Minggu, 12 Januari 2020

Aku dan Harapan Tak Bertuan


Aku dan Harapan Tak Bertuan 



Sudah sekian kalinya aku berharap dengan hal yang tak pasti. Memang semua diluar kendali dan juga pemikiran akal sehatku. Tapi manusia seperti apa yang membenci harapan? Aku rasa tak satupun manusia yang tidak pernah merasakan manisnya harapan. 

Semua akan dibawa kepemikiran baru, dimana hanya ada kamu dan segudang kebahagiaan. Meskipun aku tidak tahu, harapan itu akan terwujud atau tidak. Harapan yang tercipta tidak selalu berhasil terwujud. Beberapa orang sudah terbiasa menerima harapan yang palsu, yang mampu membuat mereka bahagia sesaat. 

Aku duduk terdiam seorang diri ditengah malam yang tak berkawan, dibawah hujan yang menyamarkan tetesan air mata. Aku hanya bisa menunggu sebuah keajaiban seandainya kita bisa seperti dulu. Menunggu ketidakpastian, kepastian yang tak bertuan. 

Pernahkah kamu bayangkan rasanya menjadi aku? Hingga kini aku masih disini, menunggumu kembali. Aku yang penuh dengan harapan, masih terdiam menahan segala rasa. Kini aku hanya bisa memegang harapan. Harapan kosong yang mustahil akan terjadi. Aku yakin waktu akan menjawabnya, namun hingga kini kamu tak muncul. 

Haruskah aku berhenti berharap yang tak bertuan ini? Haruskah aku menyerah? Seharusnya aku tahu ini hanyalah khayalanku saja. Seharusnya aku membuka mataku. Mataku hampir berkaca-kaca, memutar semua hal yang tidak bisa diputar lagi sekarang. 

Berharap padamu rasanya adalah hal yang sia-sia sekarang. Mengingat kamu tak peduli itu dengan harapanku. Aku tahu kisah kita sangat singkat, namun melekat. Ketika semesta memintaku untuk berhenti berharap, dia tak pernah merasakan rasa kehilangan. Kesempatan kedua itu mungkin ada, tapi tidak untuk kesalahan yang sama. 

Sampai detik ini, kamu masih menjadi alasan kenapa hatiku tidak menerima siapapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar