Aku dan Harapan
Tak Bertuan
Sudah
sekian kalinya aku berharap dengan hal yang tak pasti. Memang semua diluar
kendali dan juga pemikiran akal sehatku. Tapi manusia seperti apa yang membenci
harapan? Aku rasa tak satupun manusia yang tidak pernah merasakan manisnya
harapan.
Semua
akan dibawa kepemikiran baru, dimana hanya ada kamu dan segudang kebahagiaan.
Meskipun aku tidak tahu, harapan itu akan terwujud atau tidak. Harapan yang
tercipta tidak selalu berhasil terwujud. Beberapa orang sudah terbiasa menerima
harapan yang palsu, yang mampu membuat mereka bahagia sesaat.
Aku
duduk terdiam seorang diri ditengah malam yang tak berkawan, dibawah hujan yang
menyamarkan tetesan air mata. Aku hanya bisa menunggu sebuah keajaiban
seandainya kita bisa seperti dulu. Menunggu ketidakpastian, kepastian yang tak
bertuan.
Pernahkah
kamu bayangkan rasanya menjadi aku? Hingga kini aku masih disini, menunggumu
kembali. Aku yang penuh dengan harapan, masih terdiam menahan segala rasa. Kini
aku hanya bisa memegang harapan. Harapan kosong yang mustahil akan terjadi. Aku
yakin waktu akan menjawabnya, namun hingga kini kamu tak muncul.
Haruskah
aku berhenti berharap yang tak bertuan ini? Haruskah aku menyerah? Seharusnya
aku tahu ini hanyalah khayalanku saja. Seharusnya aku membuka mataku. Mataku hampir
berkaca-kaca, memutar semua hal yang tidak bisa diputar lagi sekarang.
Berharap
padamu rasanya adalah hal yang sia-sia sekarang. Mengingat kamu tak peduli itu
dengan harapanku. Aku tahu kisah kita sangat singkat, namun melekat. Ketika
semesta memintaku untuk berhenti berharap, dia tak pernah merasakan rasa
kehilangan. Kesempatan kedua itu mungkin ada, tapi tidak untuk kesalahan yang
sama.
Sampai
detik ini, kamu masih menjadi alasan kenapa hatiku tidak menerima siapapun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar