Jumat, 31 Januari 2020

Belajar dan Bangkit


Belajar dan Bangkit



Aku bersikap seolah kamu memang pantas dengannya. Aku solah-olah menerimanya dengan lapang dada. Aku memperjuangkan sepenuh hati. Tetapi tidak mampu lebih keras untuk mempertahankanmu. Sebab, kamu jauh lebih keras untuk melepaskanku. 

Sangatlah lelah menghadapi fase ini. Sedih yang berkepanjangan. Pikiran yang berantakan. Luka yang menyayat hati. Merelakan orang yang dicintai. Namun dengan semua proses ini aku bisa bangkit kembalI. Menyadarkan diri untuk bisa belajar lebih baik lagi. 

Aku memang kekanak-kanakan. Sifat ini yang sudah membuatmu menjauh dan memilih seseorang yang menurutmu bisa diandalkan. Membuatku jatuh saat sedang terbang tinggi di atas awan. Tidak ada sedikitpun luka di tubuh yang dirasakan. Namun hati ini yang hancur berantakan. Sementara kamu merasa bahagia disana, dengan seseorang yang menurutmu menyenangkan. 

Aku akan memilih tetap hidup dengan menerima kepergianmu. Aku akan menuruti semua permintaanmu untuk melupakan semua yang telah berlalu. Dan sekarang aku sudah baik-baik saja tanpamu. 

Jika suatu saat pilihanmu membuat luka, belajarlah untuk tetap baik-baik saja. Mungkin kamu akan sedikit mengingatku. Namun tolong, jangan mencariku. Mungkin aku sudah baik-baik saja saat itu, dan sudah melupakanmu. 

Setelah semua ini sudah berlalu, semoga rindu tidak menjadi alasan lagi agar ingin bertemu. Doakan saja disana semoga semua rasa yang kumiliki ini bisa mati. Dan memulai langkah kepada rencana yang baru lagi. Semoga saja setelah kamu tidak denganku, dia bisa selalu ada untukmu. Tidak meninggalkanmu. Semoga dia tidak menjatuhkanmu seperti apa yang aku rasakan. Jika nanti memang itu terjadi, belajarlah untuk tabah. Siapkan dirimu jika hal buruk menimpamu. 

Bangkit dari masa lalu yang menghantui pikiran, dan kenanganku. Fase dimana dari awal aku terpuruk sampai sekarang aku akan belajar bahwa tuhan tidak tidur, dia punya skenario terbaik untukku.

Kamis, 30 Januari 2020

Berdamai Dengan Masa Lalu


Berdamai Dengan Masa Lalu



Perlahan aku sedang mencoba berdamai dengan masa laluku, berdamai dengan diriku yang sedang berontak ini, dan hati yang sedang hancur sehancurnya. Aku berusaha mengumpulkan semua kepingan yang tersisa untuk aku perbaiki kembali. Aku memperbaiki ini semua sendiri, tanpa bantuan siapapun. Hanya diriku sendiri lah yang dapat memulihkannya. 

Aku mencoba berdamai dengan masa lalu dan aku akan memperbaiki diriku untuk kedepannya. Aku lelah menyiksa diriku karena egoku sendiri. Aku lebih mementingkan ego sampai logika dan hatiku tidak berjalan. Ternyata aku sadar, selama ini aku hanya memaksakan begitu cepat untuk aku bisa melupakanmu masa lalu. 

Aku lupa hati ini sedang patah, dia butuh istirahat. Tetapi aku tetap memaksakannya. Perihal memaksa untuk melupa dan mengingatnya kembali. Selama ini aku tidak mengikuti alurnya dengan baik. Aku hanya mengikuti kemauanku sampai aku lupa hatiku tersakiti lagi dan lagi. 

Sekarang saatnya aku bangkit, berdamai dengan masa laluku dan memaafkan diriku sendiri. Kamu tahu, semenjak kepergianmu aku merasa sedang berkelahi dengan diriku sendiri, seperti aku tidak bisa untuk memaafkan diriku sendiri. Ini adalah hal yang tidak baik. Aku harus bisa merubah semuanya. 

Aku harus bisa menerima diri, menerima kenyataan, bahwa kamu memang benar-benar sudah tak jadi milikku. Mulai saat ini aku akan mencoba terbiasa dengan storymu di sosial media, karena aku ingin mencoba biasa saja saat aku melihatnya. 

Seandainya suatu saat nanti hubunganmu baru di publish aku akan terbiasa melihat. Yang pada akhirnya aku memutuskan semuanya untuk berjalan seperti biasa. Tidak ada blokir apapun di sosial media, dan whatsappmu aku save kembali. Tak apa seandainya nanti aku melihat hubungan barumu yang di publish, karena aku juga pernah merasakan diposisi itu. Aku tak mengapa, dan tidak ada masalah. 

Aku akan acuh jika melihat, dan aku pun tidak peduli. Aku ingin berjalan semua sesuai alurnya. Aku tidak ingin memaksakan egoku terus menerus yang membuat diri ini seperti merasa dikurung dalam kesakitan. Mungkin cara ini yang akan membuat aku bisa lebih dewasa, dengan aku merasakan sakit rasanya dikhianati. Semoga ini jalan menuju aku dewasa. Kamu tahu, menjadi dewasa itu tidak mudah.  Setiap kejadian pasti ada pembelajaran didalamnya. Aku akan bangkit dengan caraku sendiri, walaupun kadang menyakitkan tapi tak apa, itu caraku. 

Semoga aku bisa berdamai dengan masa laluku, dan aku bisa memaafkan diriku sendiri. Dan yang terpenting aku bisa memperbaiki hati agar utuh menjadi seperti semula, walaupun tidak sebaik dulu sebelum mengenal yang namanya cinta.






Selasa, 28 Januari 2020

Cukup Aku


Cukup Aku



Awalnya aku yang paling kekeh memintamu pada Tuhan, bahkan dengan rayuan yang sedikit memaksa. Awalnya aku yang paling semangat, mengusahakan kita agar bisa lebih dekat, menjalin cinta yang lebih erat. Awalnya aku yang paling ingin menjadikanmu pendamping, menjadikanmu seseorang yang aku ajak melangkahkan kaki beriring, mencapai kebahagiaan yang kuharapkan dalam impian dan ingin. 

Sekali lagi, awal tak selamanya sama dengan takdir, usaha tak selamanya membuahkan hasil sesuai apa yang diri ingin. Karena Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan dari apa yang kuinginkan. Dan semua ketetapan yang telah Tuhan rencanakan, aku bersyukur atasnya, karena yang melewatiku nyatanya adalah seseorang yang tak pantas untuk kuperjuangkan. 

Meski awalnya aku sempat kecewa, sedih dan meronta atas takdir perpisahan yang harus menghantam kisah cinta kita. Yang kutahu bahwa memang hanya akulah yang berjuang sendirian. Tapi ketahuilah, wanita yang sudah terlanjur percaya dan terlanjur cinta, tak akan pernah main-main dengan perasaan yang dia punya. Dan jika sekali saja kamu menyakiti dan merusak kepercayaannya, maka jangan harapkan hatinya akan kembali utuh seperti sedia kala. 

Dulu memang aku sangat menginginkanmu, berharap kamulah yang akan menjadi pelengkap segala kurangku. Teman yang akan menemani sisa-sisa usiaku. Seorang yang kelak menjadi penuntunku menuju surga milik Tuhanku. Tapi takdir berkata lain, nyatanya kamu hanya seseorang yang sekedar singgah untuk memberiku ujian dan pengalaman dan pelajaran untuk mendewasakan diri. 

Kuharap, cukup aku saja. Cukup aku saja, wanita yang telah kamu buat patah hatinya, kamu buat hancur kepercayaannya, dan kamu buat basah pipinya dengan linangan air mata yang tak berguna. Aku pernah kamu sakiti, dan aku merasakan bagaimana rasanya mencintai lalu dikhianati. Rasanya sakit sekali. Maka sebagai wanita yang pernah kamu buat patah, yang sedang mencoba untuk bangkit dalam tabah. Aku mohon, cukup aku saja. Cukup aku saja wanita yang kamu permainkan semaumu. Wanita yang kamu buat hancur hatinya karena dustamu. Cukup aku saja. 

Semoga dihati berikutnya tempatmu melabuhkan rasa, untuk yang terakhir kali, tolong buat dia jadi milikmu, dan berjanjilah untuk benar-benar menjaga kepercayaannya. Jika kamu mengulang kesalahan yang sama seperti padaku dulu, maka sungguh benar, tunggulah hukum alam datang menghukummu. 

Dulu mungkin aku pernah sangat mencintaimu, bahkan sampai berdoa untuk disandingkan denganmu. Namun kini, aku sudah tak lagi sama. Segores luka dalam dada, sudah cukup menjadi alasannya. Maaf kecewaku telah membuat rasa itu mati dan kuharap cukup aku saja wanita yang pernah kamu sakiti. 

Aku bahagia pernah dilukai olehmu, dengan begitu aku mampu menemukan jati diriku. 



Minggu, 26 Januari 2020

Sang Waktu


Sang Waktu



Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya aku bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupku untuk selamanya. Kemudian satu orang ini akan menjadi bagian terbesar dalam agendaku. Dan hatiku takkan memberikan pilihan apapun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata-kata bahwa resiko dari jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa. 

Hidup adalah serangkaian kebetulan. ‘kebetulan’ adalah takdir yang menyamar. Jika kita berjodoh, walaupun hari ini dan di tempat ini tidak bertemu, kita pasti akan tetap dipertemukan dengan cara yang lain. 

Perasaan laksana hujan, tak pernah datang dengan maksud yang jahat. Keadaan dan waktulah yang membuat kita membenci kedatangan. 

Kamu adalah detik dimana aku menyimpan sebuah rasa dalam dekap di dasar hati yang terdalam. Kamu adalah pembohong yang handal yang tak mampu aku ceritakan pada sang menit. Bahwa kamu adalah pembohong yang tak kunjung henti. Merobek semua harapanku. 

Sebelum kamu hadir dalam hidupku, hidupku nyaman-nyaman saja. Tapi setelah kamu hadir di kehidupanku, kamu membawaku dan menjebakku ke dalam duniamu yang membuatku tersakiti setiap detik, menit, dan setiap jam bahkan kamu tak memberiku izin untuk keluar dari hidupmu. Mungkin aku hanya butuh waktu sedetik untuk ku beristirahat dan menguatkan hatiku kembali.  

Aku lelah, bolehkah aku beristirahat sejenak untuk menata hatiku lagi? Lalu katakan pada sang waktu untuk berhenti walau sejenak sampai hatiku kuat dan dan tertata rapih kembali. Aku tak mampu untuk melawan waktu, aku hanya menanti agar sang waktu membawaku ke sebuah perasaan yang bahagia. Setelah sang waktu membawaku ke perasaan kesedihan, maka izinkan aku untuk bahagia tanpamu.




Jumat, 24 Januari 2020

Selepas Kita


Selepas Kita



Aku sudah banyak membunuh harapan-harapan mati, aku sudah sering mengubur janji-janji tak berisi, aku sudah banyak meredam tangis yang tak ingin jatuh di pipi. 

Kamu buat aku meratap setelah kamu berusaha membuat kita begitu dekat, lalu pergi meninggalkan sekat tanpa pamit dan tanpa memberi kejelasan apa yang harus kuperbuat.

Aku pernah amat terluka, setelah kamu campakkan begitu lara. Kamu tancapkan duri pada hati tempat namamu terpatri dengan segala rasa yang telah kususun rapi. Kamu tawarkan manis tapi akhirnya pahitlah yang harus kukecap. Cintamu dusta. 

Aku yang bodoh, karen telah membuka hati untukmu yang tak bisa memberi bukti. Aku yang bodoh, karena telah memberikanmu kesempatan untuk menggores luka lalu pergi meninggalkan. 

Tapi aku takkan pernah menyalahkan takdir untuk kisah yang membuat hidupku semakin getir, karena dengan inilah aku mendewasa, karena dengan inilah aku mengerti arti kata berharga. Jika aku tak pernah merasakan pedih ini sebelumnya, mungkin aku akan terus menerus terjerembab dalam rasa yang percuma. 

Hadirmu yang telah mengajarkanku arti kata cinta lalu mengajarkan aku arti kata melupa, akan tetap kusimpan dalam bilik kenangan. Aku tak akan memusnahkannya bukan karena aku masih cinta, tapi aku ingin terus dibuat mengerti bahwa patah hati tak melulunya soal perkara menangisi yang telah pergi, tapi juga tentang mengerti arti kesadaran diri. 

Sudah banyak jenis rasa yang kusesapi, sudah banyak jenis jalanan kulalui. Siang berganti malam, musim demi musim berganti sepanjang masa. Aku sudah terbiasa menerima luka. 

Takdir tuhan mungkin memang sedikit rumit, meski sulit akan tetap bersabar menjalani nasib. Aku selalu percaya bahwa selepas pergimu akan ada pengganti yang lebih baik. Mungkin waktu akan lebih sering menguji sabarku, tapi biarlah, itu lebih baik daripada hatiku harus terus menerus dirundung pilu oleh luka-luka. Untuk sabar yang panjang, untuk penantian yang tak berkesudahan, aku akan tetap berjalan sendirian dengan keyakinan penuh pada Tuhan.


Kamis, 23 Januari 2020

Sebuah Lagu Yang Sama Seperti Kisahku


Sebuah Lagu Yang Sama Seperti Kisahku



Kamu tahu ada sebuah lagu yang mewakilkan perasaanku, yang lebih tepatnya sama seperti apa yang sedang aku rasakan sekarang. Lagu ini lagu Barat yang wajib kamu dengar. Aku akan menuliskan sepatah lirik dan arti dari lagu yang aku maksud. Aku ingin kamu mendengarkannya, jika kamu suatu saat nanti membaca tulisan ini. 


All I Want – Kodaline

All I want is nothing more
Yang kuingin hanyalah
To hear you knocking at my door
Mendengar kau mengetuk pintuku
Cause if I could see your face one more
Karena jika ku bisa melihat wajahmu sekali lagi
I could die a happy man I’m sure
Ku yakin aku bisa mati bahagia
When you said your last goodbye
Saat kau ucapkan selamat tinggal terakhir kalinya
I died a little bit inside
Dalam jiwaku terasa mati
I lay in tears in bed all night
Aku terbaring di ranjang dengan tangisan sepanjang malam
Alone without you by my side
Sendiri tanpamu disisi
But If you loved me
Namun jika kau cinta padaku
Why’d you leave me?
Mengapa kau tinggalkanku?
Take my body, Take my body
Ambil tubuhku, Ambil tubuhku 

Aku berharap jika kamu sudah membaca tulisanku ini, kamu bisa mendengarkan lagunya. Biasanya aku mendengarkan lagu ini di spotify, cover Alexandra Porat, sumpah ngena banget. Aku ingin kamu mendengar, dan kamu tahu apa yang aku rasakan. 

Kamu ambil jiwaku dan menghilangkannya. Cinta kita kujadikan buku.

Aku Juga Bisa Bahagia


Aku Juga Bisa Bahagia



Aku tahu pada akhirnya kita hanya akan menjadi kisah tak berarti. Tapi perlu kamu ingat juga, bahwa hari-hari yang kamu lalui sebelumnya tak luput dari cerita aku dan kamu yang sama-sama melawan luka. 

Kamu juga pasti tahu bagaimana rasanya hancur saat ditinggalkan kemudian perlahan tak dipedulikan oleh orang yang kamu harapkan. Sakit bukan? 

Aku tak mengharap kepedulianmu, juga kembalimu. Aku tak ingin memaksa sesuatu yang sudah seharusnya pergi menjadi tinggal kembali karena aku yang memaksa keadaan. Seperti yang kamu bilang bahwa aku harus bahagia, aku percaya bahwa aku bisa, bahwa aku akan. Meskipun aku berjalan pelan-pelan, menoleh ke belakang, yang ternyata kamu sudah melangkahkan kaki menuju persimpangan lain. Kita tak lagi sejalan, dan kini aku tahu bahwa langkah yang bersamaan belum tentu berakhir pada satu tujuan. 

Aku masih mencoba menemukan bahagia yang kamu bilang. Tapi diakhir malam selalu saja tak ada. Entah kemana perginya bahagia yang harus kutemukan itu, mungkin ia sembunyi? Karena takut akan aku yang terlalu lemah menghadapi kecewa setelah adanya bahagia? 

Aku juga bisa bahagia. Iya, aku percaya. Tapi bahagia karena apa? Bukankah bahagiaku sederhana, mendengar bahwa kamu baik-baik saja sudah membuatku luka yang semula ada jadi tidak kenapa-kenapa. 

Jika nanti kamu menemukan aku sudah bahagia dengan sebenar-benarnya. Percayalah, bahwa malam-malam yang aku lalui sebelumnya selalu berakhir kecewa. Karena pada siang hari hingga senja perlahan menghilang. Aku hanya berharap bahwa kamu akan kembali membawa tawa. Tapi kamu tak kunjung ada. 

Sesekali kamu hadir dalam mimpi, menegaskan bahwa kamu memang tak pernah benar-benar nyata. Iya, nanti aku bahagia, ya. Seperti yang kamu mau. Tapi aku juga butuh waktu. Tak usah pedulikan seberapa lama aku butuh waktu untuk itu, bukan urusanmu. Tulus dari hati kuucapkan terima kasih. Dulu kukira bahwa perasaan yang tulus meski tak harus memliki itu hanya bualan semata. Tapi ternyata, aku mengalaminya. Kamu juga harus bahagia, meskipun dengan dia, yang diam-diam kudoakan dia mati saja.

Rabu, 22 Januari 2020

Merpati Putih Yang Baik Hati


Merpati Putih Yang Baik Hati



Kamu mungkin tahu yang aku maksud merpati putih ini siapa, jadi tidak perlu kusebutkan namanya ya, aku yakin kamu pasti tahu. Merpati ini adalah temanku, dia sangat baik, dia selalu berada dipihakku. 

Dia selalu menyampaikan kabar tentangmu lewat pesan singkat, bedanya merpati ini tidak mengirimkan surat, tetapi dia menyampaikan sebuah kabar tentangmu hanya lewat pesan singkat saja. 

Sebulan penuh aku belum bisa menerima kepergianmu, karena kamu meninggalkan aku dengan cara sepihak, lalu aku mencari tahu kabarmu lewat merpati putih ini. Dan dengan sabarnya dia mencari tahu tentangmu, yang pada akhirnya kabar tersebut sampai kepadaku. Selebihnya aku menerka-nerka sendiri. 

Tapi aku sedikit kecewa, karena yang ku dapat hanyalah kabar buruk semua tentangmu. Hanya sedikit aku mendapatkan kabar yang baik, yang membuat diriku merasa terambung selebihnya aku merasa jatuh. Tetapi aku tidak bisa menyalahkan merpati putih  ini, karena dia sudah membantuku banyak sekali. Mungkin karena kabar itu memang apa adanya, jadi aku harus menerima dengan lapang dada. 

Merpati putih ini bukanlah Malaikat Jibril, yang kutahu tugas Malaikat Jibril itu menyampaikan wahyu, bukan menyampaikan sebuah kabar tentangmu. 

Sekian lama aku seperti ini, aku merasa lelah. Aku saja lelah, apalagi merpati putih ini yang terus menerus aku suruh mencari tahu kabar tentangmu. Aku memutuskan untuk berhenti mencari tahu tentangmu lewat merpati putih ini, aku mikir semua juga sia-sia, yang ada makin membuatku sakit saja. Aku sudah mengabaikanmu sekarang. Aku tidak ingin mencari tahu tentangmu lagi. 

Dan untuk merpati putihku, terima kasih yang sudah menuruti kemauanku untuk mencari tahu kabar tentangnya. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang harus dicari tahu. 

Aku biarkan merpati putih ini lepas terbang bebas, sampai dia kembali dengan sendirinya dan membawa kabar tentangmu tanpa aku minta.



Kenyataan Yang Sebenarnya


Kenyataan Yang Sebenarnya



“Lebih baik sadar secepatnya terhadap sesuatu yang nyata, karena bertahan kepada sesuatu yang fana hanya akan memperlama rasa menderita.” 

Aku tidak pernah ragu untuk menerima, meski itu menyakiti yang luar biasa. Aku tidak pernah ragu untuk berhenti, meski kamu masih ingin lari. Aku tidak pernah ragu untuk menghilang, meski aku masih berharap kamu akan berjuang. Aku tidak perlu menunggumu, karena yang ditunggu takkan datang juga. Mungkin menyakitkan jika kukatakan kamu tak cinta, tetapi apa yang terjadi sekarang adalah nyata. 

Aku tidak ingin mendekapmu terus menerus, karena kamu tak berharap tentangku. Kamu mungkin tidak sadar kalau selama ini aku memayungi dan menghangatkanmu. Kutinggalkan kamu biarkan kamu merasakan kelabu yang mendera. Aku tidak boleh kasihan, karena kamu juga tidak memikirkanku. 

Aku kuat, aku bisa tanpamu. Aku hadapi kenyataan sebenarnya, dan terus percaya kepada Tuhan. 

Semangat menghadapi dunia, karena aku yakin aku bisa hidup tanpamu.  Aku masih hidup tanpamu aku baik-baik saja. Perlahan aku sudah tidak menangis saat aku mengingat semua tentangmu. Tapi yang aku lakukan hingga saat ini selama aku masih belum sepenuhnya menghilangkan rasa cinta kepadamu. Aku tak muluk-muluk untuk mencari yang baru, karena belum tentu juga mereka lebih baik dari kamu. Aku perlu memutuskan untuk hidupku sendiri, bagaimana kedepan dan bukan hanya soal perasaan yang semu. 

Hidupku perlu waktu sendiri. Menikmati setiap hal yang ada di bumi, sembari menerka apa yang selanjutnya akan terjadi. Mungkin kamu memang tak cinta, tapi rasa kasihanmu bisa ada. Tapi aku bukanlah orang yang pantas untuk dikasihani. 

Aku akan menemukan cinta sesungguhnya, suatu nanti. Semua sudah direncanakan dengan sempurna. Bisa juga kamu yang meninggalkan akan menyesal dikemudian hari, tidak ada yang tahu. Aku tetap baik, tetap menjadi diriku. 

Seperti senja yang menelan kelabu, hendaknya aku juga bisa menelan masa lalu, karena sesuatu yang bersifat abu-abu hanya menjadi tak menentu.



Selasa, 21 Januari 2020

Sebuah Takdir


Sebuah Takdir



Semua yang ditakdirkan Tuhan untuk datang perlahan  akan merangkak untuk pergi. Perkara sebuah takdir, kita tidak akan mengetahui apalagi mengubahnya. Biarlah takdir melaksanakan tugas yang diberikan oleh Tuhan. Kita hanya bisa menerima dengan lapang dada dan penuh kesabaran. 

Tapi, perihal kepergianmu apakah sesuatu yang ditakdirkan? Bukankah dari awal kita bersama jalani tanpa alasan? 

Entahlah, mungkin pertemuan kita bukan untuk saling membahagiakan, melainkan hanya sebuah perkenalan yang pada akhirnya bermuara pada ketidak jelasan. Aku ingin benar-benar terbebas dari semua ini, melupakan semua kenangan yang kita ukir dan membiarkan kenangan itu habis ditelan waktu lalu tersingkir. 

Tak adakah sebaris alasan untuk kita bersatu dan menjalani bersama seperti waktu itu?  Entahlah, mungkin keputusanmu untuk pergi memang sudah menjadi pilihan. Tentang kembalinya kamu padaku, mungkin hanya angan yang tak tersampaikan. 

Biarkan kepergianmu ini menjadi jawaban atas apa yang tercurah sudah. Tentang dua hati satu janji, yang berakhir pada pernah, bermuara pada kisah. Biarkan diam ini menjadi ungkapan rasa yang tak lagi diwakilkan kata. Tentang hal yang lebih besar dari benci, tapi pada saaat yang sama juga gugup mencintai. 

Sesekali kamu perlu tahu, bagaimana perihnya sayatan pertama. Sampai jumpa di lain hari. Sampai jumpa di lain arti.





Senin, 20 Januari 2020

Aku Mengaku Kalah


Aku Mengaku Kalah



Pada akhirnya, aku harus mengaku kalah. Tuhan lebih memilihnya ketimbang memilih aku untuk mendampingimu. Mungkin ia bisa berbesar hati ketika sikap dan perilakumu sama seperti ke aku dulu. Tidak seperti aku mungkin dia lebih bisa meredam semua perilakumu tidak seperti yang aku mampu. Mungkin ia lebih bisa membuatmu berhenti singgah sebentar lalu pergi lagi. 

Tidak seperti kamu bersamaku dulu, pada akhhirnya aku harus tetap mengaku kalah. Satu-satunya pemenang dari permainan ini adalah doaku yang dikabulkan Tuhan. Doa memintamu bahagia. Doa memintamu sebagai sosok pendamping yang jauh lebih baik dari kata sempurna. 

Walau pada akhirnya aku harus mengaku kalah, karena pada kenyataannya dihadapan Tuhan aku bukanlah orang yang tepat untuk mendampingimu. Ketika kamu berubah menjadi sosok yang dulu sempat aku impikan. Walaupun sekarang aku bertahan dalam kondisi hancur, saat ini aku mengaku, aku kalah juga.  

Tuhan berkata sudah. Tuhan mempertemukan aku dan kamu bukan untuk menjadi kita, tapi tuhan mempertemukan aku dan kamu supaya aku menjagakanmu untuk dia. Kedewasaan adalah ketika aku bisa mengikhlaskan apa yang sebenarnya bukan milikku. Mengikhlaskan dan melepaskanmu bersamanya adalah cara mencintaiku dari sudut pandang lain. Namun aku percaya ini skenario Tuhan yang terbaik. 

Aku mengaku kalah pada diriku sendiri yang telah berjuang mempertahankaan dirimu yang lebih memilih singgah dihati yang lain, yang mungkin lebih membuatmu nyaman. Aku selalu berdoa semoga kamu bahagia. Tetapi aku lupa minta kepada Tuhan bahwa bahagiamu itu bersamaku. Dan kenyataannya Tuhan memilihkan kamu untuk bahagia dengan yang lain. 

Aku tak mengerti arti kalah atau menang saat ini. Entah aku kalah oleh wanita yang kamu pilih, atau aku merasa menang bahwa aku juga pernah memilikimu lebih dulu. 

Menjadi pernah pada akhirnya akan punah, begitulah adanya ketika cinta bukan pada tempatnya.  


Minggu, 19 Januari 2020

Room Chat


Room Chat



Sudah lama ya kita tidak bertemu semenjak saat itu. Setiap kali aku membuka room chat kita yang dulu tanpa sadar aku tersenyum dan tertawa sendiri. Kok bisa ya kita menuliskan kata-kata yang membuat bibir ini tidak berhenti untuk tersenyum dan tertawa. 

Namun sayang semua itu telah berlalu. Sekarang room chat itu telah kosong. Tidak ada lagi canda dan tawa seperti dulu, yang tersisa hanya kenangan. Ya kenangan, kenangan yang seharusnya aku buang. Akan tetapi hati ini masih belum sanggup. Aku akan sangat bahagia jika suatu hari nanti kamu mengirimkan sebuah pesan singkat kepadaku, meski itu hanya dalam mimpiku. 

Seharusnya hal ini tidak harus aku lihat kembali. Tapi cuma ini yang bisa aku lakukan. Terkadang aku membacanya dari awal sampai akhir. Aku sedih, yang aku lihat hanyalah tinggal kenangan. Setiap kali kamu mengirimkan pesan yang begitu terkesan untukku, tak segan langsung kutandai bintang agar sewaktu-waktu aku bisa membacanya kembali. 

Aku suka membaca pesan darimu yang berisikan voice note kamu sedang bernyanyi. Kamu menyanyikan dengan suara yang merdu yang membuat aku terbawa suasana saat mendengarnya, “sampai aku tutup usia, kan kujaga hatimu sampai aku tua, walau keriput dipipimu terlihat takkan goyahkan cintaku yang begitu kuat.” Itu adalah salah satu potongan lirik yang kamu nyanyikan untukku. Terkadang ketika aku  mendengarkan lagu, aku selalu memutar lagu itu. Lagu itu yang selalu terngiang-ngiang dikepalaku dan juga suaramu.


Bayanganmu


Bayanganmu



Hai, kamu apa kabar? Semoga kamu baik-baik saja ya. Entah kenapa setiap kali mata ini kupejamkan sekuat tenaga, entah kenapa yang selalu terlintas adalah bayanganmu, entah mengapa setiap kali aku mencoba untuk melupakanmu wajahmu selalu muncul. Muncul secara bertubi-tubi menghantuiku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi? 

Sudah aku muak dengan semua ini. Biarkan hidupku tenang. Aku tidak bisa hidup dihantui dengan bayang-bayanganmu. Dan kenapa, kenapa kita harus bertemu jika hanya sakit yang kamu berikan. Mengapa bayanganmu selalu menghantuiku tanpa henti, meski aku telah mencoba sekuat tenaga untuk menghilangkannya. 

Hampir setiap hari bayanganmu selalu ada meski tak nyata. Semua bayanganmu mengingatkan aku dengan satu hal yang membuat aku perih, namun sulit juga untuk dilupakan. Bayanganmu selalu hadir. Disaat kamu tersenyum kepadaku atau sedang marah sekalipun. Entah mengapa bayangan itu selalu ada. 

Bayanganmu selalu hadir disaat aku sedang sendiri, tetapi tidak jarang juga bayanganmu hadir disaat aku sedang berada dikeramaian. Aku selalu berkhayal dengan bayang-bayanganmu. Dan aku selalu mengucap kata “seandainya”. Kata itu lah yang sebenarnya penuh harap. Harap akan dirimu. 

Aku membayangkan dirimu seperti aku kembali ke masa lalu. Aku masih ingat semua dari kita awal bertemu sampai kita berpisah. Bayanganmu tak pernah hilang dari pikiranku. Memori di otakku cukup kuat untuk mengingatnya semua segala kejadian yang pernah kita lewati. Sampai sekarangpun aku masih membayangkan seandainya kita seperti dulu. Tidak bayanganmu saja yang menghantuiku ternyata, tetapi tentang masa lalu kita semua yang sudah pernah kita lewati bersama.


Sabtu, 18 Januari 2020

Setia Yang Terluka


Setia Yang Terluka



Aku ingin bercerita tentang suatu hari dimana aku benar-benar mengenal apa itu rasa kecewa. Luka yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Luka yang harus aku bayar dengan tetes demi tetes air mata. 

Aku pernah mencintaimu, cinta yang boleh aku katakan itu adalah luar biasa. Cinta yang didalamnya kuberi rasa percaya, setia, dan doa. Bagiku cintaku kepadamu lebih indah dari sekedar lagu-lagu cinta. Hari demi hari bersamamu aku bahagia, susah dan senangku, tawa dan air mataku, mimpi dan harapanku bersamamu aku bercerita. 

Sampai suatu hari aku menemukan sesuatu yang benar-benar melukai hati. Bahkan bisa kubilang semua mematahkan bentuk harapan dan asa yang pernah aku terbangkan ke langit doa. Kamu tahu, kesetiaanku dilukai olehmu tanpa setengah-setengah. Kamu pergi dengan banyak alasan, dan ketika aku menemukanmu, kamu sudah berbahagia dengan yang lain. Tentu itu bukan aku. 

Kepada seseorang yang lain kamu telah jatuh cinta kembali, sungguh jangan tanyakan kepadaku tentang luka hati. Bahkan aku pun tidak pernah membayangkan sebelumnya. Yang membuatku sakit bukan semudah itu kamu jatuh hati kepada dia selain aku, tetapi tentang aku yang semudah ini memberi hati dengan utuh. Namun aku harus belajar menerima jika tidak semua hal di dunia ini berjalan dengan harapan dan rencana. 

Setelah hari itu, aku tidak mengutuk apapun  darimu, aku tetap percaya kamu seseorang yang baik. Aku pun tidak membenci, karena suka atau tidak suka, menolak atau menerima harus aku akui bahwa kamu pernah menjadi seseorang yang begitu sangat aku dambakan. Dan satu lagi, cinta yang baik tidak akan pernah terbagi kepada dua hati, kepada dua cinta dengan orang yang berbeda. 

Aku yang setia, aku juga yang terluka. Aku yang selalu berkorban tapi aku juga yang menjadi korban. Jika kamu dengan mudah melepaskan aku, mengapa aku harus bersusah payah dalam merelakanmu? 

Aku mencintaimu seluas aku mengikhlaskanmu. Rasanya baru kemarin kutemui rasa bahagia yang amat sangat, tak pernah terlintas dalam benakku bahwa bahagia begitu cepat lenyap. Bukankah dulu aku yang kamu beri harapan indah tentang masa depan kita? Lantas bagaimana bisa dia yang mewujudkan mimpi itu bersamamu? Aku akan membiarkan luka ini berlalu, dengan semua sakit yang mendera, harap yang melayang, dan pengertian yang sia-sia. Sungguh aku akan biarkan bila memang jalan akhirnya seperti ini. Tapi kamu harus tahu, betapa aku setianya dengan menanti dan memahami semua hari-hari yang kita lewati. Sungguh, kita tidak akan berakhir oleh apapun dan siapapun melainkan hanya karena takdir-Nya. 

Semakin tegar aku menjalaninya semua tanpamu, aku yakin kamu akan bahagia dengannya. Selamat tinggal untuk kisah yang pernah kita lalui.

Jumat, 17 Januari 2020

Melangkah Menjauhimu


Melangkah Menjauhimu



Tidak pernah kurasakan sejauh ini berjarak denganmu. Semakin hari tembok yang kamu bangun semakin kuat dan tinggi. Sedangkan aku disini diizinkan untuk menebak apapun yang tersembunyi. Kamu tahu bukan bahwa aku sama sepertimu, manusia biasa. 

Tuhan tidak memberiku keistimewaan untuk membaca pikiran seseorang. Tapi tak apa, aku akan menerima jika akhirnya bukan aku orang yang kamu persilahkan masuk ke kehidupanmu lebih dekat.

Teruntuk kamu, seorang yang dicintai begitu baik olehku mungkin tulisan ini tidak terbaca olehmu, karena sebanyak apapun waktu sibukmu aku tahu tidak sedikitpun tersisa bagimu untuk aku. Tak apa, aku menulis ini hanya membuat hatiku sedikit lega. Aku sudah tidak bisa menyimpannya di kepala, maka aku akan menuliskannya bersama kata-kata. 

Jika suatu hari nanti kamu melihatku melangkah mundur menjauhimu bahkan berjalan membelakangi langkahmu, ketahuilah bahwa aku pernah begitu sabar menunggumu didepan pintu berharap kamu mempersilahkan aku masuk dan duduk. Tapi penantian baikku tidak pernah ternilai baik dimatamu. Bagimu tidak pernah ada aku. Aku tidak ingin marah kepadamu dan aku juga tidak akan menyalahkanmu. 

Setiap orang berhak memilih siapa saja yang boleh dipersilahkan masuk kedalam hidupnya termasuk juga kamu. Aku senang menunggumu, jika waktu mengizinkan mungkin bisa selamanya aku menantimu. Tetapi tidak demikian, ketidak mampuanku menunggu memiliki batas waktu. Kepadaku waktu berbisik, bahwa kesabaran manusia dalam menunggu sesuatu bisa memiliki batas waktu, bahkan sebelum aku benar-benar pergi menjauhimu terimalah permohonan maafku. 

Aku tidak bisa larut terlalu lama dalam penantian panjang tanpa kepastian. Aku harus mengaku bahwa ternyata bukan aku yang memenangkan hatimu, bahwa ternyata aku telah gagal menjadi seseorang yang pantas untuk dicintaimu. Bahwa ternyata aku harus bersedia menerima kekalahanku atasmu. Tapi yang lebih menyakitkan adalah bahwa ternyata aku harus menjadi rela untuk mengikhlaskanmu berbahagia bersama seseorang yang bukan aku. 

Kelak sepanjang hidup aku akan terus berdoa untuk kebahagiaanmu tanpa sedikitpun mengutuk masa lalu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu bahwa aku percaya, bahwa malaikat pernah menjaga cintaku untukmu. Sampai akhirnya aku tiba pada takdir yang memintaku untuk menjauhimu. Aku pernah percaya garis takdir kita akan bertemu, kepercayaanku yang terlalu kemudian buatku melupakan namanya batas waktu. 

Padahal kamu semakin lama tidak mendekat, tapi semakin menjauh dan tak terlihat. Kamu pergi dengan mengubah kisah kita menjadi kelabu, sementara diluar sana bahagiamu jelas terlihat begitu menggebu. Yang dulunya paling keras ingin tinggal, justru sekarang paling awal untuk memenggal.
Takdir yang membuatku bertemu denganmu, mencintaimu, memperhatikanmu dalam diam, dan takdir jugalah yang membuatku harus rela melupakanmu, menjauh darimu, dan mengikhlaskanmu. Andai saja takdirku tidak sesakit ini, betapa bahagianya aku bisa bersamamu, tapi takdirku berbeda dengan harapanku. 

Pada akhirnya aku tersadar bahwa aku harus pergi menjalani kehidupanku tanpa harus menunggumu lagi. Perlahan aku melangkah menjauhimu, kamu berhak bahagia walau bukan bersamaku. Aku memilih menjauh untuk kebahagiaanmu. Aku rela padam untuk menerangkan kebahagiaanmu. Aku pernah jatuh berkali-kali hanya ingin sejajar denganmu. Aku pernah berlari sekencang-kencangnya agar aku bisa meraihmu. Selama ini aku menunggumu untuk pulang kembali, namun yang kamu mau bukan aku. 

Sekuat apapun aku berusaha untuk menjadikanmu sebagai milikku, jika Tuhan tidak merestuinya untuk menjadikanmu takdirku, aku bisa apa? Aku hanya bisa menahan rasa ini dan terus mendoakanmu agar kamu bahagia bersamanya.



Kamis, 16 Januari 2020

Menunggu Yang Seharusnya Tidak Ditunggu


Menunggu Yang Seharusnya Tidak Ditunggu



Sebenarnya aku tahu sudah lama, hanya saja aku baru sadar sekarang. Karena aku yang terlalu berharap denganmu untuk memperbaiki hubungan ini. Tapi nyatanya, benar katamu bahwa tidak ada lagi yang perlu diperbaiki. Kita memang tidak bisa bersatu. Satu bulan aku seperti ini, tetap saja tidak dapat kabar baik tentangmu. 

Aku mengurungkan niatku untuk memblokir semua sosial mediamu, dan beberapa kali aku menghubungimu kembali hanya untuk sekedar bilang aku rindu. Sebelum aku menghubungimu aku sempat berpikir beribu kali untuk melakukannya. Tetapi aku lega saat aku sudah mengungkapkannya walau lewat pesan singkat bahwa aku sedang rindu. Walaupun kamu hanya menjawab “terus aku bisa apa?” akupun tidak bisa juga berbuat apa-apa. Ini kataku dalam hati. 

Setiap kali aku menghubungimu kembali, seperti responmu tidak welcome lagi kepadaku, entah mengapa kamu seperti ini aku tidak mengerti. Mengapa kamu begitu tega sampai membalas pesan singkatku pun seperti tak ada niat. Seperti aku ini adalah penjahat dimatamu. 

Semenjak kita berpisah kamu pun jauh berubah, aku tidak menyukai dirimu yang sekarang. Aku berjanji hari ini adalah hari terakhirku untuk mencoba menghubungimu kembali. Aku bukan bermaksud untuk datang, aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku rasakan. Tapi sepertinya kamu tak suka, dan kamu pun tidak peduli. Aku janji hari ini adalah terakhir kalinya aku menghubungimu kembali. Maaf kalau aku seperti ini. Aku hanya sedang mengikuti kata hatiku saja. Maafkan aku yang terkadang datang menghubungimu kembali secara tiba-tiba dan mengulang ucapan yang sama. Mungkin kamu bosan membaca dan kamu pun acuh. 

Perilakumu yang membuatku sadar, seperti tiada gunanya lagi aku menunggumu untuk kembali pulang, karena memang takdirnya kamu bukanlah untukku. Aku tidak memaksakan takdir yang sudah memisahkan.


Rabu, 15 Januari 2020

Sejak Dulu Hatimu Memang Tidak Sepenuhnya Untukku


Sejak Dulu Hatimu Memang Tidak Sepenuhnya Untukku



Suatu hari saat semua baik-baik saja, kamu mulai mengatur rencana lain. Diam-diam kamu sudah menyimpan niat untuk melepaskan. Kamu berharap semua berjalan dengan rencanamu. Entah tuhan sedang berbaik kepadamu, atau tuhan sedang mengujiku. 

Kamu meminta semua yang terikat selama ini hal yang dengan sungguh-sungguh kujaga sekuat hati yang ingin segera kamu akhiri. Aku berharap itu hanya sebuah gurauan, namun ternyata, kamu serius, benar-benar serius.  Kamu menyiapkan segalanya dengan kesungguhan. Hal yang aku sesalkan kemana saja aku selama ini? Hingga aku tidak tahu tanaman di ladangku pun  sudah tidak sepenuhnya aku miliki. 

Katamu, kamu tak suka kebohongan, tetapi kamu malah membohongiku. Katamu, kamu tidak suka dikhianati, tapi kamu malah mengkhianatiku. Aku berharap semuanya hanya bunga tidur, bukan sesuatu yang membuat harapanku hancur. Hanya saja kamu mempunyai cara yang berbeda. Hingga dengan tega, dengan setengah memaksa kamu memintaku untuk lekas menjauh. 

Katamu aku bukanlah rumah yang nyaman, dan kini aku  bukan lagi tempatmu pulang. Hingga suatu hari, semesta seolah sedang bercanda. Aku rasa tuhan sedang menyadarkanmu atau tuhan sedang mengujiku lagi. Entahlah, rasanya terlalu banyak yang berubah.  

Aku kira kamu sadar saat aku ingin menjadi yang terbaik untukmu, dan aku tidak pernah tahu ternyata kamu sudah menyiapkan waktu. Waktu dimana yang tepat untuk kamu meninggalkanku. Kita pernah bersama, aku bangga pernah memiliki dirimu. Aku selalu lupa dengan semua masalah yang membebani aku saat sedang bersamamu. 

Aku hanya menunggu saat-saat kamu kembali, tapi itu hanyalah sia-sia. Begitu tidak terasa waktu yang sudah kita lewati walaupun hanya sebentar. Satu bulan sudah kita tidak bersama, aku butuh waktu untuk kembali bahagia dengan diriku sendiri.
Aku ingin sekali mengulang kisah manis seperti dulu. Hanya saja kisah manis itu berakhir dengan sangat menyakitkan. Aku yang membangun semua harapan, kamu malah mudahnya membuat semua menjadi berantakan. 

Ingatlah, jangan lupa kalau kamu pernah memintaku untuk melupakanmu. Jika kini aku telah melakukan semuanya, bukankah kamu seharusnya bahagia? Karena pada akhirnya, aku bisa memenuhi keinginanmu. Melupakanmu dengan sungguh, meski melewati proses melelahkan berkali-kali. Harus berusaha bangkit dari jatuh. 

Tuhan mungkin akan menyadarkanmu, agar kamu bisa menjadi jauh lebih baik. Hidupku sedang berjalan, kini kamu hanyalah orang asing yang pernah datang di satu ingatan. Kamu hanya masa lalu yang mengajari aku rindu. Tetapi bukan lagi seseorang yang penting untuk menjalani apa saja yang kini kuperjuangkan untuk hidupku. 

Pulanglah, kamu salah rumah.