Sabtu, 04 Januari 2020

Egois Itu Pilihanmu, Aku Hanya Sebatas Perantara


Egois Itu Pilihanmu, Aku Hanya Sebatas Perantara
  


Apakah aku selama ini mengekang dirimu? Kamu pernah bilang, saat kita pertama dekat bahwa kamu tidak suka yang namanya dikekang atau dilarang apapun itu, dan aku paham bahwa aku juga ingin mendekatimu tidak untuk mengekangmu. Aku ingin kamu bebas saat bersamaku, begitupun aku. Aku ingin bebas saat aku bersamamu. 

Disaat kita menjalani hubungan kita hanya butuh komitmen dan saling percaya, dan tidak akan mengekang satu sama lain. Selama ini kamu aku bebaskan asalkan kamu masih dibatas yang wajar dan kamu tahu kemana kamu harus pulang. Dulu aku masih menjadi rumahmu. Tetapi sekarang tidak. Aku tidak pernah melarangmu sedikitpun walaupun kadang itu adalah hal yang tidak aku sukai. 

Aku selalu memberi ruang untuk dirimu, untuk kamu bebas bersama dengan teman-temanmu hingga akhirnya aku yang merasa terbaikan karena kamu terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri. Aku tidak pernah melarangmu untuk melakukan hal kegiatan yang kamu sukai, atau pergi liburan bersama teman wanitamu. Aku tidak pernah melarangmu sedikitpun. 

Hanya saja kadang aku melarangmu itu karena untuk kebaikan dirimu sendiri. Contohnya, kamu adalah seorang perokok aktif dan aku tidak menyukainya. Kamu selalu melakukan hal itu di depanku padahal kamu tahu aku tidak menyukainya. Aku sudah mengingatkan dan melarangmu untuk tidak melakukan hal itu, tapi kamu selalu mengabaikan perkataanku. Dalam hati aku sangat marah, ini adalah kebiasaan burukmu. Selebihnya aku tidak pernah mengekangmu atau melarangmu dalam hal apapun. 

Coba jelaskan hal apa yang bisa membuatmu berpikir aku ini hanya mengekangmu saja? Kamu bercerita ke orang lain seolah-olah aku ini sudah mengekang dirimu. Aku tidak masalah dengan perkataanmu itu. Aku hanya ingin tahu hal apa yang pernah kamu lakukan sehingga aku melarangmu selain masalah rokok ini? 

Akhir-akhir ini aku yang selalu rewel untuk minta bertemu terus menerus tetapi kamu selalu menolak permintaanku. Hingga malam itu, adalah malam terakhir kebersamaan kita sebelum kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini. Malam itu setelah maghrib aku masih mengingatnya, aku mengajak kamu untuk kita bertemu dan kamu menolak dengan beralasan kamu sedang sakit. Akupun memaklumi, kamu sakit kamu hanya butuh istirahat. Karena aku tahu seharian kamu sibuk, kamu pasti lelah. Dan aku mengerti, aku tidak memaksa untuk kita bertemu malam itu. 

Tetapi ada kejadian dimana kendaraan temanmu hilang, kamu langsung bergegas untuk membantu mencari kendaraan tersebut bersama teman-temanmu walau keadaanmu sedang tak sehat. Aku merasa kesal, karena kamu setiap aku mengajak untuk bertemu kamu selalu menolak. Disaat temanmu butuh bantuan, kamu langsung bergegas saat itu juga. Aku merasa cemburu karena kamu lebih memihak ke temanmu dibanding aku yang masih menjadi pacarmu. 

Sebenarnya aku tidak melarang kamu ingin membantu temanmu itu, tetapi kamu bilang kamu sedang tidak sehat dan kamu ingin istirahat. Tiba-tiba saat kamu mendapatkan kabar temanmu yang sedang seperti itu, kamu langsung nampak sehat. Kamu membantu mencari sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Angin malam tidak lah baik untuk dirimu. Aku hanya memikirkan keadaanmu saja. Tetapi kamu masih saja egois. 

Mungkin dari sini kamu langsung menilai aku bahwa aku ini sudah mengekang dirimu berlebihan. Mungkin kamu menilai caraku ini berlebihan, tetapi aku menilai ini tidak. Alangkah baiknya kamu pikirkan lagi perkataanmu sebelum berbicara. Aku sangat kesal, dan aku hanya diam saja, aku tidak ingin ada keributan. Tetapi semakin aku diam, kamu melunjak. Sampai akhirnya kamu sudah merasa muak dan kamu memutuskan hubungan ini pada malam itu juga. 
Aku tahu kok kamu sakit dan kamu masih bisa bangun, aku juga tidak bilang kalau kamu itu meninggal. Ya aku tahu kamu sakit bukan meninggal. Tetapi apa salahnya ketika dirimu butuh istirahat, kamu malah memaksakan mementingkan hal lain? Aku sarankan sayangi dirimu terlebih dahulu, baru kamu bisa menyanyangi orang lain.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar