Aku Mengaku
Kalah
Pada
akhirnya, aku harus mengaku kalah. Tuhan lebih memilihnya ketimbang memilih aku
untuk mendampingimu. Mungkin ia bisa berbesar hati ketika sikap dan perilakumu
sama seperti ke aku dulu. Tidak seperti aku mungkin dia lebih bisa meredam semua
perilakumu tidak seperti yang aku mampu. Mungkin ia lebih bisa membuatmu
berhenti singgah sebentar lalu pergi lagi.
Tidak
seperti kamu bersamaku dulu, pada akhhirnya aku harus tetap mengaku kalah. Satu-satunya
pemenang dari permainan ini adalah doaku yang dikabulkan Tuhan. Doa memintamu
bahagia. Doa memintamu sebagai sosok pendamping yang jauh lebih baik dari kata
sempurna.
Walau
pada akhirnya aku harus mengaku kalah, karena pada kenyataannya dihadapan Tuhan
aku bukanlah orang yang tepat untuk mendampingimu. Ketika kamu berubah menjadi
sosok yang dulu sempat aku impikan. Walaupun sekarang aku bertahan dalam
kondisi hancur, saat ini aku mengaku, aku kalah juga.
Tuhan
berkata sudah. Tuhan mempertemukan aku dan kamu bukan untuk menjadi kita, tapi
tuhan mempertemukan aku dan kamu supaya aku menjagakanmu untuk dia. Kedewasaan
adalah ketika aku bisa mengikhlaskan apa yang sebenarnya bukan milikku.
Mengikhlaskan dan melepaskanmu bersamanya adalah cara mencintaiku dari sudut
pandang lain. Namun aku percaya ini skenario Tuhan yang terbaik.
Aku
mengaku kalah pada diriku sendiri yang telah berjuang mempertahankaan dirimu
yang lebih memilih singgah dihati yang lain, yang mungkin lebih membuatmu
nyaman. Aku selalu berdoa semoga kamu bahagia. Tetapi aku lupa minta kepada
Tuhan bahwa bahagiamu itu bersamaku. Dan kenyataannya Tuhan memilihkan kamu
untuk bahagia dengan yang lain.
Aku
tak mengerti arti kalah atau menang saat ini. Entah aku kalah oleh wanita yang
kamu pilih, atau aku merasa menang bahwa aku juga pernah memilikimu lebih dulu.
Menjadi
pernah pada akhirnya akan punah, begitulah adanya ketika cinta bukan pada
tempatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar