Rasa Penasaran
Yang Membunuh
Kamu tahu ketika aku memutuskan untuk memblokir
semua sosial mediamu, aku terdiam dan berpikir semoga aku tidak akan menyesal karena
aku sudah melakukan. Sampai aku berjanji dengan diriku sendiri untuk tidak akan
membuka satupun sosial mediamu itu. Tetapi aku sudah berapa kali ingkar untuk
hal ini, penasaranku semakin kuat setiap harinya. Jika aku menuruti rasa
penasaranku yang aku dapat hanyalah rasa sakit hati.
Aku begitu puas ketika aku sudah mengetahuinya,
tetapi aku harus merasakan hal yang membuatku sakit yang tak seharusnya aku
lihat. Dan akupun hanya bisa diam, memendam semua rasa. Semua yang aku alami
akanku tuliskan menjadi sebuah cerita.
Aku penasaran bukan berarti aku masih begitu peduli
denganmu. Hanya saja aku ingin tahu keadaanmu walau ku tahu konsekuensinya yang
akan aku dapat. Aku akan terima, aku tak apa. Setiap rasa penasaranku ini,
terkadang aku menurutinya untuk melihat sosial mediamu lagi dan tak jarang aku
merasakan sakit atau rasa cemburu. Entah kenapa rasa cemburu itu masih ada pada
diriku. Aku tidak mengerti.
Ternyata hidupmu lebih jauh bahagia tanpa
keberadaanku. Aku hanya ingin menanyakan satu hal, mengapa kamu secepat itu
untuk mencari? Aku berasumsi kalau kamu hanya jadikan ia pelampiasan saja.
Karena aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan. Tapi aku tidak bisa
membenarkan hal tersebut. Itu hanya pemikiranku saja yang mungkin bisa salah.
Ya aku tidak peduli mau kamu dekat dengan siapa saja. Itu hakmu. Dan aku juga
tidak berhak untuk melarangmu.
Aku jadi merasa semua sia-sia memblokir sosial
mediamu, karena hal itu membuatku menjadi semakin penasaran dengan kehidupan
barumu. Diam-diam aku masih memperhatikanmu. Walau ku tahu apa yang akan aku
dapatkan.
Tidak jarang juga aku menanyakan tentang kabarmu
lewat salah satu temanmu dan kebetulan teman akrabku juga. Hanya dia yang bisa
membantuku saat ini. Memberikan informasi tentang dirimu yang tidak aku ketahui.
Maaf kalo kamu menilai ini justru merepotkan orang lain.
Tetapi aku
bersyukur setelah aku melepaskanmu, aku yang begitu polosnya hingga tidak ada
lagi yang ku dekati selain kamu dulu. Dulu aku juga tidak berpikir untuk dekat
denganmu sampai akhirnya kita menjalani sebuah hubungan yang seperti ini.
Sekarang aku sudah tahu sifat aslimu yang baru saja kamu tunjukkan. Ternyata
selama ini aku salah menilai kamu begitu cepat.
Semoga rasa penasaranku ini cepat hilang dan akan
terbiasa tanpa tahu kabarmu. Aku ingin sesekali belajar tanpa peduli dengan
dirimu lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar