Tentang Rasa
Mengikhlaskan
Saat
ini aku sedang mengikhlaskan tentang sebuah perasaan. Bukan tentang dirimu
lagi, tetapi tentang semua yang sudah pernah terjadi dari sebuah perasaan. Aku
akan belajar menerima diri yang seharusnya memang harus di ikhlaskan. Kamu yang
sudah tidak peduli denganku. Semua dasarnya hanya titipan yang bisa saja hilang
secara tiba-tiba.
Mengikhlaskan
semua yang ternyata tidak ditakdirkan menjadi milik kita. Apa yang ditakdirkan
tuhan untuk kita adalah sebuah ketetapan yang harus kita terima.
Untukmu
wanita yang sedang berada diposisiku dahulu, yang tidak perlu kusebutkan
namanya. Sekarang kamu sedang merasakan bagaimana rasanya diposisi aku dahulu.
Yang menerima dan membuatmu nyaman. Bahagia lah kamu, ku doakan yang terbaik
untuk hubungan kalian. Semoga kamu itidak menjadi sepertiku. Aku pernah merasakan ini semua.
Dulu
sewaktu dia masih bersamaku, dia adalah orang yang sangat sibuk sampai susah
ada waktunya untukku. Apakah sekarang masih sama? Jika masih, kamu harus lebih
sabar dan lebih memahami. Mungkin awalnya kamu tidak terbiasa sama seperti hal
nya aku dulu. Tetapi seengganya kamu harus terus mencoba. Aku merelakan dia
untukmu, semoga dia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Semoga hidup dia
lebih menyenangkan bersamamu.
Aku
sudah selesai mencoba berada didalamnya. Semoga kamu memiliki hati yang kuat.
Aku bangga dengan hatiku. Sudah dimainkan, dibakar, dan dipatahkan, tetapi
entah bagaimana masih berfungsi. Jangan khawatir aku tidak akan cemburu. Semoga
dirimu lah yang bisa membahagiakan dia dengan sepenuhnya. Dan aku pergi, aku
titipkan dia kepadamu. Kamu tahu, aku dulu begitu sayang kepadanya hingga
akhirnya aku yang dikecewakan. Tetapi kamu tenang, rasa ini tidak selamanya
akan aku rasakan, rasa ini akan memudar secara perlahan. Aku tidak akan
mengusik hubungan kalian berdua, karena aku sadar diri aku bukanlah bagian
terpentingnya lagi.
Bagian terpenting dari hidupnya sekarang yaitu
kamu. Seandainya kita bisa bertemu dan duduk bersama, aku ingin bercerita
berbagi pengalamanku tentangnya. Bukan kejelekkannya yang akan aku ceritakan
nanti, tetapi hal yang pernah membuatku bahagia karena pernah sempat memiliki.
Aku
akan belajar untuk memaafkan diriku sendiri. Mengikhlaskan berarti merelakan
tanpa mengungkit dan pastinya ikhlas adalah hasil dari keputusan kami bersama.
Dia pernah menjadi seseorang yang aku harapkan dimasa depan. Tetapi takdir nyatanya
tidak menggariskan aku dan dia untuk bisa bersama selamanya. Sebenarnya
kepergian ini hanya diinginkan oleh satu pihak. Suatu kenyataan yang tidak
diharapkan, namun yakin ini yang terbaik.
Jaga
selagi ada, rawat selagi sempat. Karena beberapa yang hilang takkan pernah
pulang. Karena beberapa yang pergi takkan pernah kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar