Kamis, 09 Januari 2020

Seulas Ungkapan


Seulas Ungkapan



Kita selesai walaupun sebenarnya tidak untukku. Yang tertinggal darimu masih kubiarkan utuh. Banyak hal yang pada akhirnya hanya bisa dikenang, dan tidak mungkin untuk diulang. 

Aku sadar, luka itu justru disembuhkan bukan untuk dilupakan. Lukaku hingga kini masih basah, hingga aku tidak tahu lagi harus dengan cara yang seperti apa agar mampu mengeringkannya. Agar hatiku pulih seperti sedia kala saat sebelum terluka karena cinta. 

Luka yang terlanjur membekas hanya perlu disadari bahwa setiap jatuh cinta tak pernah jauh-jauh juga dari luka. Menyadari bahwa luka hanya sementara, bukan selamanya untuk aku rasakan sendirian. Hanya perlu dirawat dengan baik, ikhlas, dan sabar. Agar kembali mengering tanpa harus memaksakan diri. Menikmati bahwa patah hati akan silih berganti. 

Karena sejatinya luka hanya sebatas singgah, ia tak selamanya akan tinggal. Perlahan akan mengering, dan lama-lama akan segera hilang tanpa merasakan rasa sakitnya. 

Begitu lama aku berjuang tak sedikit juga atas apa yang aku korbankan ternyata harus berakhir menyakitkan. Atas apa yang telah aku perjuangkan justru aku sendiri yang harus tersakiti secara perlahan. Tak menyangka bila akhirnya aku justru harus menerima takdir yang sama sekali tak pernah aku ingin. 

Namun yang aku tahu luka itu hal biasa, karena ini adalah bagian dari salah satu jatuh cinta. Atau atas perjuanganmu untuk memperjuangkan sesuatu cukup berdampingan, yang tak pernah berjauhan. Luka bukan untuk dipaksakan lupa, dan bukan juga untuk dihilangkan dengan ambisi secara instan. Luka hanyalah luka, bukan cerita berkepanjangan hingga larut dalam masa depan. Luka ini akan segera mengering dan akan hilang bersamaan dengan prosesnya aku sendiri yang membantu memulihkannya. 

Aku tahu kamu mampu untuk melalui semua ini, bersamaan kepingan hati yang berusaha kamu kembalikan lagi. Pada akhirnya kamu akan mengerti, bahwa luka bukan untuk dipaksakan menghilang begitu saja, karena ia hanya butuh disembuhkan dengan cara yang paling sabar. Penerimaan diri bahwa luka hanyalah luka, dan tak akan abadi selamanya. 

Terlalu sulit dan membutuhkan waktu yang lama, sedangkan rindu terkadang hadir. Semakin belajar untuk menerima semakin keras rindu itu datang. Harus cara apa agar semua kembali normal? Atau dengan tidak memikirkan hal yang tidak perlu? Bahagiakan dan cintai diri sendiri yang terpenting sekarang. Banyak orang yang pandai mendeskripsikan kata luka dengan baik. Semua terasa begitu rumit ketika hati menjadi patah sehancur-hancurnya. Terpaksa ikhlas walaupun dengan keadaan belum seutuhnya siap. Namun bukan berarti harus menyerah, aku akan tetap berdiri tegak meski hati terasa mau meledak. 

Aku tidak ingin melupakan, aku akan berkata tentang disepanjang hidupku aku belum pernah bertemu dengan orang sepertimu. Aku tidak pernah dekat dengan orang lain sebagaimana aku dekat dengan kepadamu. Aku hanya melakukannya kepada dan oleh sebab itu aku tidak ingin melupakanmu. Kamu adalah sesuatu yang luar biasa di dalam hidupku. Aku memulai denganmu, meski berakhir tidak denganmu.  

Keinginan saja tak cukup. Sebelum dinamai “perpisahan” oleh takdir, kita pernah dinamai “selamanya” oleh ingin. Banyak keinginan yang tidak disetujui oleh takdir. Jika kesabaran tak cukup untuk melahirkan kesadaran mungkin kehilangan ini adalah salah satu cara yang akan menjadikannya lebih paham.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar