Minggu, 05 Januari 2020

Aku Tidak Dendam


Aku Tidak Dendam



Hari minggu, tanggal lima, bulan satu, tahun dua ribu dua puluh. Kita sering kali tenggelam dalam ide akan masa lalu. Dalam fantasi akan cinta sejati. Dalam kepura-puraan untuk menjaga semuanya tetap baik-baik saja. 

Padahal mungkin sudah tak ada kubu-kubu yang berusaha, dan meski menyedihkan, itu tetap tidak ada salahnya bukan? 

Terkadang kita harus ikhlas, dan harus bisa menerima. Itu hal tersulit, kadang. Sedikitpun dengan masa laluku, aku hanya merasa sudah cukup sampai disitu. Hari-hari yang teramat keras menyakitiku pun telah kumaafkan. Sekarang aku sudah bisa lepas dari semua itu, menutup rapat pintu hati dari orang-orang yang pernah meluluh lantakkan hidupku. Sedikitpun aku tidak menaruh dendam. 

Sebenarnya aku juga tidak ingin membenci. Tetapi entah mengapa saat aku mengingatnya aku benci dengan hal tersebut. Intinya hanya mengikhlaskan. Matilah jiwa yang dulu pernah mencintai, yang telah kamu beri harapan, dan kamu beri janji. Cara terbaik adalah aku anggap mati karena apabila perasaanku mati kamu tidak akan pernah memiliki perasaan apapun untuk yang menyakitiku. Diriku yang mecintaimu, kini telah mati. Meski masih ada rasa yang aku sendiri tidak bisa menjelaskan. 

Tentang wanita yang kamu tinggalkan itu hingga kini dia masih menjadi wanita yang hebat meskipun masih ada luka di hati yang tak tahu kapan sembuhnya. Namun aku percaya, apapun yang telah aku lalui waktu itu semua adalah ujian karena tuhan tahu dia mampu melakukannya. Karena tuhan tahu dia berbeda dari yang lainnya. 

Kelak tuhan akan membuat dia jatuh cinta lagi di saat yang tepat, mempertemukan dia dengan seseorang yang juga begitu hebat. Seseorang yang mengerti bahwa wanita sepertinya tidak pantas untuk disia-siakan. 

Aku tidak dendam, tapi aku ingat. Banyak hal pada akhirnya hanya bisa dikenang dan tidak bisa diulang. Aku merasa takut akan sebuah kehilangan awalnya. Namun aku tak punya hak untuk memintamu tetap tinggal. Aku berharap sedihku hari ini yang sudah semuanya aku lewati, tak setara dengan bahagia yang akan aku dapatkan suatu saat nanti.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar