Menunggu Yang
Seharusnya Tidak Ditunggu
Sebenarnya
aku tahu sudah lama, hanya saja aku baru sadar sekarang. Karena aku yang
terlalu berharap denganmu untuk memperbaiki hubungan ini. Tapi nyatanya, benar
katamu bahwa tidak ada lagi yang perlu diperbaiki. Kita memang tidak bisa
bersatu. Satu bulan aku seperti ini, tetap saja tidak dapat kabar baik
tentangmu.
Aku
mengurungkan niatku untuk memblokir semua sosial mediamu, dan beberapa kali aku
menghubungimu kembali hanya untuk sekedar bilang aku rindu. Sebelum aku
menghubungimu aku sempat berpikir beribu kali untuk melakukannya. Tetapi aku
lega saat aku sudah mengungkapkannya walau lewat pesan singkat bahwa aku sedang
rindu. Walaupun kamu hanya menjawab “terus aku bisa apa?” akupun tidak bisa
juga berbuat apa-apa. Ini kataku dalam hati.
Setiap
kali aku menghubungimu kembali, seperti responmu tidak welcome lagi kepadaku,
entah mengapa kamu seperti ini aku tidak mengerti. Mengapa kamu begitu tega
sampai membalas pesan singkatku pun seperti tak ada niat. Seperti aku ini
adalah penjahat dimatamu.
Semenjak
kita berpisah kamu pun jauh berubah, aku tidak menyukai dirimu yang sekarang.
Aku berjanji hari ini adalah hari terakhirku untuk mencoba menghubungimu
kembali. Aku bukan bermaksud untuk datang, aku hanya ingin menyampaikan apa
yang aku rasakan. Tapi sepertinya kamu tak suka, dan kamu pun tidak peduli. Aku
janji hari ini adalah terakhir kalinya aku menghubungimu kembali. Maaf kalau
aku seperti ini. Aku hanya sedang mengikuti kata hatiku saja. Maafkan aku yang
terkadang datang menghubungimu kembali secara tiba-tiba dan mengulang ucapan
yang sama. Mungkin kamu bosan membaca dan kamu pun acuh.
Perilakumu
yang membuatku sadar, seperti tiada gunanya lagi aku menunggumu untuk kembali
pulang, karena memang takdirnya kamu bukanlah untukku. Aku tidak memaksakan
takdir yang sudah memisahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar