Senin, 13 Januari 2020

Cerita Kita Belum Selesai


Cerita Kita Belum Selesai




Langkahmu semakin cepat, semakin menjauh, semakin tak terlihat. Kamu berkata padaku untuk mengikuti dari belakang saja. Kamu tak membiarkan aku untuk berjalan bersebelahan denganmu, waktu kewaktu jarak langkah kita semakin jauh. Aku tak mampu mengimbangi langkahmu. Kamu seperti terburu-buru kala itu. Seperti menghindari sesuatu dibelakang . 

Ketika ku tanya, kamu hanya diam membisu. Sampai pada akhirnya aku sadar, yang kamu hindari adalah aku. Aku yang tak kamu biarkan berjalan disampingmu. Katamu, kamu akan menjadi pemimpin diperjalanan kita, namun kamu justru menghindariku mengejar dia yang justru ada didepanmu. 

Cerita kita belum selesai, masih ada yang harus dilanjuti, namun aku tak mampu lagi melangkah kakiku sudah mati rasa dengan harapan yang kamu ikat kuat-kuat. Semua hanya memperlambat langkahku agar tak mampu mengejarmu. Aku terdiam, mengakhiri langkah demi langkah. Melihat dari kejauhan kamu sudah berdampingan bersamanya. 

Ini adalah cerita kita yang belum selesai, namun terpaksa untuk diakhirkan. Pada cinta yang sejatinya belum benar-benar selesai. Ketahuilah, semesta sepertinya masih ingin kita bersama.  Senyummu pun masih sama, tidak ada yang berubah dari satu bulan usia perpisahan kita. Kemarin malam pun begitu. Wajahmu sayu, matamu berkaca-kaca. Aku menunggu kamu membuka suara. Berharap ada kata rindu disana. 

Kamu tahu ada rindu yang kusembunyikan satu bulan belakangan. Sejak kita memutuskan untuk berpisah selamanya. Tatapan mata itu masih sama. Teduh, menawarkan kata ‘pulang’ bagi segala kelelahan. Kita memang sudah satu bulan pergi tanpa pesan. Meski tak sepenuhnya saling memunggungi, tetap saja, aku merasa ada yang berbeda. Masing-masing sibuk dengan dunianya. Aku mencoba menulis semua kisah tentang kita. Sedangkan kamu menjalani kegiatan seperti biasanya yang sampai sekarang aku masih hafal dengan segala kesibukanmu. 

Kita bagai dua elemen yang tak lagi menyatu. Bila kemudian dipertemukan dalam satu ruang yang sama, kita berbincang. Tetap tertawa dengan khas masing-masing. Seolah tak ada yang berubah. Berusaha melupakan satu sama lain. Menggunakan tameng ‘kesibukan’ untuk menutupi luka. Dunia ini menjadi seolah menjadi saksi, betapa kita lemah dalam hal ini. Kita memang tak pantas jadi ‘mantan’ sekalipun bersama tanpa status, itu lebih baik daripada harus saling meninggalkan. 

Semua orang berlomba menyemangatiku. Mendikte agar aku tiada pernah kembali padamu. Tertekan? Ya. Segala luka dimasa lalu berusaha kuobati, dengan keikhlasan dan melupakanmu perlahan tanpa bermaksud menyakiti. Aku mulai selektif memilih tamu yang boleh masuk ke ruang hatiku. Satu dua lelaki pernah mengisi setelah kamu. Selesai mengucap “hai” mereka pun pergi. Mereka tak kembali, bahkan hingga air mataku kering dan mengeras di pipi. Mengukir sebuah ketegasan di raut wajahku. 

Kamu adalah lelaki tercerdas yang pernah aku temui. Pelukan ikhlas tanpa mengharap balas. Pun bila ditakdirkan berjodoh, aku hanya ingin menemui sosokmu yang jauh lebih dewasa. Bila jantungku untukmu dan jantungmu untukku, percayalah, sesulit apapun, pasti akan kembali menemui. Kuharap kamu selalu mengerti. Detik ini, hingga nanti.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar