Selasa, 07 Januari 2020

Tentang Rasa Mengikhlaskan


Tentang Rasa Mengikhlaskan





Saat ini aku sedang mengikhlaskan tentang sebuah perasaan. Bukan tentang dirimu lagi, tetapi tentang semua yang sudah pernah terjadi dari sebuah perasaan. Aku akan belajar menerima diri yang seharusnya memang harus di ikhlaskan. Kamu yang sudah tidak peduli denganku. Semua dasarnya hanya titipan yang bisa saja hilang secara tiba-tiba. 

Mengikhlaskan semua yang ternyata tidak ditakdirkan menjadi milik kita. Apa yang ditakdirkan tuhan untuk kita adalah sebuah ketetapan yang harus kita terima. 

Untukmu wanita yang sedang berada diposisiku dahulu, yang tidak perlu kusebutkan namanya. Sekarang kamu sedang merasakan bagaimana rasanya diposisi aku dahulu. Yang menerima dan membuatmu nyaman. Bahagia lah kamu, ku doakan yang terbaik untuk hubungan kalian. Semoga kamu itidak menjadi sepertiku.  Aku pernah merasakan ini semua. 

Dulu sewaktu dia masih bersamaku, dia adalah orang yang sangat sibuk sampai susah ada waktunya untukku. Apakah sekarang masih sama? Jika masih, kamu harus lebih sabar dan lebih memahami. Mungkin awalnya kamu tidak terbiasa sama seperti hal nya aku dulu. Tetapi seengganya kamu harus terus mencoba. Aku merelakan dia untukmu, semoga dia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Semoga hidup dia lebih menyenangkan bersamamu. 

Aku sudah selesai mencoba berada didalamnya. Semoga kamu memiliki hati yang kuat. Aku bangga dengan hatiku. Sudah dimainkan, dibakar, dan dipatahkan, tetapi entah bagaimana masih berfungsi. Jangan khawatir aku tidak akan cemburu. Semoga dirimu lah yang bisa membahagiakan dia dengan sepenuhnya. Dan aku pergi, aku titipkan dia kepadamu. Kamu tahu, aku dulu begitu sayang kepadanya hingga akhirnya aku yang dikecewakan. Tetapi kamu tenang, rasa ini tidak selamanya akan aku rasakan, rasa ini akan memudar secara perlahan. Aku tidak akan mengusik hubungan kalian berdua, karena aku sadar diri aku bukanlah bagian terpentingnya lagi.

 Bagian terpenting dari hidupnya sekarang yaitu kamu. Seandainya kita bisa bertemu dan duduk bersama, aku ingin bercerita berbagi pengalamanku tentangnya. Bukan kejelekkannya yang akan aku ceritakan nanti, tetapi hal yang pernah membuatku bahagia karena pernah sempat memiliki. 

Aku akan belajar untuk memaafkan diriku sendiri. Mengikhlaskan berarti merelakan tanpa mengungkit dan pastinya ikhlas adalah hasil dari keputusan kami bersama. Dia pernah menjadi seseorang yang aku harapkan dimasa depan. Tetapi takdir nyatanya tidak menggariskan aku dan dia untuk bisa bersama selamanya. Sebenarnya kepergian ini hanya diinginkan oleh satu pihak. Suatu kenyataan yang tidak diharapkan, namun yakin ini yang terbaik. 

Jaga selagi ada, rawat selagi sempat. Karena beberapa yang hilang takkan pernah pulang. Karena beberapa yang pergi takkan pernah kembali.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar