Seulas Ungkapan
Kita
selesai walaupun sebenarnya tidak untukku. Yang tertinggal darimu masih
kubiarkan utuh. Banyak hal yang pada akhirnya hanya bisa dikenang, dan tidak
mungkin untuk diulang.
Aku
sadar, luka itu justru disembuhkan bukan untuk dilupakan. Lukaku hingga kini
masih basah, hingga aku tidak tahu lagi harus dengan cara yang seperti apa agar
mampu mengeringkannya. Agar hatiku pulih seperti sedia kala saat sebelum
terluka karena cinta.
Luka
yang terlanjur membekas hanya perlu disadari bahwa setiap jatuh cinta tak
pernah jauh-jauh juga dari luka. Menyadari bahwa luka hanya sementara, bukan
selamanya untuk aku rasakan sendirian. Hanya perlu dirawat dengan baik, ikhlas,
dan sabar. Agar kembali mengering tanpa harus memaksakan diri. Menikmati bahwa
patah hati akan silih berganti.
Karena
sejatinya luka hanya sebatas singgah, ia tak selamanya akan tinggal. Perlahan
akan mengering, dan lama-lama akan segera hilang tanpa merasakan rasa sakitnya.
Begitu
lama aku berjuang tak sedikit juga atas apa yang aku korbankan ternyata harus
berakhir menyakitkan. Atas apa yang telah aku perjuangkan justru aku sendiri
yang harus tersakiti secara perlahan. Tak menyangka bila akhirnya aku justru
harus menerima takdir yang sama sekali tak pernah aku ingin.
Namun
yang aku tahu luka itu hal biasa, karena ini adalah bagian dari salah satu
jatuh cinta. Atau atas perjuanganmu untuk memperjuangkan sesuatu cukup
berdampingan, yang tak pernah berjauhan. Luka bukan untuk dipaksakan lupa, dan
bukan juga untuk dihilangkan dengan ambisi secara instan. Luka hanyalah luka,
bukan cerita berkepanjangan hingga larut dalam masa depan. Luka ini akan segera
mengering dan akan hilang bersamaan dengan prosesnya aku sendiri yang membantu
memulihkannya.
Aku
tahu kamu mampu untuk melalui semua ini, bersamaan kepingan hati yang berusaha
kamu kembalikan lagi. Pada akhirnya kamu akan mengerti, bahwa luka bukan untuk
dipaksakan menghilang begitu saja, karena ia hanya butuh disembuhkan dengan
cara yang paling sabar. Penerimaan diri bahwa luka hanyalah luka, dan tak akan
abadi selamanya.
Terlalu
sulit dan membutuhkan waktu yang lama, sedangkan rindu terkadang hadir. Semakin
belajar untuk menerima semakin keras rindu itu datang. Harus cara apa agar
semua kembali normal? Atau dengan tidak memikirkan hal yang tidak perlu?
Bahagiakan dan cintai diri sendiri yang terpenting sekarang. Banyak orang yang
pandai mendeskripsikan kata luka dengan baik. Semua terasa begitu rumit ketika
hati menjadi patah sehancur-hancurnya. Terpaksa ikhlas walaupun dengan keadaan
belum seutuhnya siap. Namun bukan berarti harus menyerah, aku akan tetap
berdiri tegak meski hati terasa mau meledak.
Aku
tidak ingin melupakan, aku akan berkata tentang disepanjang hidupku aku belum
pernah bertemu dengan orang sepertimu. Aku tidak pernah dekat dengan orang lain
sebagaimana aku dekat dengan kepadamu. Aku hanya melakukannya kepada dan oleh
sebab itu aku tidak ingin melupakanmu. Kamu adalah sesuatu yang luar biasa di
dalam hidupku. Aku memulai denganmu, meski berakhir tidak denganmu.
Keinginan
saja tak cukup. Sebelum dinamai “perpisahan” oleh takdir, kita pernah dinamai
“selamanya” oleh ingin. Banyak keinginan yang tidak disetujui oleh takdir. Jika
kesabaran tak cukup untuk melahirkan kesadaran mungkin kehilangan ini adalah
salah satu cara yang akan menjadikannya lebih paham.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar