Sabtu, 18 Januari 2020

Setia Yang Terluka


Setia Yang Terluka



Aku ingin bercerita tentang suatu hari dimana aku benar-benar mengenal apa itu rasa kecewa. Luka yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Luka yang harus aku bayar dengan tetes demi tetes air mata. 

Aku pernah mencintaimu, cinta yang boleh aku katakan itu adalah luar biasa. Cinta yang didalamnya kuberi rasa percaya, setia, dan doa. Bagiku cintaku kepadamu lebih indah dari sekedar lagu-lagu cinta. Hari demi hari bersamamu aku bahagia, susah dan senangku, tawa dan air mataku, mimpi dan harapanku bersamamu aku bercerita. 

Sampai suatu hari aku menemukan sesuatu yang benar-benar melukai hati. Bahkan bisa kubilang semua mematahkan bentuk harapan dan asa yang pernah aku terbangkan ke langit doa. Kamu tahu, kesetiaanku dilukai olehmu tanpa setengah-setengah. Kamu pergi dengan banyak alasan, dan ketika aku menemukanmu, kamu sudah berbahagia dengan yang lain. Tentu itu bukan aku. 

Kepada seseorang yang lain kamu telah jatuh cinta kembali, sungguh jangan tanyakan kepadaku tentang luka hati. Bahkan aku pun tidak pernah membayangkan sebelumnya. Yang membuatku sakit bukan semudah itu kamu jatuh hati kepada dia selain aku, tetapi tentang aku yang semudah ini memberi hati dengan utuh. Namun aku harus belajar menerima jika tidak semua hal di dunia ini berjalan dengan harapan dan rencana. 

Setelah hari itu, aku tidak mengutuk apapun  darimu, aku tetap percaya kamu seseorang yang baik. Aku pun tidak membenci, karena suka atau tidak suka, menolak atau menerima harus aku akui bahwa kamu pernah menjadi seseorang yang begitu sangat aku dambakan. Dan satu lagi, cinta yang baik tidak akan pernah terbagi kepada dua hati, kepada dua cinta dengan orang yang berbeda. 

Aku yang setia, aku juga yang terluka. Aku yang selalu berkorban tapi aku juga yang menjadi korban. Jika kamu dengan mudah melepaskan aku, mengapa aku harus bersusah payah dalam merelakanmu? 

Aku mencintaimu seluas aku mengikhlaskanmu. Rasanya baru kemarin kutemui rasa bahagia yang amat sangat, tak pernah terlintas dalam benakku bahwa bahagia begitu cepat lenyap. Bukankah dulu aku yang kamu beri harapan indah tentang masa depan kita? Lantas bagaimana bisa dia yang mewujudkan mimpi itu bersamamu? Aku akan membiarkan luka ini berlalu, dengan semua sakit yang mendera, harap yang melayang, dan pengertian yang sia-sia. Sungguh aku akan biarkan bila memang jalan akhirnya seperti ini. Tapi kamu harus tahu, betapa aku setianya dengan menanti dan memahami semua hari-hari yang kita lewati. Sungguh, kita tidak akan berakhir oleh apapun dan siapapun melainkan hanya karena takdir-Nya. 

Semakin tegar aku menjalaninya semua tanpamu, aku yakin kamu akan bahagia dengannya. Selamat tinggal untuk kisah yang pernah kita lalui.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar