Jumat, 31 Januari 2020

Belajar dan Bangkit


Belajar dan Bangkit



Aku bersikap seolah kamu memang pantas dengannya. Aku solah-olah menerimanya dengan lapang dada. Aku memperjuangkan sepenuh hati. Tetapi tidak mampu lebih keras untuk mempertahankanmu. Sebab, kamu jauh lebih keras untuk melepaskanku. 

Sangatlah lelah menghadapi fase ini. Sedih yang berkepanjangan. Pikiran yang berantakan. Luka yang menyayat hati. Merelakan orang yang dicintai. Namun dengan semua proses ini aku bisa bangkit kembalI. Menyadarkan diri untuk bisa belajar lebih baik lagi. 

Aku memang kekanak-kanakan. Sifat ini yang sudah membuatmu menjauh dan memilih seseorang yang menurutmu bisa diandalkan. Membuatku jatuh saat sedang terbang tinggi di atas awan. Tidak ada sedikitpun luka di tubuh yang dirasakan. Namun hati ini yang hancur berantakan. Sementara kamu merasa bahagia disana, dengan seseorang yang menurutmu menyenangkan. 

Aku akan memilih tetap hidup dengan menerima kepergianmu. Aku akan menuruti semua permintaanmu untuk melupakan semua yang telah berlalu. Dan sekarang aku sudah baik-baik saja tanpamu. 

Jika suatu saat pilihanmu membuat luka, belajarlah untuk tetap baik-baik saja. Mungkin kamu akan sedikit mengingatku. Namun tolong, jangan mencariku. Mungkin aku sudah baik-baik saja saat itu, dan sudah melupakanmu. 

Setelah semua ini sudah berlalu, semoga rindu tidak menjadi alasan lagi agar ingin bertemu. Doakan saja disana semoga semua rasa yang kumiliki ini bisa mati. Dan memulai langkah kepada rencana yang baru lagi. Semoga saja setelah kamu tidak denganku, dia bisa selalu ada untukmu. Tidak meninggalkanmu. Semoga dia tidak menjatuhkanmu seperti apa yang aku rasakan. Jika nanti memang itu terjadi, belajarlah untuk tabah. Siapkan dirimu jika hal buruk menimpamu. 

Bangkit dari masa lalu yang menghantui pikiran, dan kenanganku. Fase dimana dari awal aku terpuruk sampai sekarang aku akan belajar bahwa tuhan tidak tidur, dia punya skenario terbaik untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar