Aku Tidak Dendam
Hari minggu, tanggal lima, bulan satu, tahun dua
ribu dua puluh. Kita sering kali tenggelam dalam ide akan masa lalu. Dalam
fantasi akan cinta sejati. Dalam kepura-puraan untuk menjaga
semuanya tetap baik-baik saja.
Padahal
mungkin sudah tak ada kubu-kubu yang berusaha, dan meski menyedihkan, itu tetap
tidak ada salahnya bukan?
Terkadang
kita harus ikhlas, dan harus bisa menerima. Itu hal tersulit, kadang.
Sedikitpun dengan masa laluku, aku hanya merasa sudah cukup sampai disitu.
Hari-hari yang teramat keras menyakitiku pun telah kumaafkan. Sekarang aku
sudah bisa lepas dari semua itu, menutup rapat pintu hati dari orang-orang yang
pernah meluluh lantakkan hidupku. Sedikitpun aku tidak menaruh dendam.
Sebenarnya
aku juga tidak ingin membenci. Tetapi entah mengapa saat aku mengingatnya aku
benci dengan hal tersebut. Intinya hanya mengikhlaskan. Matilah jiwa yang dulu
pernah mencintai, yang telah kamu beri harapan, dan kamu beri janji. Cara
terbaik adalah aku anggap mati karena apabila perasaanku mati kamu tidak akan
pernah memiliki perasaan apapun untuk yang menyakitiku. Diriku yang mecintaimu,
kini telah mati. Meski masih ada rasa yang aku sendiri tidak bisa menjelaskan.
Tentang
wanita yang kamu tinggalkan itu hingga kini dia masih menjadi wanita yang hebat
meskipun masih ada luka di hati yang tak tahu kapan sembuhnya. Namun aku
percaya, apapun yang telah aku lalui waktu itu semua adalah ujian karena tuhan
tahu dia mampu melakukannya. Karena tuhan tahu dia berbeda dari yang lainnya.
Kelak
tuhan akan membuat dia jatuh cinta lagi di saat yang tepat, mempertemukan dia
dengan seseorang yang juga begitu hebat. Seseorang yang mengerti bahwa wanita
sepertinya tidak pantas untuk disia-siakan.
Aku
tidak dendam, tapi aku ingat. Banyak hal pada akhirnya hanya bisa dikenang dan
tidak bisa diulang. Aku merasa takut akan sebuah kehilangan awalnya. Namun aku
tak punya hak untuk memintamu tetap tinggal. Aku berharap sedihku hari ini yang
sudah semuanya aku lewati, tak setara dengan bahagia yang akan aku dapatkan
suatu saat nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar