Menunggu Dalam
Diam
Ketahuilah
aku sempat berpikir untuk menyapamu lewat pesan singkat, namun ku urungkan niat
tersebut. Sebab aku tahu, mendoakanmu jauh lebih baik dari apa yang bisa aku
lakukan untukmu. Rasanya sudah tepat, mungkin waktunya saja yang salah.
Barangkali dikesempatan lain kita bisa bersama.
Aku
berharap suatu saat nanti kamu akan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu,
karena ia tengah mencintai orang lain. Dengan begitu kamu akan sadar, betapa
sakitnya aku kemarin.
Barangkali
terluka olehmu adalah patah hati yang mendewasakan. Sebuah pemicu agar aku
menjadi kuat akan kesedihan. Sebuah pelajaran untuk masa depan agar aku lebih
bijak menentukan seseorang yang pantas kusebut Sang Pujaan.
Menunggu
dalam diam mungkin jauh lebih baik. Dan satu hal yang harus kamu tahu, aku
masih menunggumu. Andai kamu tahu hal paling berat yang pernah aku lakukan
adalah memelukmu disaat aku tau pelukan itu akan menjadi yang terakhir kali.
Dalam
sepi yang terbelit rindu, aku masih menyebut namamu dalam doaku. Doa yang
selalu kupanjatkan setiap waktu agar kelak kita dapat bersatu. Aku menaruh kamu
terlalu dalam di hati, sehingga untuk menghapusnya seperti menyakiti diri
sendiri.
Aku menunggu, meski terkadang menunggu tak
seinci pun menyeret kita untuk bertemu dititik rindu. Adakah yang lebih indah
dari ini? Entah sampai kapan, yang jelas aku masih menunggumu dalam diam. Aku
masih nyaman dengan keadaan sekarang. Keadaan yang menjadi alasanku menunggu.
Keadaan yang menjadi asalan debar dada ini.
Menunggumu
dalam diam itu caraku. Karena bukan kata tapi hati yang bicara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar