Egois Itu
Pilihanmu, Aku Hanya Sebatas Perantara
Apakah aku selama ini mengekang dirimu? Kamu pernah
bilang, saat kita pertama dekat bahwa kamu tidak suka yang namanya dikekang
atau dilarang apapun itu, dan aku paham bahwa aku juga ingin mendekatimu tidak
untuk mengekangmu. Aku ingin kamu bebas saat bersamaku, begitupun aku. Aku ingin
bebas saat aku bersamamu.
Disaat kita menjalani hubungan kita hanya butuh komitmen
dan saling percaya, dan tidak akan mengekang satu sama lain. Selama ini kamu
aku bebaskan asalkan kamu masih dibatas yang wajar dan kamu tahu kemana kamu
harus pulang. Dulu aku masih menjadi rumahmu. Tetapi sekarang tidak. Aku tidak
pernah melarangmu sedikitpun walaupun kadang itu adalah hal yang tidak aku
sukai.
Aku selalu memberi ruang untuk dirimu, untuk kamu bebas
bersama dengan teman-temanmu hingga akhirnya aku yang merasa terbaikan karena
kamu terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri. Aku tidak pernah melarangmu untuk
melakukan hal kegiatan yang kamu sukai, atau pergi liburan bersama teman
wanitamu. Aku tidak pernah melarangmu sedikitpun.
Hanya saja kadang aku melarangmu itu karena untuk
kebaikan dirimu sendiri. Contohnya, kamu adalah seorang perokok aktif dan aku
tidak menyukainya. Kamu selalu melakukan hal itu di depanku padahal kamu tahu
aku tidak menyukainya. Aku sudah mengingatkan dan melarangmu untuk tidak
melakukan hal itu, tapi kamu selalu mengabaikan perkataanku. Dalam hati aku
sangat marah, ini adalah kebiasaan burukmu. Selebihnya aku tidak pernah
mengekangmu atau melarangmu dalam hal apapun.
Coba jelaskan hal apa yang bisa membuatmu berpikir
aku ini hanya mengekangmu saja? Kamu bercerita ke orang lain seolah-olah aku ini
sudah mengekang dirimu. Aku tidak masalah dengan perkataanmu itu. Aku hanya ingin
tahu hal apa yang pernah kamu lakukan sehingga aku melarangmu selain masalah
rokok ini?
Akhir-akhir ini aku yang selalu rewel untuk minta
bertemu terus menerus tetapi kamu selalu menolak permintaanku. Hingga malam
itu, adalah malam terakhir kebersamaan kita sebelum kamu memutuskan untuk
mengakhiri hubungan ini. Malam itu setelah maghrib aku masih mengingatnya, aku
mengajak kamu untuk kita bertemu dan kamu menolak dengan beralasan kamu sedang
sakit. Akupun memaklumi, kamu sakit kamu hanya butuh istirahat. Karena aku tahu
seharian kamu sibuk, kamu pasti lelah. Dan aku mengerti, aku tidak memaksa
untuk kita bertemu malam itu.
Tetapi ada kejadian dimana kendaraan temanmu hilang,
kamu langsung bergegas untuk membantu mencari kendaraan tersebut bersama
teman-temanmu walau keadaanmu sedang tak sehat. Aku merasa kesal, karena kamu
setiap aku mengajak untuk bertemu kamu selalu menolak. Disaat temanmu butuh
bantuan, kamu langsung bergegas saat itu juga. Aku merasa cemburu karena kamu
lebih memihak ke temanmu dibanding aku yang masih menjadi pacarmu.
Sebenarnya aku tidak melarang kamu ingin membantu
temanmu itu, tetapi kamu bilang kamu sedang tidak sehat dan kamu ingin
istirahat. Tiba-tiba saat kamu mendapatkan kabar temanmu yang sedang seperti itu,
kamu langsung nampak sehat. Kamu membantu mencari sedangkan waktu sudah menunjukkan
pukul 23.00 malam. Angin malam tidak lah baik untuk dirimu. Aku hanya
memikirkan keadaanmu saja. Tetapi kamu masih saja egois.
Mungkin dari sini kamu langsung menilai aku bahwa
aku ini sudah mengekang dirimu berlebihan. Mungkin kamu menilai caraku ini
berlebihan, tetapi aku menilai ini tidak. Alangkah baiknya kamu pikirkan lagi
perkataanmu sebelum berbicara. Aku sangat kesal, dan aku hanya diam saja, aku
tidak ingin ada keributan. Tetapi semakin aku diam, kamu melunjak. Sampai
akhirnya kamu sudah merasa muak dan kamu memutuskan hubungan ini pada malam itu
juga.
Aku tahu kok kamu sakit dan kamu masih bisa bangun,
aku juga tidak bilang kalau kamu itu meninggal. Ya aku tahu kamu sakit bukan
meninggal. Tetapi apa salahnya ketika dirimu butuh istirahat, kamu malah
memaksakan mementingkan hal lain? Aku sarankan sayangi dirimu terlebih dahulu,
baru kamu bisa menyanyangi orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar