatu dan menjalani bersama seperti waktu itu?  Entahlah, mungkin keputusanmu untuk pergi memang sudah menjadi pilihan. Tentang kembalinya kamu padaku, mungkin hanya angan yang tak tersampaikan. 

Biarkan kepergianmu ini menjadi jawaban atas apa yang tercurah sudah. Tentang dua hati satu janji, yang berakhir pada pernah, bermuara pada kisah. Biarkan diam ini menjadi ungkapan rasa yang tak lagi diwakilkan kata. Tentang hal yang lebih besar dari benci, tapi pada saaat yang sama juga gugup mencintai. 

Sesekali kamu perlu tahu, bagaimana perihnya sayatan pertama. Sampai jumpa di lain hari. Sampai jumpa di lain arti.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar