Rabu, 15 Januari 2020

Sejak Dulu Hatimu Memang Tidak Sepenuhnya Untukku


Sejak Dulu Hatimu Memang Tidak Sepenuhnya Untukku



Suatu hari saat semua baik-baik saja, kamu mulai mengatur rencana lain. Diam-diam kamu sudah menyimpan niat untuk melepaskan. Kamu berharap semua berjalan dengan rencanamu. Entah tuhan sedang berbaik kepadamu, atau tuhan sedang mengujiku. 

Kamu meminta semua yang terikat selama ini hal yang dengan sungguh-sungguh kujaga sekuat hati yang ingin segera kamu akhiri. Aku berharap itu hanya sebuah gurauan, namun ternyata, kamu serius, benar-benar serius.  Kamu menyiapkan segalanya dengan kesungguhan. Hal yang aku sesalkan kemana saja aku selama ini? Hingga aku tidak tahu tanaman di ladangku pun  sudah tidak sepenuhnya aku miliki. 

Katamu, kamu tak suka kebohongan, tetapi kamu malah membohongiku. Katamu, kamu tidak suka dikhianati, tapi kamu malah mengkhianatiku. Aku berharap semuanya hanya bunga tidur, bukan sesuatu yang membuat harapanku hancur. Hanya saja kamu mempunyai cara yang berbeda. Hingga dengan tega, dengan setengah memaksa kamu memintaku untuk lekas menjauh. 

Katamu aku bukanlah rumah yang nyaman, dan kini aku  bukan lagi tempatmu pulang. Hingga suatu hari, semesta seolah sedang bercanda. Aku rasa tuhan sedang menyadarkanmu atau tuhan sedang mengujiku lagi. Entahlah, rasanya terlalu banyak yang berubah.  

Aku kira kamu sadar saat aku ingin menjadi yang terbaik untukmu, dan aku tidak pernah tahu ternyata kamu sudah menyiapkan waktu. Waktu dimana yang tepat untuk kamu meninggalkanku. Kita pernah bersama, aku bangga pernah memiliki dirimu. Aku selalu lupa dengan semua masalah yang membebani aku saat sedang bersamamu. 

Aku hanya menunggu saat-saat kamu kembali, tapi itu hanyalah sia-sia. Begitu tidak terasa waktu yang sudah kita lewati walaupun hanya sebentar. Satu bulan sudah kita tidak bersama, aku butuh waktu untuk kembali bahagia dengan diriku sendiri.
Aku ingin sekali mengulang kisah manis seperti dulu. Hanya saja kisah manis itu berakhir dengan sangat menyakitkan. Aku yang membangun semua harapan, kamu malah mudahnya membuat semua menjadi berantakan. 

Ingatlah, jangan lupa kalau kamu pernah memintaku untuk melupakanmu. Jika kini aku telah melakukan semuanya, bukankah kamu seharusnya bahagia? Karena pada akhirnya, aku bisa memenuhi keinginanmu. Melupakanmu dengan sungguh, meski melewati proses melelahkan berkali-kali. Harus berusaha bangkit dari jatuh. 

Tuhan mungkin akan menyadarkanmu, agar kamu bisa menjadi jauh lebih baik. Hidupku sedang berjalan, kini kamu hanyalah orang asing yang pernah datang di satu ingatan. Kamu hanya masa lalu yang mengajari aku rindu. Tetapi bukan lagi seseorang yang penting untuk menjalani apa saja yang kini kuperjuangkan untuk hidupku. 

Pulanglah, kamu salah rumah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar