Belajar dan
Bangkit
Aku
bersikap seolah kamu memang pantas dengannya. Aku solah-olah menerimanya dengan
lapang dada. Aku memperjuangkan sepenuh hati. Tetapi tidak mampu lebih keras
untuk mempertahankanmu. Sebab, kamu jauh lebih keras untuk melepaskanku.
Sangatlah
lelah menghadapi fase ini. Sedih yang berkepanjangan. Pikiran yang berantakan.
Luka yang menyayat hati. Merelakan orang yang dicintai. Namun dengan semua
proses ini aku bisa bangkit kembalI. Menyadarkan diri untuk bisa belajar lebih
baik lagi.
Aku
memang kekanak-kanakan. Sifat ini yang sudah membuatmu menjauh dan memilih
seseorang yang menurutmu bisa diandalkan. Membuatku jatuh saat sedang terbang
tinggi di atas awan. Tidak ada sedikitpun luka di tubuh yang dirasakan. Namun
hati ini yang hancur berantakan. Sementara kamu merasa bahagia disana, dengan
seseorang yang menurutmu menyenangkan.
Aku
akan memilih tetap hidup dengan menerima kepergianmu. Aku akan menuruti semua
permintaanmu untuk melupakan semua yang telah berlalu. Dan sekarang aku sudah
baik-baik saja tanpamu.
Jika
suatu saat pilihanmu membuat luka, belajarlah untuk tetap baik-baik saja.
Mungkin kamu akan sedikit mengingatku. Namun tolong, jangan mencariku. Mungkin
aku sudah baik-baik saja saat itu, dan sudah melupakanmu.
Setelah
semua ini sudah berlalu, semoga rindu tidak menjadi alasan lagi agar ingin
bertemu. Doakan saja disana semoga semua rasa yang kumiliki ini bisa mati. Dan
memulai langkah kepada rencana yang baru lagi. Semoga saja setelah kamu tidak
denganku, dia bisa selalu ada untukmu. Tidak meninggalkanmu. Semoga dia tidak menjatuhkanmu
seperti apa yang aku rasakan. Jika nanti memang itu terjadi, belajarlah untuk
tabah. Siapkan dirimu jika hal buruk menimpamu.
Bangkit
dari masa lalu yang menghantui pikiran, dan kenanganku. Fase dimana dari awal
aku terpuruk sampai sekarang aku akan belajar bahwa tuhan tidak tidur, dia
punya skenario terbaik untukku.