Jumat, 03 Januari 2020

Rasa Penasaran Yang Membunuh


Rasa Penasaran Yang Membunuh
  


Kamu tahu ketika aku memutuskan untuk memblokir semua sosial mediamu, aku terdiam dan berpikir semoga aku tidak akan menyesal karena aku sudah melakukan. Sampai aku berjanji dengan diriku sendiri untuk tidak akan membuka satupun sosial mediamu itu. Tetapi aku sudah berapa kali ingkar untuk hal ini, penasaranku semakin kuat setiap harinya. Jika aku menuruti rasa penasaranku yang aku dapat hanyalah rasa sakit hati. 

Aku begitu puas ketika aku sudah mengetahuinya, tetapi aku harus merasakan hal yang membuatku sakit yang tak seharusnya aku lihat. Dan akupun hanya bisa diam, memendam semua rasa. Semua yang aku alami akanku tuliskan menjadi sebuah cerita. 

Aku penasaran bukan berarti aku masih begitu peduli denganmu. Hanya saja aku ingin tahu keadaanmu walau ku tahu konsekuensinya yang akan aku dapat. Aku akan terima, aku tak apa. Setiap rasa penasaranku ini, terkadang aku menurutinya untuk melihat sosial mediamu lagi dan tak jarang aku merasakan sakit atau rasa cemburu. Entah kenapa rasa cemburu itu masih ada pada diriku. Aku tidak mengerti. 

Ternyata hidupmu lebih jauh bahagia tanpa keberadaanku. Aku hanya ingin menanyakan satu hal, mengapa kamu secepat itu untuk mencari? Aku berasumsi kalau kamu hanya jadikan ia pelampiasan saja. Karena aku tidak tahu apa yang akan kamu lakukan. Tapi aku tidak bisa membenarkan hal tersebut. Itu hanya pemikiranku saja yang mungkin bisa salah. Ya aku tidak peduli mau kamu dekat dengan siapa saja. Itu hakmu. Dan aku juga tidak berhak untuk melarangmu. 

Aku jadi merasa semua sia-sia memblokir sosial mediamu, karena hal itu membuatku menjadi semakin penasaran dengan kehidupan barumu. Diam-diam aku masih memperhatikanmu. Walau ku tahu apa yang akan aku dapatkan. 

Tidak jarang juga aku menanyakan tentang kabarmu lewat salah satu temanmu dan kebetulan teman akrabku juga. Hanya dia yang bisa membantuku saat ini. Memberikan informasi tentang dirimu yang tidak aku ketahui. Maaf kalo kamu menilai ini justru merepotkan orang lain. 

 Tetapi aku bersyukur setelah aku melepaskanmu, aku yang begitu polosnya hingga tidak ada lagi yang ku dekati selain kamu dulu. Dulu aku juga tidak berpikir untuk dekat denganmu sampai akhirnya kita menjalani sebuah hubungan yang seperti ini. Sekarang aku sudah tahu sifat aslimu yang baru saja kamu tunjukkan. Ternyata selama ini aku salah menilai kamu begitu cepat. 

Semoga rasa penasaranku ini cepat hilang dan akan terbiasa tanpa tahu kabarmu. Aku ingin sesekali belajar tanpa peduli dengan dirimu lagi.        


Tidak ada komentar:

Posting Komentar