Minggu, 12 Januari 2020

Hati Yang Tak Kunjung Pulang


Hati Yang Tak Kunjung Pulang
  


Ini untuk kamu, yang pergi namun tak kembali. Kamu kemana? Setelah sekian lama mengapa tidak ada jawaban yang pasti darimu, mengapa harus menghindar ketika pertanyaan aku lontarkan kepadamu. Sampai kapan aku harus menunggu hanya demi sebuah kepastian darimu. 

Kamu tahu, sudah lama kamu pergi dan tak memberi kabar. Dari aku yang pernah kamu sebut rumah. Dari aku tempat yang seharusnya kamu pulang. Namun kini waktu menyadarkanku hatimu tak akan lagi pulang, hatimu bukan sudah lagi milikku. 

Semoga ada rumah baru yang layak untukmu. Mungkin bukan lagi tentang kita. Kemarin aku sempat bersamamu, namun hari ini aku kembali sendiri. Entah seberapa sering namamu lintas dalam kepala, satu persatu rekaman memori berputar mengelilingi. Pada kala itu aku tidak tahu harus bagaimana membiarkan waktu yang memutuskan. 

Aku ingat betul, tanganmu menggenggam erat tanganku mengisyaratkan ini adalah waktu terbaik yang pernah kita habiskan. Namun tak butuh waktu lama, semua yang kita lewati seolah menghilang dari kepalamu. Kata-kata yang kamu lontarkan seakan aku adalah makhluk terburuk yang ada dihidupmu. Sampai hari ini aku mulai mengerti cerita kemarin bukan lagi tentang kita.  

Ketika aku bersedia menjadi pilhanmu, saat itu juga aku siap menerima seluruhnya dengan utuh. Terima kasih telah mengajarkan bagaimana caranya dalam hal berjuang. Aku masih belum terbiasa seperti ini, bukannya tak ingin. Bukan tak mampu, tapi semua soal waktu. Aku berharap aku punya kemampuan untuk menyakitimu sebagai mana kamu menyakitiku. Tetapi tetap saja, diakhir cerita, aku tetap tak bisa sejahat itu jika tentangmu. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar