Senin, 20 Januari 2020

Aku Mengaku Kalah


Aku Mengaku Kalah



Pada akhirnya, aku harus mengaku kalah. Tuhan lebih memilihnya ketimbang memilih aku untuk mendampingimu. Mungkin ia bisa berbesar hati ketika sikap dan perilakumu sama seperti ke aku dulu. Tidak seperti aku mungkin dia lebih bisa meredam semua perilakumu tidak seperti yang aku mampu. Mungkin ia lebih bisa membuatmu berhenti singgah sebentar lalu pergi lagi. 

Tidak seperti kamu bersamaku dulu, pada akhhirnya aku harus tetap mengaku kalah. Satu-satunya pemenang dari permainan ini adalah doaku yang dikabulkan Tuhan. Doa memintamu bahagia. Doa memintamu sebagai sosok pendamping yang jauh lebih baik dari kata sempurna. 

Walau pada akhirnya aku harus mengaku kalah, karena pada kenyataannya dihadapan Tuhan aku bukanlah orang yang tepat untuk mendampingimu. Ketika kamu berubah menjadi sosok yang dulu sempat aku impikan. Walaupun sekarang aku bertahan dalam kondisi hancur, saat ini aku mengaku, aku kalah juga.  

Tuhan berkata sudah. Tuhan mempertemukan aku dan kamu bukan untuk menjadi kita, tapi tuhan mempertemukan aku dan kamu supaya aku menjagakanmu untuk dia. Kedewasaan adalah ketika aku bisa mengikhlaskan apa yang sebenarnya bukan milikku. Mengikhlaskan dan melepaskanmu bersamanya adalah cara mencintaiku dari sudut pandang lain. Namun aku percaya ini skenario Tuhan yang terbaik. 

Aku mengaku kalah pada diriku sendiri yang telah berjuang mempertahankaan dirimu yang lebih memilih singgah dihati yang lain, yang mungkin lebih membuatmu nyaman. Aku selalu berdoa semoga kamu bahagia. Tetapi aku lupa minta kepada Tuhan bahwa bahagiamu itu bersamaku. Dan kenyataannya Tuhan memilihkan kamu untuk bahagia dengan yang lain. 

Aku tak mengerti arti kalah atau menang saat ini. Entah aku kalah oleh wanita yang kamu pilih, atau aku merasa menang bahwa aku juga pernah memilikimu lebih dulu. 

Menjadi pernah pada akhirnya akan punah, begitulah adanya ketika cinta bukan pada tempatnya.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar