Cerita Kita
Belum Selesai
Langkahmu
semakin cepat, semakin menjauh, semakin tak terlihat. Kamu berkata padaku untuk
mengikuti dari belakang saja. Kamu tak membiarkan aku untuk berjalan
bersebelahan denganmu, waktu kewaktu jarak langkah kita semakin jauh. Aku tak mampu mengimbangi langkahmu. Kamu
seperti terburu-buru kala itu. Seperti menghindari sesuatu dibelakang .
Ketika
ku tanya, kamu hanya diam membisu. Sampai pada akhirnya aku sadar, yang kamu
hindari adalah aku. Aku yang tak kamu biarkan berjalan disampingmu. Katamu,
kamu akan menjadi pemimpin diperjalanan kita, namun kamu justru menghindariku
mengejar dia yang justru ada didepanmu.
Cerita
kita belum selesai, masih ada yang harus dilanjuti, namun aku tak mampu lagi
melangkah kakiku sudah mati rasa dengan harapan yang kamu ikat kuat-kuat. Semua
hanya memperlambat langkahku agar tak mampu mengejarmu. Aku terdiam, mengakhiri
langkah demi langkah. Melihat dari kejauhan kamu sudah berdampingan bersamanya.
Ini
adalah cerita kita yang belum selesai, namun terpaksa untuk diakhirkan. Pada
cinta yang sejatinya belum benar-benar selesai. Ketahuilah, semesta sepertinya
masih ingin kita bersama. Senyummu pun
masih sama, tidak ada yang berubah dari satu bulan usia perpisahan kita.
Kemarin malam pun begitu. Wajahmu sayu, matamu berkaca-kaca. Aku menunggu kamu
membuka suara. Berharap ada kata rindu disana.
Kamu
tahu ada rindu yang kusembunyikan satu bulan belakangan. Sejak kita memutuskan
untuk berpisah selamanya. Tatapan mata itu masih sama. Teduh, menawarkan kata
‘pulang’ bagi segala kelelahan. Kita memang sudah satu bulan pergi tanpa pesan.
Meski tak sepenuhnya saling memunggungi, tetap saja, aku merasa ada yang
berbeda. Masing-masing sibuk dengan dunianya. Aku mencoba menulis semua kisah
tentang kita. Sedangkan kamu menjalani kegiatan seperti biasanya yang sampai
sekarang aku masih hafal dengan segala kesibukanmu.
Kita
bagai dua elemen yang tak lagi menyatu. Bila kemudian dipertemukan dalam satu
ruang yang sama, kita berbincang. Tetap tertawa dengan khas masing-masing.
Seolah tak ada yang berubah. Berusaha melupakan satu sama lain. Menggunakan
tameng ‘kesibukan’ untuk menutupi luka. Dunia ini menjadi seolah menjadi saksi,
betapa kita lemah dalam hal ini. Kita memang tak pantas jadi ‘mantan’ sekalipun
bersama tanpa status, itu lebih baik daripada harus saling meninggalkan.
Semua
orang berlomba menyemangatiku. Mendikte agar aku tiada pernah kembali padamu.
Tertekan? Ya. Segala luka dimasa lalu berusaha kuobati, dengan keikhlasan dan
melupakanmu perlahan tanpa bermaksud menyakiti. Aku mulai selektif memilih tamu
yang boleh masuk ke ruang hatiku. Satu dua lelaki pernah mengisi setelah kamu.
Selesai mengucap “hai” mereka pun pergi. Mereka tak kembali, bahkan hingga air
mataku kering dan mengeras di pipi. Mengukir sebuah ketegasan di raut wajahku.
Kamu
adalah lelaki tercerdas yang pernah aku temui. Pelukan ikhlas tanpa mengharap
balas. Pun bila ditakdirkan berjodoh, aku hanya ingin menemui sosokmu yang jauh
lebih dewasa. Bila jantungku untukmu dan jantungmu untukku, percayalah, sesulit
apapun, pasti akan kembali menemui. Kuharap kamu selalu mengerti. Detik ini,
hingga nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar