Hati Yang Tak
Kunjung Pulang
Ini
untuk kamu, yang pergi namun tak kembali. Kamu kemana? Setelah sekian lama
mengapa tidak ada jawaban yang pasti darimu, mengapa harus menghindar ketika
pertanyaan aku lontarkan kepadamu. Sampai kapan aku harus menunggu hanya demi
sebuah kepastian darimu.
Kamu
tahu, sudah lama kamu pergi dan tak memberi kabar. Dari aku yang pernah kamu
sebut rumah. Dari aku tempat yang seharusnya kamu pulang. Namun kini waktu
menyadarkanku hatimu tak akan lagi pulang, hatimu bukan sudah lagi milikku.
Semoga
ada rumah baru yang layak untukmu. Mungkin bukan lagi tentang kita. Kemarin aku
sempat bersamamu, namun hari ini aku kembali sendiri. Entah seberapa sering
namamu lintas dalam kepala, satu persatu rekaman memori berputar mengelilingi.
Pada kala itu aku tidak tahu harus bagaimana membiarkan waktu yang memutuskan.
Aku
ingat betul, tanganmu menggenggam erat tanganku mengisyaratkan ini adalah waktu
terbaik yang pernah kita habiskan. Namun tak butuh waktu lama, semua yang kita
lewati seolah menghilang dari kepalamu. Kata-kata yang kamu lontarkan seakan
aku adalah makhluk terburuk yang ada dihidupmu. Sampai hari ini aku mulai
mengerti cerita kemarin bukan lagi tentang kita.
Ketika
aku bersedia menjadi pilhanmu, saat itu juga aku siap menerima seluruhnya dengan
utuh. Terima kasih telah mengajarkan bagaimana caranya dalam hal berjuang. Aku
masih belum terbiasa seperti ini, bukannya tak ingin. Bukan tak mampu, tapi
semua soal waktu. Aku berharap aku punya kemampuan untuk menyakitimu sebagai
mana kamu menyakitiku. Tetapi tetap saja, diakhir cerita, aku tetap tak bisa
sejahat itu jika tentangmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar