Kamis, 16 Januari 2020

Menunggu Yang Seharusnya Tidak Ditunggu


Menunggu Yang Seharusnya Tidak Ditunggu



Sebenarnya aku tahu sudah lama, hanya saja aku baru sadar sekarang. Karena aku yang terlalu berharap denganmu untuk memperbaiki hubungan ini. Tapi nyatanya, benar katamu bahwa tidak ada lagi yang perlu diperbaiki. Kita memang tidak bisa bersatu. Satu bulan aku seperti ini, tetap saja tidak dapat kabar baik tentangmu. 

Aku mengurungkan niatku untuk memblokir semua sosial mediamu, dan beberapa kali aku menghubungimu kembali hanya untuk sekedar bilang aku rindu. Sebelum aku menghubungimu aku sempat berpikir beribu kali untuk melakukannya. Tetapi aku lega saat aku sudah mengungkapkannya walau lewat pesan singkat bahwa aku sedang rindu. Walaupun kamu hanya menjawab “terus aku bisa apa?” akupun tidak bisa juga berbuat apa-apa. Ini kataku dalam hati. 

Setiap kali aku menghubungimu kembali, seperti responmu tidak welcome lagi kepadaku, entah mengapa kamu seperti ini aku tidak mengerti. Mengapa kamu begitu tega sampai membalas pesan singkatku pun seperti tak ada niat. Seperti aku ini adalah penjahat dimatamu. 

Semenjak kita berpisah kamu pun jauh berubah, aku tidak menyukai dirimu yang sekarang. Aku berjanji hari ini adalah hari terakhirku untuk mencoba menghubungimu kembali. Aku bukan bermaksud untuk datang, aku hanya ingin menyampaikan apa yang aku rasakan. Tapi sepertinya kamu tak suka, dan kamu pun tidak peduli. Aku janji hari ini adalah terakhir kalinya aku menghubungimu kembali. Maaf kalau aku seperti ini. Aku hanya sedang mengikuti kata hatiku saja. Maafkan aku yang terkadang datang menghubungimu kembali secara tiba-tiba dan mengulang ucapan yang sama. Mungkin kamu bosan membaca dan kamu pun acuh. 

Perilakumu yang membuatku sadar, seperti tiada gunanya lagi aku menunggumu untuk kembali pulang, karena memang takdirnya kamu bukanlah untukku. Aku tidak memaksakan takdir yang sudah memisahkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar