Sejak Dulu
Hatimu Memang Tidak Sepenuhnya Untukku
Suatu
hari saat semua baik-baik saja, kamu mulai mengatur rencana lain. Diam-diam
kamu sudah menyimpan niat untuk melepaskan. Kamu berharap semua berjalan dengan
rencanamu. Entah tuhan sedang berbaik kepadamu, atau tuhan sedang mengujiku.
Kamu
meminta semua yang terikat selama ini hal yang dengan sungguh-sungguh kujaga
sekuat hati yang ingin segera kamu akhiri. Aku berharap itu hanya sebuah
gurauan, namun ternyata, kamu serius, benar-benar serius. Kamu menyiapkan segalanya dengan kesungguhan.
Hal yang aku sesalkan kemana saja aku selama ini? Hingga aku tidak tahu tanaman
di ladangku pun sudah tidak sepenuhnya
aku miliki.
Katamu,
kamu tak suka kebohongan, tetapi kamu malah membohongiku. Katamu, kamu tidak
suka dikhianati, tapi kamu malah mengkhianatiku. Aku berharap semuanya hanya
bunga tidur, bukan sesuatu yang membuat harapanku hancur. Hanya saja kamu
mempunyai cara yang berbeda. Hingga dengan tega, dengan setengah memaksa kamu
memintaku untuk lekas menjauh.
Katamu
aku bukanlah rumah yang nyaman, dan kini aku bukan lagi tempatmu pulang. Hingga suatu hari,
semesta seolah sedang bercanda. Aku rasa tuhan sedang menyadarkanmu atau tuhan
sedang mengujiku lagi. Entahlah, rasanya terlalu banyak yang berubah.
Aku
kira kamu sadar saat aku ingin menjadi yang terbaik untukmu, dan aku tidak
pernah tahu ternyata kamu sudah menyiapkan waktu. Waktu dimana yang tepat untuk
kamu meninggalkanku. Kita pernah bersama, aku bangga pernah memiliki dirimu.
Aku selalu lupa dengan semua masalah yang membebani aku saat sedang bersamamu.
Aku
hanya menunggu saat-saat kamu kembali, tapi itu hanyalah sia-sia. Begitu tidak
terasa waktu yang sudah kita lewati walaupun hanya sebentar. Satu bulan sudah
kita tidak bersama, aku butuh waktu untuk kembali bahagia dengan diriku
sendiri.
Aku
ingin sekali mengulang kisah manis seperti dulu. Hanya saja kisah manis itu
berakhir dengan sangat menyakitkan. Aku yang membangun semua harapan, kamu
malah mudahnya membuat semua menjadi berantakan.
Ingatlah,
jangan lupa kalau kamu pernah memintaku untuk melupakanmu. Jika kini aku telah
melakukan semuanya, bukankah kamu seharusnya bahagia? Karena pada akhirnya, aku
bisa memenuhi keinginanmu. Melupakanmu dengan sungguh, meski melewati proses
melelahkan berkali-kali. Harus berusaha bangkit dari jatuh.
Tuhan
mungkin akan menyadarkanmu, agar kamu bisa menjadi jauh lebih baik. Hidupku
sedang berjalan, kini kamu hanyalah orang asing yang pernah datang di satu
ingatan. Kamu hanya masa lalu yang mengajari aku rindu. Tetapi bukan lagi
seseorang yang penting untuk menjalani apa saja yang kini kuperjuangkan untuk
hidupku.
Pulanglah,
kamu salah rumah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar